oleh

JAKI dan Kesepakatan Baru Untuk Rakyat Dunia 2020

JAKI dan Kesepakatan Baru Untuk Rakyat Dunia 2020. Oleh: Yudi Syamhudi Suyuti, Koordinator Eksekutif JAKI (Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional).

Jika saat ini masyarakat Indian sedang bergerak untuk menuntut Pemerintah Amerika Serikat atas dasar perjanjian Tordesillas dan Zaragoza wilayah Barat. JAKI akan mengevaluasi Tordesillas di wilayah timur untuk kemudian menegosiasi tanpa gugatan, dengan pihak-pihak terkait yang dahulu membuat perjanjian Tordesillas, yaitu Vatikan, Portugis dan Spanyol. Saat itu dalam perjanjian Tordesillas diputuskan wilayah bumi dibagi 2, yaitu barat milik Spanyol dan Timur milik Portugis. Saat itu Cina juga ikut bergabung di belakang kesepakatan tersebut.

Dan wilayah timur atas ekspansi Portugis inilah yang kemudian menjadi kolonisasi di wilayah Nusantara dengan pintu masuknya adalah melalui Maluku. Dari Maluku inilah kemudian terkoneksi dengan wilayah Nusantara lainnya seperti Banten, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan hingga Asia Tenggara. Dan dari Tordesillas lah ekspansi dan ekspedisi para kapitalis ke Nusantara saling menggantikan, dari Portugis, Inggris (EIC /East India Company) lalu VOC Belanda, kemudian Kerajaan Belanda, Jepang, Inggris, Belanda kemudian dihentikan Amerika Serikat mendorong dari belakang untuk menyelesaikan konflik yang ujungnya ada di Konferensi Meja Bundar.

Kenapa Amerika Serikat menghentikan penjajahan fisik Belanda ke Indonesia, selain Amerika Serikat yang di dirikan oleh Spanyol, Belanda dan Inggris, karena Amerika Serikat dalam kemerdekaannya di support oleh Raja dari Nusantara yang mengelola perdagangan rempah-rempah se Nusantara. Supply permodalan tersebut diberikan ke George Washington dengan harapan kemerdekaan Amerika Serikat sekaligus bentuk pembebasan Masyarakat Indian Malay yang merupakan masyarakat pribumi asli.

Baca Juga :  Transformasi Criminal Justice System di Indonesia, Evaluasi Kapolri, Jaksa Agung dan Menkumham
Dari sinilah dunia dibangun, hingga negeri-negeri di Amerika Serikat dan Eropa begitu maju. Itu masa lalu dari sejarah yang memang terjadi kelam. Tapi tentu masa lalu adalah bagian dari perjalanan kehidupan umat manusia.

Namun masa lalu tersebut perlu kita negosiasikan kembali. Kenapa, karena peta Tordesilas tersebut masih menjadi acuan hingga saat ini, termasuk dalam penataan dunia. Dan bagi kami rakyat Indonesia, tidak akan menggugat tetapi kami bersama masyarakat adat tentu ingin mendapatkan hak-hak yang setara. Karena kami telah menyumbang ketertindasan selama 500 tahun, dimana perjanjian Tordesillas tersebut yang beranak seperti Perjanjian Breda, tidak sah. Karena perjanjian-perjanjian tersebut tidak melibatkan masyarakat kami. Sementara dunia maju atas darah dan penderitaan kami.

Baca Juga :  Diduga Palsukan Tanda Tangan Ketum, Eks Sekjen BPP GINSI Dipolisikan

Lalu apa titik tujuan negosiasi ini. Konsensus baru yang berangkat dari rakyat dan masyarakat adat kami, dimana dahulu menjadi objek penjajahan, saat ini sama-sama menjadi subjek keadilan sesama manusia.

Kami sedang rumuskan ini, kami tidak akan menggugat tetapi kami ingin bernegosiasi yang berangkat dari rakyat. Karena Negara Indonesia bahkan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga hasil dari Tordesillas. Dan tentu dasar pergerakan ini adalah tercapainya perdamaian abadi dan solidaritas baru dalam membangun Tatanan Rakyat Masa Depan yang adil. Kembalinya Hak Rakyat seluruh Dunia 2020 !

Loading...

Baca Juga