oleh

Bamsoet: Soal Natuna, China Seharusnya Mencontoh Amerika Serikat

SUARAMERDEKA.ID – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak Pemerintah Amerika Serikat bersama menjaga situasi kondusif keamanan di berbagai belahan dunia. Salah satunya di Semenanjung Korea. Hal ini disampaikan Bamsoet saat menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr, di Ruang Kerja Ketua MPR RI.

Ia memandang, saai ini Korea Selatan dan Korea Utara sudah saling membuka diri. Di Asian Games 2018 lalu yang diadakan di Jakarta, Korea Selatan dan Korea Utara bisa bersatu dibawah bendera Unifikasi Korea di tiga cabang olahraga, yakni Kano, Dayung, dan Basket. Langkah baik tersebut harus disambut dan didukung berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Reunifikasi Korea akan membuat Asia Timur semakin damai.

Menurutnya, tidak hanya di Asia Timur, ketegangan yang beberapa waktu lalu terjadi di Asia Tenggara. Hal ini terkait sikap China yang tak menghormati keputusan UNCLOS 1982 di Laut Natuna. Masalah ini juga perlu mendapat perhatian serius dari Amerika yang memiliki Hak Veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB. Bamsoet berharap sikap Amerika Serikat yang menghormati kedaulatan Indonesia seharusnya juga dicontoh China.

“Ketidakpatuhan China terhadap hukum UNCLOS 1982 yang membuat ketegangan antara China dengan Indonesia di Laut Natuna, maupun China dengan Malaysia, Filipina, dan juga Vietnam, di masing-masing perairan mereka, tak boleh dibiarkan karena bisa membuat preseden buruk di kemudian hari,” ujar Bamsoet, Senin (20/1/2020).

Baca Juga :  Karhutla, Ketua DPR Himbau Jalankan Kembali PP 45 Tahun 2004

Turut hadir Deputy Political Counselor Kedutaan Besar Amerika Serikat, Steven Weston, dan Political Specialist Kedutaan Besar Amerika Serikat, Arfa Mahardika.

Mantan Ketua DPR RI 2014-2019 ini menekankan, walaupun antara Indonesia dengan Amerika Serikat memiliki perbedaan pandangan terkait berbagai situasi geopolitik internasional, seperti situasi di Iran dan Palestina, namun perbedaan tersebut jangan sampai mengganggu hubungan baik kedua negara yang telah terjalin erat sejak tahun 1949. Kedua negara harus tetap saling menghormati dan menghargai pandangannya masing-masing, dengan tetap membuka ruang dialog untuk mencari solusi terbaik dalam mewujudkan dunia yang lebih aman dan damai. (AMN)

Loading...

Baca Juga