oleh

Konsolidasi Kaum Aktivis dan Pergerakan Untuk Kedaulatan Rakyat 100%. Opini Yudi Syamhudi Suyuti

Konsolidasi Kaum Aktivis dan Pergerakan Untuk Kedaulatan Rakyat 100%. Oleh: Yudi Syamhudi Suyuti, Aktivis, Tahanan Politik, Koordinator JAKI (Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional), Ketua Umum Front Kekuatan Rakyat, Ketua I UNWCI Indonesia, Koordinator Utama UNPA Campaign Indonesia.

Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh

Salam sejahtera saudara-saudara yang baik hati. Sudah lama saya tidak menyapa saudara-saudara seperjuangan, khususnya kaum aktivis dan pergerakan.

Meski saat ini saya sedang didalam tahanan atas tuduhan makar, tetapi saya tidak ingin membahas kasus saya. Karena bagi saya, membahas kasus saya seolah merengek-rengek untuk dikasihani. Walaupun begitu saya tetap berharap doa dan dukungan dari saudara-saudara sekalian. Semoga saya bisa kembali keluar dan kembali kedunia pergerakan dan aktivis untuk meneruskan perjuangan tercapainya kedaulatan rakyat 100% di republik Indonesia yang kita cintai ini.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak saudara-saudari kaum aktivis dan pergerakan kembali aktif, kritis dan tetap progresif. Oleh karena itu, diperlukan kembali untuk membangun solidaritas, kesadaran sosial dan kesadaran naional. dan tetap dalam platform perjuangan tercapainya kedudukan rakyat sebagai pemilik negara.

Baca Juga :  Mengapa Elektabilitas Jokowi Terus Turun?

Dan untuk tercapai cita-cita platform tersebut, kita sebagai kaum aktivis dan pergerakan yang terbiasa dengan sudut pandang anti mainstream, namun ketulusan dan kejujuran dibandingkan para elit olgarki yang korup dan munafik. Yang saya sebut sebagai kawanan tikus perusak negara dan pembunuh keadilan.

Padahal, suka tidak suka, bagaimanapun liarnya cara berfikir dan membangun gerakan politik, justru selalu kaum aktivis dan pergerakan menjadi penentu kemana arah dan tujuan diputuskan.

Melalui demookrasi, hak asasi manusia dankeadilan sosial, kaum kativis dan pergerakan mampu membangun kerangka tatanan rakyat dan negara serta kebangsaan dalam koridor kemannusiaan. Termasuk didalamnya terdapat perjuangan hak asasi bangsa.

Oleh karena itu, sudah saatnya kaum aktivis dan pergerakan mengambil peran penting dalam pencapaian perubahan nasional, yang tidak lagi dalam tataran sektoral, melainkan melalui gerakan yang bersifat fundamental.

Jika kita semua tidak ingin Republik Indonesia bubar, maka tidak ada cara lain, kaum aktivis dan pergerakan kembali bangkit untuk menempatkan posisi politik sebagai utusan-utusan rakyat. Dan harus siap untuk berada di posisi sentral pengambil keputusan negara.

Bagaimana caranya, ini adalah pekerjaan rumah kita bersama. Baik dijadikan melalui politik formal maupun politik informal.

Baca Juga :  Sidang Pertama Yudi Negara Rakyat Nusantara Ditunda, Diduga Karena Koordinasi Berantakan

Sudah saatnya, bagi kaum aktivis dan pergerakan dari kelompok nasional, internasionalis, kaum tradisional dan kelompok agamis kembali berkonsolidasi untuk menentukan arah tujuan rakyat, negara dan bangsa Indonesia ditingkat lokal, nasional dan global.

Pembukaan UUD45 dan proklamasi kemerdekaan 1945 menjadi sejarah perjuangan kaum aktivis dan pergerakan dalam menentukan sikap politisnya yang menghasilkan berdirinya Republik Indonesia.

Sejarah ini harus kita rekonstruksikembali dengan sebuah rekonsiliasi sejarah untuk menentukan sikap Negara Kesatuan Republik Indonesia agar dapat benar-benar dimiliki oleh rakyat. Dengan perjuangan sesuai konteks jaman mutakhir kekinian. Saatnya kaum aktivis dan pergerakan juga bersikap sebagai negarawan. Akan tetapi negarawan kerakyatan.

Sehingga cita-cita kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, tidak lagi menjadi utopis. Melainkan menjadi realita kongkrit tercapainya kedaulatan rakyat 100% sebagai tatanan rakyat dan negara di dunia baru di Indonesia.

Wassalam. Allahu Akbar!

Jakarta, 2 Maret 2020

Rumah Tahanan Bareskrim Polri

Yudi Syamhudi Suyuti,

Loading...

Baca Juga