oleh

Untuk Siapa? Pindah IKN Berlanjut di Tengah Pandemi Corona

Untuk siapa? Pindah IKN Berlanjut Di Tengah Pandemi Corona.

Oleh : Yuliana (Praktisi Pendidikan & Aktivis Dakwah Balikpapan)

Ketua DPP PKS Aboe Bakar Al-Habsy menganggap aneh rencana pemerintah membuka rekening khusus untuk menampung donasi dari pelaku usaha guna membantu penanganan wabah virus corona. “Langkah ini seolah menjadi bukti pemerintah gagap dalam penanganan corona.” Kata Aboe, jum’at (27/3). Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) itu menilai pemerintah bekerja seperti lembaga sosial atau non-goverment organization (NGO) yang membuka donasi dari masyarakat. Padahal kata dia, selama ini pemerintah atas nama negara sudah memungut cukai dan pajak dari masyarakat.

Aboe juga menilai keanehan lain adalah pemerintah yang masih ngotot untuk memindahkan ibu kota negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. “ Tentu ini mengundang tanya bagi rakyat, kenapa anggaran untuk pindah ibukota ada, sedangkan untuk penanganan wabah corona harus saweran dari rakyat.” ujarnya (Gelora.co, Sab’tu, 28/03/2020)

Bisa dibayangkan berita diatas, sudah berapa banyak kebijakan-kebijakan yang membuat kita hanya bisa menari mengkuti nyanyian-nyanyian ajaib negeri ini. Sadar atau tidak sadar selama ini kita selalu disuguhkan kebijakan  penguasa yang tak mampu menyelesaikan setiap problematika kehidupan umat. Bahkan ditengah kondisi yang memilukan hari ini, kebijakan itupun mengesampingkan kesejahteraan dan keselamatan rakyat dalam menghadapi  virus covid-19.

Lebih mengejutkan kebijakan itupun membuat kita bertanya-tanya, ada apa gerangan di balik tetap berlanjutnya pindah ibukota dalam kondisi yang sangat mengkhwatirkan. Kenapa dana untuk mengkarantina rakyat dan memenuhi perlengkapan tenaga medis yang sedang bertaruh nyawa tidak digelontorkan?, namun begitu mudah mengelontorkan dana demi pindah IKN. Tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menghentikan laju penyebaran virus ini sangat aneh dan tidak tepat. Karena pada akhirnya segala sesuatu yang berkaitan dengan kemaslahatan dan kesehatan, rakyatlah yang harus menanggungnya sendiri.

Baca Juga :  Ibu Kota Baru di Tanah Prabowo, Sebuah Opini Dimas Huda

Kita bisa melihat dari kebijakan tersebut, sangat mengesankan di negeri tercinta ini perpindahan ibukota bisa lebih penting daripada nyawa yang sedang terancam. Ini membuktikan bahwa negeri kita saat ini sedang di jajah asing, penguasa hanya sebagai penyambung antara rakyat dan pengusaha. Sehingga wajar jika kebijakan di keluarkan hanya demi keuntungan pengusaha-pengusaha, baik pengusaha lokal maupun asing. Hadirnya wabah ini semakin membuka mata kita, bahwa permainan kebijakan di negeri ini sudah sangat transparan dan mulai terbongkar.

Kita tahu sejatinya pindahnya ibukota bukan untuk kepentingan rakyat atau kesejahteraan negeri ini. Tapi dalam rangka mempercepat asing menguasai wilayah produktif kalimantan, maka dalam kondisi apapun anggaran terus berjalan demi segeranya pindah Ibukota. Tak lupa juga bahwa negeri kita memang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, yang selalu mementingkan keuntungan di atas segalanya. Pandangan kapitalisme yang bercokol di negeri ini, semkain memperlihatkan ketidakmanusiaannya, dalam kondisi apapun hingga urusan nyawa sekalipun, kerja dan keuntungan tetap number one.  Maka semakin jelaslah bahwa kebijakan yang salah prioritas ini akibat kebijakan pemerintah yang kapitalistik.

Di negeri yang bertuhan ini, realitas memang menunjukkan kita abai dari aturan tuhan, Allah Azza Wa Jalla. Tapi bagi kita yang muslim menyadari betul, bahwa tak ada kata terlambat untuk bertaubat kepada-Nya selama nafas masih di raga. Maka sudah selayaknya sembari kita bertaubat atas kemaksiatan yang kita lakukan, kita juga wajib mengambil solusi dari-Nya atas setiap permasalahan dan ujian yang menimpa kita dan negeri kita.

Dalam pandangan islam musibah sekecil apapun yang menimpa negara tidak akan disepelekan apalagi jika menyangkut nyawa manusia. “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An-nasai dan At-Tirmidzi) Sedangkan dalam musibah penyebaran wabah covid-19 hari ini, jauh sebelumnya, musibah semacam ini juga pernah terjadi dalam Daulah Islam di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.

Baca Juga :  Saya Ini Menko, Kekuasaan Saya Besar, Kalian Mau Apa? Opini Asyari Usman

Sebagaimana sabda Rasul dari Usamah bin Zaid “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabad di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu….” (HR.Al-Bukhari)

Setelah mendengar sabda rasul tersebut Umar bin Khattab langsung mengambil kebijakan tegas untuk segera mengkarantina rakyatnya di wilayah yang terjangkit wabah. negara menjalankan fungsi pelayanannya, menjamin pengobatannya secara gratis, memaksimalkan sarana dan prasarana rumah sakit juga tidak lupa melakukan penelitian untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Negara juga memastikan kebutuhan pangan rakyatnya. Jelaslah ketika wabah di isolasi hanya di tempat munculnya tidak akan menyebar masif ke wilayah lain dan negara tidak perlu melokdown seluruh wilayah yang bisa mengakibatkan kejumudan rakyat dan melumpuhkan perekonomiannya.

Itulah solusi praktis islam dalam menghadapi wabah. Menyadari kesempurnaan islam adalah kewajiban kita sebagai muslim. Sebab kita sebagai muslim Allah Azza wa jalla istimewakan dengan pujian umat terbaik jika kita hendak menyampaikan kebaikan dan kebenaran islam. “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan beriman kepada Allah, sekiranya ahli kibat beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang berimana dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali-Imran ayat 110). Maka sudah saatnya kita raih pujian umat terbaik itu dengan sama-sama melakukan amar makruf nahi mungkar. Wallahu ‘alam bi sawwab

Loading...

Baca Juga