oleh

PP Muhammadiyah Sebut Pertimbangan Pergantian Rektor UM Sorong Adalah Regenerasi

SUARAMERDEKA.ID – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyebut pertimbangan utama pada pergantian rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Sorong Papua Barat adalah regenerasi. Pergantian kepemimpinan adalah hal yang wajar untuk menegakkan sistem yang demokratis demi kemajuan perguruan Muhammadiyah sendiri.

Hal ini dikatakan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto menanggapi aksi penolakan Surat Keputusan Pergantian Rektor UM Sorong yang dilakukan oleh civitas akademika hingga berujung pada pemalangan pintu gerbang kampus oleh masyarakat adat Sorong. Ia mengakui terjadi miskomunikasi dalam mekanisme demokrasi pergantian jabatan rektor UM Sorong periode 2020-2024. Ia pun menjelaskan bahwa PP Muhammadiyah punya pertimbangan dan mekanisme pemilihan rektor yang harus ditaati.

“Muhammadiyah punya mekanisme untuk pemilihan rektor. Yang pertama senat universitas memintakan rekomendasi dari PW (pimpinan wilayah-red) Muhammadiyah untuk calon-calon yang akan diusulkan menjadi rektor. Dari rekomendasi tersebut kemudian senat melakukan pemilihan untuk calon rektor. Diantara yang dipilih itu, 3 suara diusulkan ke PP tanpa menyebut jumlah suara,” kata Agung Danarto melalui percakapan selular, Minggu (19/4/2020) malam.

Ia menekankan, ketentuan yang ada mengharuskan ada 3 nama calon yang diusulkan, tidak boleh calon tunggal. Dari 3 nama yang diusulkan, PP Muhammadiyah akan menentukan siapa yang akan dipilih menjadi rektor.

Karenanya, ia membenarkan pihaknya pernah mengembalikan berkas dari UM Sorong. Karena dalam berkas yang pertama, senat universitas mengajukan calon tunggal, yakni Hermanto Suaib. PP Muhammadiyah meminta agar ada 3 nama calon yang diusulkan, tanpa menyebut jumlah suara.

“Itu yang pertama. Sehingga karenanya, calon tunggal itu menyalahi mekanisme kita. Makanya kita kembalikan untuk dipilih ulang, untuk dikirim 3 dan itupun tanpa menyebut berapa jumlah suara masing-masing,” ujar Agung Danarto.

Baca Juga :  Ketua Senat UMS Sorong: Pemalangan Gerbang Kampus Adalah Preseden Buruk Bagi Muhammadiyah

Sekretaris PP Muhammadiyah ini kemudian menyebut pertimbangan lain yang ada dalam kaidah perguruan Muhammadiyah. Ia menjelaskan, regenerasi adalah hal yang mutlak dibutuhkan untuk kemajuan suatu organisasi atau insitusi.

“Yang kedua, dalam kaidah perguruan tinggi Muhammadiyah, rektor itu masa jabatannya maksimal 2 periode. Pak Hermanto, ini sudah 3 periode. Bahkan kalau dihitung dari dulu, sebelum namanya jadi UMS Sorong, itu kan namanya Al Amin, kalau dihitung dari itu, sudah 22 tahun. Sehingga berdasarkan pertimbangan itu, regenerasi mutlak diperlukan,” tuturnya.

Agung Danarto menambahkan, pada pergantian rektor UM Sorong yang menjadi pertimbangan utama adalah murni karena regenerasi . Ia menegaskan, PP Muhammadiyah sangat menghargai dan berterimakasih atas perjuangan dan dedikasi Hermanto Suaib dalam memajukan perguruan Muhammadiyah, khususnya UM Sorong.

“Bukan berarti pak Hermanto tidak baik, prestasinya banyak, bagus. Tetapi karena regulasi yang ada kita mengharuskan ada pergantian rektor. Terkait dengan regenerasi. Kalau sudah 22 tahun jadi rektor kan nanti berat untuk pengembangan berikutnya,” jelas Agung Danarto.

Menanggapi penolakan yang dilakukan oleh mahasiswa, civitas akademika bahkan melebar ke pemalangan oleh Dewan adat setempat, ia mengakui dibutuhkan komunikasi yang lebih intens. Agung Danarto mengaku, saat ini berbagai langkah mulai dilakukan oleh perguruan Muhammadiyah untuk melakukan pendekatan ke semua pihak.

“Ya ini nanti kan perlu pendekatan ke banyak pihak, termasuk harus menjelaskan juga ke semuanya. Bahwa sebenarnya yang terjadi adalah seperti itu. Kan semuanya perlu difahamkan. Sehingga baik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, UM Sorong, termasuk rektor baru, ini kan sedang roadshow ke pemerintah, tokoh masyarakat dan lain sebagainya dalam rangka untuk memahamkan. Ini loh mekanisme yang dimiliki oleh Muhammadiyah,” kata Agung Danarto.

Baca Juga :  Angki Dimara: Muhammadiyah Silahkan Angkat Kaki Dari Tanah Papua

Menurutnya, untuk menentukan nama yang dipilih dalam pergantian rektor UM Sorong ini, PP Muhammadiyah juga sudah mempertimbangkan karakteristik masyarakat setempat. Agung Danarto menyebut, dipilihnya Muhammad Ali sebagai rektor baru, diantaranya justru untuk menyesuaikan itu.

“Mengenai karakter orang Papua, PP Muhammadiyah sudah memikirkan hal tersebut. Kalau pak Ali ini mestinya tidak apa-apa. Karena pak Ali ini orang dekatnya pak Hermanto dan dari etnis yang sama. Beliau juga wakil rektor 1,” ujarnya.

Sekretaris PP Muhammadiyah ini berharap, semua pihak untuk tenang dan membuka pemikiran baru untuk kebaikan bersama. Ia menekankan, mekanisme yang ada di perguruan Muhammadiyah bertujuan untuk kemajuan bersama. Agung Danarto menyadari, diperlukan pembiasaan untuk menjalankan sistem demokrasi yang baik.

“Kalau ingin maju, ya harus membiasakan proses yang demokratis. Bahwa pergantian kepemimpinan itu sesuatu hal yang biasa, sesuatu hal yang wajar. Dan orang itu kepemimpinan itu berganti dengan sesuai prosedur, tidak terlalu lama dan lain sebagainya. Itu nanti proses menuju ke kemajuan itu lebih bagus dari orang yang sekian lama menjabat, menduduki satu posisi tertentu. Saya kira itu yang penting bagi masyarakat Papua untuk memahami,” tutup Agung Danarto. (OSY)

Loading...

Baca Juga