oleh

Seruan Damai Dengan Corona, Akankah Berguna? Opini Lili Agustiani

Seruan Damai Dengan Corona, Akankah Berguna? Oleh: Lili Agustiani S Pd, Pemerhati Sosial Ekonomi.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) yang belum lama ini baru genap dua bulan di Indonesia.

Pernyataan Jokowi pun lantas menjadi sorotan di media sosial, lantaran hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.

Kala itu, Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerja sama melawan Covid-19, terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti virus dan juga obat Covid-19. Bahasa Jokowi kala itu, ‘peperangan’ melawan Covid-19.

Pengamat komunikasi politik, Kunto Adi Wibowo, pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad melihat pemerintahan Jokowi memang kerap memilih diksi dan permainan kata yang cenderung membingungkan masyarakat. Selanjutnya, diksi itu kemudian disiratkan dalam kebijakan pemerintahan yang terkesan tak seirama.

Terpisah, Analis Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah menilai selama ini penanganan Covid-19 oleh pemerintah cenderung lemah dari sisi perencanaan. Jokowi sudah terlampau memberi kesan inkosisten dalam membuat kebijakan. Sehingga, hal tersebut malah berisiko memperparah ketidakpercayaan publik (distrust) terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan pemerintah (cnnindonesia.com)

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Politikus PKS itu melihat pemerintah tidak serius memutus penyebaran Covid-19. Pasalnya, anggaran di Kemenristek tidak mengalami penambahan, bahkan dipotong besar-besaran. Padahal, riset sangat dibutuhkan untuk menemukan vaksin Covid-19 sebagai cara efektif untuk menyelesaikan darurat kesehatan bencana nasional Covid-19.

Perpres 54/2020 yang justru memotong anggaran Kemenristekdikti sebesar Rp 40 Triliun. Dan itu adalah presentasi potongan anggaran terbesar, dibanding dengan pemotongan di Kementrian lainnya.

“Saya khawatir Indonesia terlambat dalam menemukan vaksin Covid-19, yang mengakibatkan semakin banyaknya korban yang jatuh akibat Covid-19, korban kesehatan fisik, ekonomi, sosial, keamanan,” ujarnya.

Baca Juga :  Banyuwangi Pasang 14 Wastafel Portabel Penunjang Hidup Sehat

Lebih lanjut, ia mencemaskan ketidakseriusan Pemerintah ini sebagai tanda rakyat disuruh cari selamat sendiri tanpa keseriusan Pemerintah. Menurutnya, hal ini akan tercatat sebagai preseden buruk dalam sejarah bangsa (tribunnews.com).

Tidak bisa dipungkiri dan dihindari, sejak wabah corona melanda Dunia khususnya Indonesia tercatat roda perekonomian menurun drastis. Bahkan beberapa pakar ekonomi menilai ini adalah krisis terparah dibandingkan tahun 1998 lalu.

Terbukti sejak dua bulan yang lalu terlebih saat PSBB diterapkan angka pengangguran meningkat, PHK besar-besaran dari berbagai perusahaan, banyaknya pengusaha gulung tikar, hingga menyebabkan angka kemiskinan meningkat.

Pidato presiden bukan berarti tidak bermakna. Ada pesan tersirat didalamnya karena melihat fakta yang ada. Jika PSBB diperpanjang sampai ditemukannya antivirus Covid-19 maka ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan dari beberapa pakar epidemiologis memperkirakan waktu penemuan itu bisa memakan waktu maksimal 2 tahun.

Dua bulan saja keadaan ekonomi dalam negeri telah memperlihatkan kelemahannya, bisa dibayangkan jika menunggu sampai antivirus Covid-19 ditemukan. Maka wajar saja jika presiden berubah haluan yang tadinya ingin berperang sekarang mengambil langkah untuk berdamai. Akankah seruan ini berguna bagi rakyat?

Artinya masyarakat harus siap berhadapan dengan virus Covid-19 agar roda perekonomian Negara bisa berjalan kembali. Masyarakat harus mempersiapkan imun yang kuat agar bisa bertahan hidup, rakyat dibiarkan berjuang sendiri tanpa ada perhatian dari penguasa.

Saat ini sistem ekonomi kapitalis hanya mempunyai dua pilihan, yaitu melakukan PSBB sampai antivirus Covid-19 ditemukan atau mengembalikan roda perekonomian normal kembali dengan catatan masyarakat siap menghadapi virus Covid-19.

Jika kedepannya pemerintah tetap memberlakukan untuk berdamai dengan virus Covid-19 maka inilah wajah sebenarnya dari sistem ekonomi kapitalisme. Karena pada dasarnya sistem kapitalisme tidak akan pernah berpihak kepada rakyat. Masyarakat akan selalu menjadi korban atas ketidakadilan. Prioritas utama sistem ini selalu kembali menguntungkan para pemilik modal sekalipun nyawa rakyat taruhannya.

Baca Juga :  Memahami Visi Indonesia, Presiden Ir. H. Joko Widodo 2019-2024 (9)

Kaum muslimin sebelumnya juga pernah menghadapi wabah yang lebih dahsyat seperti saat ini, dan pada saat itu terbukti kaum muslimin bisa melaluinya dengan baik dan optimal, sekalipun tidak begitu mengedepankan perhitungan ekonomi, artinya tidak terhitung berapa banyak uang yang harus dikeluarkan.

Mekanisme pemenuhan kebutuhan pokok rakyat di kala musibah sebuah komparasi antara potret kegagalan negara hari ini. Jika dibandingkan dengan keberhasilan di dalam peradaban Islam, sebuah buku yang berjudul The Great leader of Umar Bin Khattab berkisah tentang kehidupan dan kepemimpinan khalifah kedua yang mengungkap tindakan sebagai kepala negara saat terjadi krisis di dalam Negara tersebut.

Ketika terjadi krisis, Khalifah Umar sebagai kepala Negara tampil memberi contoh terbaik. Dengan cara berhemat dan bergaya hidup sangat sederhana bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya.

Memenuhi kebutuhan pokok rakyat jangan sampai ada yang mati kelaparan, menangguhkan pembayaran zakat hingga tahun berikutnya, meberikan keringan terhadap pencuri makanan yang sekedar memenuhi perutnya, meminta bantuan hanya dalam lingkungan wilayah kekhilafahan, dan paling terpenting Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT agar bencana segera berlalu.

Kesempurnaan aturan Islam yang berasal dari Alquran dan As-sunnah dalam mengatur politik dan ekonomi Negara membuat khalifah tidak planga plongo dalam mengambil keputusan. Keunggulan sistem keuangan Negara Baitul Mal juga tidak diragukan lagi dalam menyediakan pembiayaan Negara.

Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kaum muslimin dalam menghadapi musibah pandemic covid 19 ini. Semoga Allah segera mengangkat tentara ini dari kita semua dan semoga kita semua memahami hikmah yang diberikan Allah dibalik bencana ini. Wallahua’lam bishowab

Loading...

Baca Juga