oleh

Kontribusi Tak Lagi Dihargai, Tenaga Medis Minim Proteksi Imbas Kapitalisasi

Kontribusi Tak Lagi Dihargai, Tenaga Medis Minim Proteksi Imbas Kapitalisasi. Oleh: Arifah Azkia N.H, Aktivis Mahasiwi Surabaya.

Semakin banyak korban tenaga medis yang gugur saat menangani wabah, tidak mendapat perhatian memadai. Alih-alih di tengah wabah virus corona atau Covid-19, ratusan tenaga medis dipecat. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni sebanyak 109 orang karena melakukan mogok kerja sejak Jumat (15/5/2020) lalu. Tercatat jumlah data di RSUD Ogan Ilir.

Apalagi menanggapi hal ini berdasarkan jumlah tenaga medis, salah satunya dokter di Indonesia masih sangat sedikit, yakni 200 ribu orang. Begitupun dengan dokter paru yang hanya 1.976 orang. Artinya satu orang dokter paru harus melayani 245 ribu WNI. Sehingga apabila negri ini kehilangan resesi para pejuang garda terdepan tenaga medis, maka akan sangat berimbas terpuruk akan nasib negri dan kondisi rakyat terdampak.

Jangankan memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi agar pasien covid tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial jg tidak diberikan. Terbukti rezim sendiri yang malah melanggar kebijakan yang diberlakukannya, mulai dari pemerintah gelar konser ditengah pandemi, mal-mal masih terbuka lebar hanya sebagian yang di tutup, hingga PSBB yang masih belum berimbas terhadap penurunan jumlah kasus terdampak. Sehingga dapat dikatakan sangat minimnya perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi yang dapat meredam jumlah pasien yang semakin signifikan. Disisi lain, dengan melonjaknya jumlah pasien, pemerintah kurang adanya perhatian proteksi yang di berikan kepada tenaga medis. Minimnya ADP dan fasilitas kesehatan menjadi pemicu mudahnya terserang wabah Covid-19 tak terkecuali bagi para tenanga medis yang terkungkung dalam lingkup lingkaran wabah.

Akan tetapi alih-alih masalah ini terselesaikan dengan baik, tak sedikit tenaga medis yang malah tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yang dirumahkan karena RS daerah kesulitan dana.

Dilansir tempo.co, Anitha yang merupakan seorang perawat mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif. Namun menurut Anitha, para perawat sangat memerlukan insentif itu, terlebih mereka yang mendapatkan pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri. “Banyak teman-teman yang di RS swasta yang memberikan kabar enggak dapat THR,” kata Anitha.

Janji tunjangan yang di berikan pemerintah yang tak kunjung cair, ternyata juga menjadi problem karna tak semua mendapatkan dana insentif tersebut. Padahal tak sedikit para tenaga medis dan relawan yang rela menjadi garda terdepan demi jiwa yang lain dan mengorbankan dirinya serta hubungan dengan keluarga yang semakin terbatasi. Waktu, tenaga dan daya ia curahkan untuk menangani pasien terdampak wabah pandemi.

Parahnya, di lain sisi seorang perawat Jadi Garda Terdepan Perangi Covid-19, Gaji dan THR Perawat hononer malah di potong hingga insentif tunjangan tak diberikan atau hanya ucapan terimakasih.

Baca Juga :  Dinsos Kapuas Semarakkan Pawai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H

Sedangkan tak sedikit para dokter yang berguguran di saat berjuang memberikan pelayanan penanganan malah minim jaminan dan perlindungan pemerintah. Banyak hal melatar belakangi ini. Salah satunya adalah kelangkaan APD (Alat Pelindung Diri) yang dipakai oleh dokter. Alhasil mereka memakai APD seadanya. Jas hujan murah berbahan kantong kresek, masker kain yang tidak standar dan tanpa memakai google, hingga mereka membuat google dari mika. Ini menjadi salah satu sebab meninggalnya mereka. Karena alat perlindungan diri tidak mereka dapati. Negara minim proteksi dan tidak memberikan jaminan fasilitas.

Pahlawan berjas putih yang terikat sumpah sejatinya telah menolong dengan sukarela. Mereka berjibaku menyelamatkan pasien, kadang kurang tidur, haus tak bisa minum, bahkan telat makan. Harusnya apresiasi luar biasa diberikan kepada dokter yang menjadi garda terakhir penanganan Covid-19, juga kepada dokter yang tetap praktek mengobati pasien non Covid, namun juga ikut terpapar corona.

Tetapi faktanya, Rezim abai dan tak segan para tenaga kerja medis malah di pulangkan dan hak mereka tidak segera di tuntaskan. Tak ayal jika pada akhirnya memang banyak tenaga medis yang mengeluh, kecewa bahkan marah dengan tindak lamban rezim yang malah membuat boomerang dalam segala aspek sehingga terjadi pembangkangan rakyat untuk tidak patuh terhadap aturan penguasa yang disebabkan imbas penguasa sendiri yang acuh terhadap problematika rakyatnya.

Bagaimana Islam Memperlakukan Tenaga Medis Pejuang Wabah

Di dalam islam, jangankah gugurnya para tenaga medis, nyawa seorang muslim saja begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Berkaca pada sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan dan ditanggung sepenuhnya oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin dalam islam senantiasa di sandarkan pada hukum syara’ yakni pemimpim adalah pelayan rakyat.

Tengok bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit untuk memberikan makanan dan asupan gizi terbaik untuk para pasien yang sakit, gizi dan jaminan di rumah sakit sangat di perhatikan dalam sistem islam, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Baca Juga :  Ada 3 Oknum Aktor Negara Yang Terindikasi Dalam Kejahatan Kemanusiaan dan Agresi 21-22

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahu 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan di tengah-tengah pemikiran dan perasaan yang di sandarkan pada aturan syara’. Nabi SAW bersabda bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana. Sehingga mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi. Dan sehingga yang menjadi tumpuan harapan adalah semata keridhoan Allah dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Karna negara telah menjamin kebutuhan rakyatnya begitu pula masalah kesehatan dan tenaga medis di dalamnya.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan.

Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Mindset menjaga nyawa telah menjadikan penguasa di era keemasan untuk menjaga aset tenaga medisnya. Sehingga dapat dipastikan sarana perlindungan diri seperti APD akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Sungguh tenaga medis yang menjadi garda terdepan berdiri tegak menangani wabah yang tak ayal nyawa menjadi taruhannya, adalah suatu tindak mulia layaknya mujahid yang dengan gagah memerangi musuh dan melindungi tertumpahnya jiwa dari yang lainnya, maka sudah selayaknya kita memuliakan dan memberi penghargaan atas korban & jasa nya. Dan ketika mereka berhasil menyelamatkan nyawa manusia, kita pun mendapatkan pahalanya, tanpa mengurangi pahala mereka.

Loading...

Baca Juga