oleh

Sudah Siapkah Indonesia dengan New Normal Life? Opini Yanyan S

Sudah Siapkah Indonesia dengan New Normal Life? Oleh: Yanyan Supiyanti A.Md, Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK.

Istilah new normal mengacu pada perubahan perilaku manusia setelah wabah virus Corona dengan menerapkan protokol pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Sementara itu di dunia bisnis dan ekonomi, new normal sebenarnya mengacu pada kondisi keuangan setelah krisis keuangan pada 2007-2008, resesi global 2008-2012, dan kini saat wabah virus Corona.

Negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memenuhi beberapa ketentuan yang telah ditetapkan WHO, yakni :

1. Negara yang akan menerapkan konsep new normal harus mempunyai bukti bahwa transmisi virus Corona mampu dikendalikan.

2. Negara harus punya kapasitas sistem kesehatan masyarakat yang mumpuni, termasuk mempunyai rumah sakit untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengarantina pasien Covid-19.

3. Risiko penularan wabah harus diminimalisir terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi. Termasuk di panti jompo, fasilitas kesehatan, dan tempat keramaian.

4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja harus ditetapkan, seperti physical distancing, fasilitas mencuci tangan, etiket batuk dan bersin, dan protokol pencegahan lainnya.

5. Risiko penularan impor dari wilayah lain harus dipantau dan diperhatikan dengan ketat.

6. Masyarakat harus dilibatkan untuk memberi masukan, berpendapat, dalam proses masa transisi new normal.

Keenam syarat tersebut harus dipenuhi oleh setiap negara yang akan menerapkan konsep new normal. Apakah Indonesia sudah siap dengan konsep New Normal Life tersebut?

Ajakan Presiden Joko Widodo untuk menjalankan kehidupan new normal, sebaiknya direspon dengan panduan program yang jelas. Jika tidak, sangat berpotensi Indonesia mwngalami kegagalan sosial. (Wartaekonomi.co.id, 24/5/2020)

Dilansir oleh Merdeka.com, 25/5/2020, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari. Menurut dia, ada prasyarat yang harus dipenuhi jika ingin melakukan new normal pada umumnya, yaitu : pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus. Kedua, sudah dilakukan optimisasi PSBB. Ketiga, masyarakatnya sudah memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal.

Baca Juga :  KUPP Nabire Antisipasi Lonjakan Arus Mudik Natal dan Tahun Baru

Pemerintah sudah merilis beberapa skenario new normal life untuk pekerja (PNS, BUMN, dan Perusahaan). Semua upaya menormalkan kondisi ekonomi, tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan. Namun pemerintah belum memahami peta jalan new normal, hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menjadi masalah baru. Yakni bertujuan membangkitkan ekonomi, akan tetapi membahayakan manusia. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang kedua mengintai di depan mata. Miris.

New normal bermakna membiarkan rakyat menanggung segala beban sendiri, beban kesehatan, ekonomi serta ancaman paparan virus. Inilah bukti pemerintah semakin berlepas tangan dari tanggung jawab mengurusi rakyat.

Semakin tampak wajah bobrok sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini. Pemerintah hanya berpihak pada korporasi, hingga nyawa manusia tak lebih berarti daripada ekonomi. Indonesia dan dunia harus segera diselamatkan. Bukan hanya dari keganasan pandemi, tapi juga dari keberingasan sistem kapitalisme.

Sistem yang mampu menyelamatkan hanyalah yang berasal dari Sang Penguasa hakiki, Allah Swt. Itulah Islam, sistem yang paripurna dimana pemimpin hadir untuk mengurusi rakyatnya. Pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Yang akan memberi keberkahan bagi Indonesia dan alam semesta.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai khilafah, senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Fakta akan hal ini akan tampak saat negara dalam keadaan ditimpa kesulitan. Baik karena bencana maupun karena serangan musuh-musuhnya. Di situasi seperti ini, kekuasaan selalu tampil sebagai perisai utama. Dimana penguasa siap membela rakyat dan mendahulukan kepentingan-kepentingan mereka dibanding kepentingan dirinya.

Tak heran jika benih-benih peradaban cemerlang bermunculan demi memberi jalan keluar terhadap berbagai persoalan. Berbagai penelitian, teknologi, sistem administrasi, pembangunan superstruktur dan infrastruktur, semua didedikasikan khilafah Islam untuk kepentingan mengurus dan menjaga umat serta demi kemuliaan agama mereka. Bukan demi memuaskan kerakusan para pemilik modal sebagaimana dalam sistem sekarang.

Baca Juga :  Soal Harga BBM, PKS Tuding Pemerintah Dikuasai Mafia

Itulah yang sempat digambarkan sejarawan Will Durant secara jelas dan lugas dalam bukunya:

“Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant-The Story of Civilization)

Khusus di bidang jaminan kesehatan, dia juga menuliskan,

“Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant-The Story of Civilization)

Maka alangkah naif, jika umat Islam hari ini masih belum sadar juga dari tidur panjangnya. Berlama-lama mengharap sistem kapitalisme ini akan memberi kebaikan pada mereka. Padahal berbagai bukti bertebaran di depan mata, bahwa sistem ini jelas-jelas hanya menempatkan maslahat umat sebagai ladang untuk mencari keuntungan semata.

Bahkan sekularisme yang menjadi asasnya telah menjadikan negara dan rezim penguasanya kehilangan rasa welas. Hingga tega menempatkan rakyat hanya sebagai objek pemerasan dan seolah nyawa pun siap “diperdagangkan”.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah Swt. telah memberi mereka predikat bergengsi, sebagai sebaik-baik umat.

Wallahu a’lam bishshawab.

Loading...

Baca Juga