oleh

Prof Henri Sebut Indonesia Sudah Siap Menggelar Pemilu Digital

SUARAMERDEKA.ID – Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Profesor Dr Drs Henri Subiakto SH MA menyebut wacana pemilu digital tahun 2023 di Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Kesiapan teknologi dan perilaku masyarakat Indonesia dirasa sudah memungkinkan untuk memasuki era pemilihan secara digital.

Dalam perbincangan di sebuah stasiun televisi swasta, Jumat (24/7/2020), Prof Henri menjelaskan, sebelum pandemi, ada dua tantangan bersama bagi KPU, Bawaslu dan pemerintah dalam melaksanakan pilkada atau pemilu. Kedua hal tersebut adalah voter education dan electorate information.

“Dulu namanya pilkada atau pemilu, kerjaan kita semua (KPU, Bawaslu maupun juga pemerintah-red) adalah menyampaikan voter education. Pendidikan kepada pemilih tentang makna demokrasi dan sebagainya. Yang kedua adalah electorate information. Gimana memilihnya, gimana ngitungnya,” katanya.

Guru besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga ini melanjutkan, tantangan ini bertambah dengan munculnya pandemi covid-19. Tantangan yang dimaksud adalah memastikan setiap pemilih mematuhi protokoler kesehatan covid-19 pada saat menggunakan hak suaranya.

Baca Juga :  Menteri Sosial Siapkan MoU Penguatan Kelembagaan Komnas Perlindungan Anak

“Sekarang tambah lagi, terkait dengan health literacy (literasi kesehatan-red). Karena kita sekarang terkait dengan pandemi. Tugasnya tambah, kerjaannya tambah. Gak tahu, mudah-mudahan gajinya juga tambah,” imbuh Prof Henri.

Mengambil hikmah dari pandemi covid-19, lanjutnya, saat ini masyarakat Indonesia menjadi tidak asing lagi dengan teknologi digital. Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya dilakukan secara tatap muka pun beralih ke virtual.

“Gara-gara covid kan semua sudah mulai terbiasa dengan digital. Emak-emak saja ketemu sama teman-temannya pakai zoom. Arisan pakai zoom,” ujarnya.

Prof Henri menuturkan, iika kebiasaan-kebiasaan ini dikaitkan dengan wacana pemilu 2023 diselenggarakan secara digital, maka hal itu sangat beralasan. Saat ini ia menilai teknologi yang ada sudah memungkinkan untuk diadakan pemilu secara online.

Menurutnya, permasalahan utama dari pemilu digital adalah persepsi dan kultur dari seluruh elemen bangsa.

“Yang namanya teknologi itu kan sangat memungkinkan. Tapi yang menghambat itu kan persepsi dan kultur masyarakat. Termasuk juga kultur para elit yang tidak siap dengan perubahan-perubahan digital. Karena banyak orang melihat bahwa yang namanya sesuatu itu harus terlihat. Yang tangible (terlihat-red). Mereka baru percaya kalau ada fisiknya dan sebagainya. Padahal di dunia digital, itu jauh lebih aman karena ada log-nya semua. Semua ada jejak digitalnya. Termasuk yang memilih juga ketahuan mendukung siapa,” tegas Prof Henri.

Baca Juga :  Kembalilah Kepada NYA Adalah Ibrah Dari Covid - 19 Yang Melanda Dunia Saat Ini

Ia pun menyebut sudah saatnya Indonesia mengadakan pemilu digital, termasuk untuk pemilihan kepala daerah (pilkada). Staf ahli Menteri Kominfo ini pun menyatakan pihaknya siap jika sistem ini digunakan pada pemilu tahun 2023.

“Ini saatnya menunjukkan pada semua pihak bahwa kedepan, apakah itu pemilu, apakah itu pilkada, sudah saatnya menggunakan teknologi digital. Dan Kominfo mulai tahun 2023, insyaAllah seluruh Indonesia akan siap,” kata Prof Henri. (OSY)

Loading...

Baca Juga