oleh

Analis Politik: Inden Calon Presiden dan Wakil Presiden

Leaderboard_720x120

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik)

Semenjak kran pilpres dipilih secara langsung oleh rakyat, ramai manusia berebut jabatan. Siapa saja yang mampu secara fisik dan keuangan, tampil ke depan. Berebut kursi presiden dan wakil presiden. Rakyat pun dibuai mimpi-mimpi demokratisasi Barat. Seolah demokrasi dengan pilpres langsung merupakan jawaban dari kediktatoran pasca orde baru. Gaung reformasi nyatanya masih menyisakan persoalan sistemik. Siapa pun presiden dan wakil presiden Indonesia, belum ada yang betul-betul independen dan berdaulat. Apalagi mewujudkan mimpi kesejahteraan dan ketercukupan kehidupan di tengah kekayaan alam yang melimpah.

Bolehlah seorang yang pernah menjadi presiden dan wakil presiden menilai masa pemerintahannya dicapai dengan fenomenal. Ingatlah, rakyat tak pernah lupa dengan dosa dan luka yang telah ditorehkan selama masa kepemimpinannya. Rakyat adalah manusia yang memiliki rasa, karsa, dan asa untuk mampu bergerak. Rakyat berani menilai dengan jujur atas capaian pemerintahan.

Sungguh sebuah bencana besar bagi politik jika kursi kepresidenan sudah diinden. Sebab, dalam pandangan manusia, menjadi Presiden Indonesia adalah puncak tertinggi karier seseorang. Sayangnya, dalam meniti tangga karier itu butuh uang triliunan dan restu dari parpol, asing, pendana, dan koalisi. Fakta itu tak terbantahkan ditandai dengan ragam aturan yang dibuat-buat, bahkan mencuri start untuk lanjut di periode berikutnya.

Baca Juga :  UAS Ditekan Kiri-kanan Agar Menolak Tawaran Cawapres

Inden capres dan cawapres tampak pada iklan yang bertubi-tubi. Tim penggembira dan tim sukses bersorak sorai di dunia nyata dan maya. Semua mengunggulkan jagoan masing-masing. Diungkapkanlah sosok kepribadiannya, prestasinya, hingga cita-cita besarnya untuk Indonesia. Tak mengherankan, jika pada akhirnya rakyat akan menilai bahwa siapa pun capres-cawapres Indonesia senantiasa ribut rebutan kursi jabatan. Sementara itu, lupa esensi dalam persoalan kepemimpinan. Indonesia butuh leadership, bukan salesman, cowboy, pasukan bertopeng, jendral kancil, artis pencitraan, boneka pinokio, dan superman. Leadearship tampak pada sikapnya dan mengambil keputusan yang cepat dan tepat, itulah peminpin sejati. Bukan orang yang bisa dikendalikan oleh orang lain.

Akal adalah karunia Allah Swt. Keinginan menjadi presiden dan wakil presiden adalah manifestasi dari nafsu untuk menonjolkan eksistensi diri. Keinginan menjadi pemimpin sering dipenuhi tipu daya, manipulasi, korupsi, meminta bantuan asing dan pemodal, serta kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif (TSM). Karenanya, tak ayal tatkala menjadi pemimpin, sikapnya diktator, dzalim, dan menyengsarakan rakyat.

Baca Juga :  Mardani Ali Sera: Cara Mengalahkan Pak Jokowi

Realitas demokrasi telah membutakan manusia. Dunia dijadikan tujuan hidup, dengan sistem liberal manusia menjadi beringas, sehingga dunia terasa sempit. Menjadi pemimpin tak lagi dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia-akhirat. Manusia menganggap enteng dan tanpa beban terhadap amanah kepemimpinan.

Syahwat dan nafsu berkuasa lebih mendominasi, dibanding akal dalam memimpin. Sering orang yang terpilih ternyata tak mampu menjalankan roda pemerintahan, malah sering menabrak sumpah dan janjinya sendiri. Walhasil, negara dijadikan lelucon dan dagelan, sehingga membuat rakyat menjadi entrepreneur industri humor politik melalui gambar dan meme. Jika kondisi seperti itu diteruskan, maka rusaklah suatu negara dan bangsa.

Kepada rakyat Indonesia yang masih memiliki akal dan nurani. Senantiasa tingkatkan kewaspadaan terhadap calon pemimpin. Jangan sampai persoalan kepemimpinan ini dipegabg oleh orang yang zalim. Indonesia saat ini memasuki era kebangkrutan disegala bidang kehidupan secara sistemik. Jika tanpa solusi untuk merubah sistem yang liberal, bisa dipastikan Indonesia menjadi negara yang gagal mengurusi rakyatnya. Apa kata dunia? Apakah Indonesia akan tinggal nama? Entahlah.

Hanif | CreatorNulis

Loading...

Baca Juga