oleh

Romy Ketum PPP Pun Menjadi Tersangka KPK

Raja Ampat 720

Romy Ketum PPP Pun Menjadi Tersangka KPK, Kisah Tiga Politisi Muda. Denny JA, Konsultan Politik.

Apa yang salah dalam sistem politik Indonesia? Seolah ia adalah pabrik raksasa yang berbahaya. Begitu banyak anak muda berbakat, yang punya cita-cita, yang awalnya terkesan saleh. Namun ketika masuk dalam pabrik itu, ia keluar sebagai koruptor.

Saya ucapkan kata- kata di atas di Universitas Indonesia, sekitar bulan Maret 2015. Saat itu saya diminta memberi semacam pengantar diskusi buku oleh jurnalis senior dan doktor Satrio Arismunandar.

Satrio menerbitkan buku yang unik. Kisah lima tokoh nasional yang semuanya berakhir dipenjara karena korupsi. Namun Satrio menuliskannya dalam bentuk puisi esai. Walau ada elemen fiksi, namun itu true story. Judul buku puisi esainya: Mereka Yang Takluk di Hadapan Korupsi.

Ingatan di atas seketika datang ketika saya merenungkan kasus Romy, ketum PPP. Tak sampai 24 jam setelah ditangkap, Romy ditetapkan tersangka KPK. Ia langsung pula dijebloskan dalam penjara dengan jaket oranye.

Secara resmi KPK juga mengumumkan proses penangkapan Romy. Datang pengaduan masyarakat sejak lama. Terjadi semacam jual jasa dan pengaruh untuk penempatan posisi jabatan di Kementrian Agama. Romy memainkan peran sentral. Dana yang dibagikan dalam transaksi ini juga ikut disita dalam operasi tangkap tangan.

Tersaji bukti awal yang meyakinkan.

Setelah dan sebelum ditetapkan Romy sebagai tersangka, beberapa grup WA, mempublikasi video Romi soal sistem politik Indonesia. Dalam video itu Romy berkata. Betapa tipis beda antara pejabat dan penjahat. Hari ini pejabat. Besok ia menjadi penjahat. Ujar Romi, itu karena sistem politik kita yang berbiaya mahal.

Romy bukan politisi muda pertama yang prospektif yang ditangkap KPK. Sebelumnya pernah pula ditangkap dua politisi muda yang memberi banyak harapan: Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng.

Mereka adalah tiga anak muda gemilang pada zamannya. Ketiganya terasa memiliki passion. Ketiganya terasa cerdas. Ketiganya sedang menjulang ke puncak. Ketiganya membawa darah segar.

Namun ketiganya seperti masuk ke dalam pabrik yang berbahaya. Ujungnya mereka bertiga berakhir ditetapkan sebagai koruptor, oleh KPK yang sama, dan masuk penjara.

Ketika terpilih sebagai ketum PPP, usia Romy masih sekitar 40 tahun. Ia berdarah biru. Cicit dari pendiri NU. Ayah dan Ibunya pendiri dan ketua pertama organisasi sayap di bawah NU. Romy juga tamatan ITB.

Saat itu, PPP, sudah menjadi organ yang sepenuhnya sudah ia kuasai. Ia sudah mampu mengatasi pecahan PPP yang lain. Gerakan dan lobi Romy juga cukup lincah. Ia pun segera menjadi Die Hard dan orang dekat Jokowi.

Baca Juga :  Karena Survei Kompas, Rusak Survei Sebelanga, Sebuah Opini Hersubeno Arief

Jika semua lancar, tahun 2024 akan menjadi panggungnya yang besar. Ia potensial tak hanya calon wapres tapi calon presiden Indonesia berikutnya. Tapi semua berubah cepat.

Belum terlalu jelas bagaimana awalnya. Ia membuat resiko mempertaruhkan masa depan politiknya yang cerah, dengan tuduhan jual beli jabatan di kementrian agama. Dana yang berputar dalam jual beli jabatan itu tak pula besar.

Anas Urbaningrum di zamannya tak kalah fenomenal. Ia santun dan cerdas. Ia pernah pula menjadi ketum HMI. Dalam usia yang sama muda, sekitar 40 tahun, Anas terpilih menjadi ketua umum Partai Demokrat tahun 2010.

Di era itu bahkan Demokrat partai terbesar. Pendirinya, SBY, saat itu juga menjadi presiden.

Hebatnya Anas, ia mengalahkan calon ketum lain yang lebih didukung SBY. Sekitar enam bulan sebelum pemilihan, saya bertemu dengan Anas, ikut merancangnya menjadi ketua umum.

Bro, saya katakan kepada Anas, kita jangan terkesan melawan SBY. Ia sedang menjadi presiden dan demokrat masih berada dalam genggamannya. Kita jangan buang enerji tak perlu.

Kita buat saja kondisi yang kira kira membuat SBY tak enak terlalu ketara di publik jika ia memihak pada calon ketum lain. Saya pun membuatkan konsep iklan untuk dipasang di Harian Kompas. Saya buat pula survei internal pemilik hak suara.

Bercakap dengan Anas, terasa ia punya prospek tinggi. Jika di usia 40 tahun saja Ia sudah menjadi ketum Partai terbesar, hanya beberapa tahap lagi, ia bisa menjadi presiden.

Tak pula saya menyangka. Setelah terpilih ketum Demokrat, terkuak kasus Narudin. Pelan- pelan kasus itu menyeretnya masuk penjara. Lama saya terdiam mencoba memahami apa yang terjadi.

Sebelum Anas masuk penjara, tersaji kisah politisi muda lain, yang tak kalah gemilang. Ia seorang doktor ilmu politik dengan visi dan artikulasi intelektual yang kuat.

Andi Mallarangeng saya kenal lebih personal. Ketika saya bertunangan, saya masih di Amerika Serikat. Andi Malllarangeng dan istrinya, juga adiknya Rizal Mallarangeng dan istrinya, bersama teman dan keluarga saya yang lain, ikut mewakili saya melakukan lamaran.

Andi selesai Ph.D dalam ilmu politik dari Amerika Serikat. Ketika ia pulang, momennya sangat tepat. Indonesia sedang melakukan perubahan sistem dari era Orde Baru menuju Orde Reformasi.

Andi segera menjadi bintang televisi. Ia menjadi anggota KPU. Kemudian ia menjadi staf ahli menteri Ryas Rasyid yang memulai program otonomi daerah.

Baca Juga :  Laskar TPS; Serdadu Melawan Kecurangan

Walau bersama Ryas Rasyid, ia gagal membawa partainya lolos Threshold dalam pemilu 2004, namun Andi merapat kepada capres SBY. Saat itu saya dan Andi bersama tim lain sering bermalam- malam di Cikeas, menyiapkan SBY bertarung dalam Pilpres 2004.

Andipun kemudian menjadi juru bicara Presiden. Kemudian menjadi Menteri Olah Raga. Andi disiapkan SBY menjadi ketum Partai Demokrat berikutnya. Dari sana, jalan menuju calon presiden terbuka luas.

Andi terkenal dengan visinya soal good governance. Ia katakan hendaknya kita ciptakan pemerintahan yang tak pernah tidur. Begitu kuatnya sistem itu bekerja sehingga 24 jam masalah yang ada tertangani.

Tak pula terduga setelah menjadi Menteri Olahraga, hal baru terkuak. Andi pun terjerat masalah korupsi yang dulu sangat ia lawan. Andi pun masuk penjara.

Ada apa dengan sistem politik Indonesia? Mengapa anak anak muda yang cerdas yang punya cita cita, ketika masuk ke sana, ke dalam dunia politik, mereka berakhir menjadi koruptor?

Ketika tulisan ini dibuat, belum pula jelas apakah Romy pun akan berakhir dengan pidana penjara, seperti Anas dan Andi.

Tapi jelas sudah dengan Kisah Romy, lengkap sudah tragedi tiga politisi muda yang gemilang.

Apa yang perlu dilakukan agar sistem dan kultur politik kita tidak menjadi pabrik, yang mengubah anak anak muda berbakat menjadi koruptor?

Tadi sore saya membaca hasil riset kisah sukses lima negara memerangi korupsi. Penelitinya bernama Jon S.T Quah. Ia meneliti kasus sukses negara Rwanda, Hongkong, Singapore, Selandia Baru dan Bostwana.

Empat dari lima negara yang sukses itu karena memilili satu agen khusus pemberantas korupsi (Effective Anti-Coruption Agencies). Agen ini diberikan kekuasan penuh dengan budget yang besar, dan SDM yang cakap.

Kita sudah pula memilikinya: KPK. Dan KPK pula yang menangkap tiga politisi muda itu. KPK pun telah juga menangkap sekitar 104 kepala daerah, sejak 2004-2018. Telah pula ditangkap sejumlah menteri. Bahkan telah pula ditangkap pimpinan lembaga selevel dengan lembaga presiden: ketua DPR, ketua MK. Bahkan mantan ketua KPK sendiri juga ditangkap.

Semoga perang terhadap korupsi sukses. Cukup sudah sistem politik kita menjadi pabrik yang begitu haus. Enough is enough. Jangan lagi sistem politik kita menyerap banyak politisi muda yang berbakat, namun mengubahnya masuk penjara korupsi.

Loading...

Baca Juga