oleh

Politik “OTOT” Ala Jokowi

Leaderboard_720x120

Oleh  :  Tengku Zulkifli Usman  (Analis Politik).

Saat seorang politisi gak punya naras, dipastikan yang akan dominan adalah emosi dan darah tinggi.

Sejarah mencatat, Presiden indonesia yang punya kualitas pidato rendahan adalah jokowi dan megawati.

Bukan kali ini saja begitu, Jokowi bahkan kerap berpidato dengan gaya bahasa level kaki lima yang tidak mencerminkan seorang Presiden.

Bukan hanya di dalam negeri, diluar negeri jokowi juga beberapa kali salah fatal dalam pidato, blunder dan terlihat bodoh, kalimat “i want to test my minister” dll. belum lekang di ingatan rakyat.

Dalam politik, seorang Presiden harus cakap dalam menyampaikan sebuah pesan, baik dalam bahasa asing atau bahasa indonesia. Pakai teks tidak masalah asal fasih, jangan sudah ada teks tapi masih tetap belepotan, ini memalukan.

Sebagai seorang Presiden, Jokowi seharusnya mampu berpidato dengan baik dan lancar, tim komunikasi nya harus bekerja profesional agar tidak malu maluin negara.

Artinya, rendahnya kualitas retorika jokowi secara gak langsung juga mencerminkan rendahnya kualitas orang orang disampingnya.

Obama contohnya, dia yang sudah sangat jago dalam orasi saja masih menggunakan seorang pakar komunikasi politik sekelas Robert Gibbs di awal awal masa jabatan pertamanya.

Itu seorang Barrack Obama, Obama rajin juga latihan, bagaimana seorang presiden yang kelasnya jauh dibawah Obama tapi malas latihan? Ini namanya Terlalu.

Modi di India misalnya, dia punya tim yang sangat bagus dalam hal media dan publikasi, juga tim yang sangat bagus dalam penulisan teks pidato, padahal Modi adalah juga seorang narator dan orator ulung yang sukses sebagai gubernur Gujarat, bagaimana Jokowi bisa ugal ugalan begitu padahal dia tau bahwa level nya jauh dibawah level Modi.

Baca Juga :  Selamatkan Kampus Kita: Selamatkan Daya Kritis dan Intelektualitas Sivitas Akademika

Trump misalnya, walaupun dia bukan politisi ulung, tapi Trump juga jago pidato, tau kekurangan dirinya, trump membentuk tim ahli dalam komunikasi politik, trump tau diri, jokowi gak mau tau, karena memang jokowi urus negara semau dia tanpa mau belajar dan mau mengakui kebodohannya.

Padahal record Obama, Modi dan Trump sangat jelas punya success story yang patut dibanggakan, orang besar rajin belajar dan mengakui kekurangan dirinya, sedangkan pemimpim kerdil itu sok tau dan sok punya record sukses, padahal jelas di solo dan jakarta sama sama nol prestasi.

Banyak pemimpin dunia punya quote yang diingat oleh dunia, Cruchill, Eissenhower, Truman, Kennedy, Clinton, Mao, Ho Chi Mint, Jefferson, De Guelle dll, lalu apa quote jokowi? I dont think about that?.

Saat otak mentok maka otot yang bicara, narasi otot jokowi ini juga bisa digambarkan saat dia banyak melakukan kriminalisasi ulama juga persekusi aktivis yang banyak terjadi lalu didiamkan.

Narasi otot jokowi adalah representasi level otak seorang pemimpin, saat bahasa nya yang amburadul, maka tercermin isi kepala si pembicara tersebut, karena bahasa keluar dari isi kepala seseorang yang sedang berbicara.

Otot jokowi mengalahkan otak nya, dia gak paham bagaimana pentingnya bahasa yang berkualitas dari seorang peminpin, makanya banyak buku ditulis khusus tentang tema ini.

Obama terkenal ahli dalam retorika,sampai sampai ada buku yang ditulis oleh pakar komunikasi dunia lalu dikasih judul”Say it Like Obama”. Katakan seperti Obama katakan. bayangkan kalau judul buku itu dikasih judul “Say it Like Jokowi”. Bisa dibayangkan betapa belepotannya isi buku itu.

Baca Juga :  Ustadz Abdul Shomad Corong Umat dan Dicintai Rakyat

Di Indonesia, presiden yang jago orasi ada dua, Seokarno dan SBY, harusnya jokowi belajar dari seokarno minimal karena dia adalah dekat dengan ideologi PDIP, itupun jika saja jokowi alergi kalau harus belajar ke SBY karena SBY adalah “musuh” megawati.

Narasi otot minim otak inilah yang membuat Jokowi membuka topengnya sendiri sebagai presiden kelas rendah, maka wajar kalau ada jurnalis asing yang mengatakan bahwa jokowi adalah stupid, mock and mirror. Gak ada salahnya penilaian itu.

Berbicara sebagai Presiden, tentu harus memakai logika negarawan, walaupun pidato itu disampaikan didepan relawan sekalipun, jokowi wajib memposisikan dirinya sebagai presiden seluruh rakyat indonesia, bukan presiden relawan semata.

PDIP dan jubir presiden yang membela pidato “ajaran berkelahi” kepada relawan juga keliru, mereka membela sesuatu yang jelas jelas salah fatal, ini namanya maksa dan ngawur.

Narasi otot minim otak jokowi juga terlihat saat dia suka melempar makanan dari dalam mobil untuk rakyat, melempar sekop dan sikap sejenis, bahasa tubuh model begitu cukup mewakili mentok nya otak sang presiden dalam komunikasi non verbal.

Jadi dengan sederet pengalaman dan data di lapangan, sudah sangat jelas bahwa jokowi bukanlah level presiden, benar kata pak JK bahwa indonesia bisa hancur kalau dipimpin jokowi, yang lebih benar lagi adalah statemen jokowi sendiri tahun 2012 disebuah media nasional, bahwa dia lebih cocok jadi ketua RT bukan presiden.

Justru yang aneh, saat jokowi sendiri sudah mengakui bahwa dia level RT, kenapa justru pendukungnya terus menerus mengakui dia sebagai tokoh level presiden? saat semua record jelek yang sudah begitu jelas terpampang didepan muka rakyat Indonesia.

Loading...

Baca Juga