oleh

Pemimpin Spektrum Al-‘Alamin

Leaderboard_720x120

Oleh  :  Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Sedikit keluar dari hiruk pikuk pencapresan dan manuver calonnya. Indonesia butuh pemimpin seorang yang benar-benar manusia. Bukan dari dunia lain atau tiba-tiba muncul ada. Keberadaannya diketahui jelas secara DNA dan nasab keturunannya. Begitu pun rekam jejaknya dari lahir menjadi manusia dewasa.

Di tengah perebutan piala presiden, menarik dicermati cuplikan dari butir-butir Pancasila itu isinya akhlak semua. Sebuah clue dari Maiyah Kenduri Cinta. Pada alinea keempat tertera:

“Sementara negeri Pancasila adalah al’alamin. Pancasila memahami manusia sebagai pusat komprehensi antara konteks insaniyah, ubudiyah, dan khilafah. Dialektika dari posisi rebah dalam semesta uluhiyah menjadi transformator rububiyah, membangun rahmah lil’alamin. Sebatas kadar liutammima makarimal akhlaq.”

Kerisauan Maiyah Kenduri Cinta pada negeri ini sebab ada yang merasa Pancasila, tapi hanya di lidah. Ada yang paling Indonesia, tapi gagal mewujudkan akhlakul karimah dan rahmah bagi seluruh alam. Akhirnya, pemimpin dan penguasa yang seharusnya bertanggung jawab mengurusi rakyatnya, berubah sikapnya. Dari merakyat kini melaknat. Dari wong cilik kini wong gumedhe. Dari biasa menjadi sok luar biasa. Nah, seperti apakah pemimpin spektrum al-‘alamin, terlebih untuk Indonesia?

Rahmah yang Ramah

Baca Juga :  KPK Perlu Periksa Seluruh Pembangunan Infrastruktur Jokowi, Karena Ada Indikasi Korupsi Raksasa

Model kepemimpian terbaik tentunya berasal dari Rasulullah SAW. Manusia yang dibimbing wahyu. Perkataan dan tindakannya tidak mengikuti hawa nafsu. Sosok al-amin yang terpilih menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Pengadopsian kepemimpinan dari Rasulullah merupakan harga mati bagi seorang muslim. Jangan sampai pemimpin muslim bersikap despotik, diktator, dan anarki kepada rakyatnya. Akhirnya rakyat pun marah dan membencinya. Bukankah sebaik-baik pemimpin adalah yang dicintai dan didoakan kebaikan oleh rakyatnya?

Konsep leadership Rasulullah sangatlah kompleks dan sistematis. Dimulai dari syarat dan proses pemilihannya. Sungguh model bangunan kepemimpinan pemerintahan nabi, lebih ultra-modern dibanding dengan demokrasi. Syarat pemimpin dalam Islam meliputi seorang muslim, laki-laki, adil, baligh, berakal, merdeka, dan mampu menjalankan roda pemerintahan.

Bandingkan dengan model demokrasi. Syarat beriman dan bertaqwa tidak memiliki standar jelas. Ketundukan pada konstitusi sebatas janji. Kitab suci yang ditaruh di atas kepala lupa diterapkan isinya. Begitu sah, sikapnya seperti raja. Sungguh kondisi seperti inilah yang dipertontonkan di negeri ini. Terkadang pemimpin itu tiada amanah. Lebih menyakitkan lagi, dana untuk rakyat dikorupsi.

Rahmah yang ramah akan terwujud jika penerapan sistemnya pun berbasis keilahian. Alhasil konteks insaniyah, ubudiyah, dan khilafah saling melengkapi. Sebabnya sistem keilahian diturunkan untuk menyelesaikan persoalan hidup di dunia, serta mampu membawa kebaikan di akhiratnya. Rahmah ini nanti meliputi seluruh isi alam. Tidak pada kelompok atau individu agama tertentu.

Baca Juga :  Tuan Guru Abdul Somad, Tolong Pimpin Barisan Agar Jangan Terpecah Kembali Jadi Kerumunan

Tatkala pemimpin sebagai insaniyah melaksanakan ubudiyah dengan ketaatan pada syariah, keniscayaan keberkahan itu keluar dari langit dan bumi. Sebaliknya, pengabain ubudiyah berakhir pada bala bencana dan kerusakan di darat dan laut. Hal itu dilakukan sebab ulah tangan manusia.

Spektrum lil ‘Alamin

Indonesia ke depan tidak boleh mengalami kesalahan dalam memilih dan dipimpin. Jangan pula negara ini diserahkan urusannya pada orang yang tidak mampu mengelola negara. Hidarkan negara ini dari keterpecahan akibat ulah saling umpat dan ketidakpedulian. Selamatkan negeri ini dari kerakusan para pemburu kuasa, yang sama sekali tidak berfikir untuk kemaslahatan rakyat.

Spektrum kepemimpinan lil ‘alamin mendesak dibutuhkan Indonesia. Jika rasulullah diutus untuk rahmatan lil ‘alamin, sudah barang tentu akan ada pemimpin yang mengadopsinya. Cepat atau lambat, pemimpin yang tak mengambil Islam sebagai aturan dan ideologi akan sirna di telan masa. Zaman terus berubah. Saatnya semua manusia berbenah untuk Indonesia dan dunia lebih baik. Ganti pemimpin dan sistemnya, ya!

Loading...

Baca Juga