oleh

Tim Zenius UNM Ciptakan Katalis Berbahan Ramah Lingkungan

SUARAMERDEKA.ID – Sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Malang yang tergabung dalam Tim Zenius meneliti tentang pasir pantai yang ada di daerah Malang bagian selatan. Tim Zenius ini diketuai oleh Dinar Rachmadika Baharintasari serta beranggotakan Muhammad Roy Asrori dan Yana Fajar Prakasa.

Salah satu pantai yang terdapat di Malang selatan adalah Pantai Bajul Mati. Pantai Bajul Mati terletak di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Pantai tersebut memiliki ciri khas tersendiri, yakni pasir yang berwarna hitam dengan kilauan putih di setiap butirnya. Dr. Sumari, M.Si., selaku pembimbing tim, mengatakan bahwa kilauan putih tersebut mengindikasikan adanya silika yang terkandung pada pasir tersebut. Selama ini pasir pantai hanya dimanfaatkan sebagai penghias akuarium dan kolam, sehingga nilai jualnya pun masih rendah.

“Dari situlah kami meneliti kandungan yang terdapat dalam pasir, sehingga dapat dimanfaatkan lebih jauh lagi dan dapat menjadikan nilai jualnya lebih tinggi”, kata Dinar dalam pernyataannya, Senin (3/6/2019).

Oleh karena itu, tim mengambil beberapa sampel pada 8 titik yang ada di pantai untuk diteliti lebih lanjut. Pasir yang diambil kemudian dibawa ke Laboratorium Sentral Mineral dan Material Maju Universitas Negeri Malang untuk diuji.

Baca Juga :  Dinas Peternakan Gelar Bimtek Pemeliharaan Ternak Kambing

“Kami melakukan uji XRD (X-Ray Diffraction) dan XRF (X-Ray Fluoroscene) untuk mengetahui mineral apa saja yang terkandung pada sampel pasir”, ujar Roy.

Data menunjukkan bahwa banyak mineral yang terkandung dalam sampel pasir Pantai Bajul Mati. “Hasil menunjukkan bahwa mineral yang terkandung pada pasir antara lain Si (31,0%); K (0,77%); Ca(45,3%); Ti(1,41%); V(0,083%); Cr(0,097%); Mn(0,43%); Fe(19,0%); Cu(0,1%); Sr(1,8%); dan Eu(0,1%). Kandungan silika yang terdapat pada pasir Pantai Bajul Mati cukup tinggi sehingga dapat dimnfaatkan sebagai bahan penelitian oleh tim,” ucap Fajar.

Tim Zenius selanjutnya memurnikan silika yang terdapat pada pasir. Beberapa peneliti sudah berhasil memurnikan silika dari pasir yang menggunakan asam klorida (HCl), asam sulfat (H2SO4), bahkan asam florida (HF). Berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya, Zenius menggunakan asam oksalat dalam proses pemurnian silika dari pasir.

“Alasan kami menggunakan asam oksalat adalah yang pertama murah, harganya sangat terjangkau dibandingkan dengan asam klorida, bahkan asam florida yang harganya hingga jutaan. Kedua karena lebih aman. Asam oksalat ini tidak bersifat korosif, sangat berbeda dengan asam sulfat jika terkena tangan bisa melepuh. Ketiga karena ramah lingkungan, asam oksalat merupakan asam lemah, sedangkan HCl, HF itu asam kuat, sehingga dapat menimbulkan limbah asam yang berbahaya bagi lingkungan,” kata ketua Tim Zenius.

Baca Juga :  Dewi Rosi Pratiwi, Wanita Kelahiran Banyuwangi Ini Bangga Jadi Kowad

Sementara itu, menurut Roy Asrori, silika hasil pemurnian kemudian diuji persen kemurniannya di Laboratorium Sentral Mineral dan Material Maju, Universitas Negeri Malang. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kemurnian silika mencapai 96,9%. Silika yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan zeolit.

“Zeolit yang kami buat berfungsi sebagai katalis hidrolisis selulosa, yang merupakan salah satu proses dalam pembuatan bioetanol. Bioetanol adalah bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan. Dan diharapkan menjadi solusi defisit bahan bakar fosil kelak di kemudian hari,” kata Roy Asrori.

Tim Zenius ini berhasil lolos didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang penelitian eksakta tahun 2019. Mereka berharap dengan adanya dukungan serta masukan dari berbagai pihak mereka dapat maju melangkah dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 yang akan diselenggarakan di Bali bulan Agustus mendatang. (OSY)

Loading...

Baca Juga