oleh

Kepentingan Nasional? Ah, yang Benar Saja, Sebuah Opini Dimas Huda

Kepentingan Nasional? Ah, yang Benar Saja. Oleh: Dimas Huda, Pemerhati Sosial dan Politik.

Kalimat “demi kepentingan nasional” naga-naganya bisa menjadi rapal sakti jika diucapkan Prabowo Subianto. Politisi gaek sekelas Amien Rais pun manggut-manggut tak berdaya dibuatnya.

Itu kisah nyata. Sekali lagi bukan hoaks. Orang boleh tidak percaya jika di era digital ini masih ada cowok berkirim surat pada pacarnya. Itu kuno alias jadul. Jika mau ngirit pulsa, bisa lewat WhatsApp atau SMS, pesan langsung sampai.

Tapi Prabowo tidak begitu. Ia masih menggunakan cara jadul itu: berkirim surat kepada Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional. Padahal pesan yang hendak disampaikan sangat penting dan segera.

Surat tertanggal 12 Juli itu ditujukan ke alamat rumah Amien di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Saat surat tiba, Amien berada di Yogja. Baru setelah ia pulang dari Kota Gudeg ia mendapati surat tersebut. Capres yang ia dukung pada pilpres 2019 lalu mengabarkan bahwa dirinya akan bertemu Joko Widodo pada tanggal 13 Juli.

Amien membaca surat tersebut setelah peristiwa pertemuan itu terjadi. Amien sudah mengetahui bahwa Prabowo dan Jokowi bertemu di MRT dari berita yang disiarkan banyak media, saat ia di Yogja. “Surat dari Pak Prabowo bertanggal 12 Juli, isinya, ‘Pak Amien, kemungkinan 13 Juli akan ada pertemuan dengan Pak Jokowi’,” kata Amien di Jalan Daksa I Nomor 11, Jakarta Selatan, Senin, 15 Juli 2019. Kabar itu hanya 119 karakter saja sehingga tak butuh waktu lama jika diketik ke smartphone. Lalu dikirim …

Amien menuturkan, dalam suratnya Prabowo mengatakan bahwa kepentingan bangsa lebih besar. Prabowo juga menyatakan mementingkan keutuhan NKRI. Pada dasarnya, Amien bilang, dia sepakat dengan alasan yang dikemukakan Prabowo. Namun ia tak ingin rekonsiliasi pascapemilihan presiden itu lantas dimaknai sebagai bagi-bagi kekuasaan.

Baca Juga :  Maju Terus Pak Prabowo, Jalan Anda Sudah Benar, Opini Asyari Usman
“Saya tetap pada pendirian, rekonsiliasi dalam arti bangsa utuh enggak boleh pecah, saya seribu persen setuju, mbahnya setuju yah. Tetapi rekonsiliasi itu jangan sampai diwujudkan menjadi bagi-bagi kursi,” tandasnya.

Amien orang baik. Dia tidak tersinggung ditelikung Prabowo. Padahal banyak alasan bagi Amien untuk “tidak suka” dengan sikap Prabowo itu.

Demi Kepentingan Nasional

Apa yang dimaksud dengan kepentingan nasional? Benarkah pertemuan Prabowo-Jokowi yang beberapa menit dan lebih merupakan pertunjukan bagi kemenangan Jokowi itu untuk hal sedahsyat itu?

Selanjutnya, ketika Prabowo bilang pertemuannya dengan Jokowi untuk kepentingan nasional, publik tentu bertanya, apakah tokoh-tokoh politik yang lain tidak peduli dengan kepentingan nasional?

Mari kita buka buku sejarah. Bab tentang kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Selama 10 tahun kepemimpinan pensiunan jenderal asal Pacitan, Jawa Timur, ini tak sekalipun Megawati Soekarnoputri sudi berjumpa dengannya. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu memperdalam lukanya selama bertahun-tahun.

SBY bercerita bahwa usahanya dalam memperbaiki hubungan dengan Mega tak pernah berhasil. “Saya harus jujur, memang belum pulih, masih ada jarak,” kata SBY usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan 24 Juli tahun lalu. SBY berusaha menjalin komunikasi selama sepuluh tahun, namun sia-sia.

‘Perang dingin’ antara kedua pemimpin partai politik ini bermula pada akhir 2003, ketika SBY memutuskan maju untuk bersaing dengan Mega dalam pemilihan presiden 2004.

Saat itu Mega adalah Presiden dan SBY Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Mega kecewa karena SBY secara diam-diam menggalang kekuatan untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

SBY akhirnya mundur dari kabinet lalu bersama Jusuf Kalla mencalonkan diri sebagai presiden pada pilpres 2004. Pasangan ini memenangkan pemilu, mengalahkan Mega yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi.

Baca Juga :  Cuplikan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

Mega menolak hadir saat SBY-JK membacakan sumpah presiden dan wakil presiden. Putra Bung Karno ini sempat meneteskan air mata saat menyampaikan pesan agar semua pihak legowo menerima hasil pilpres 2004.

Perseteruan berlanjut hingga usai pemilu. Mega menolak datang setiap ada undangan dari SBY, termasuk saat Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 2005.

Pada pemilu 2009, Megawati kembali maju sebagai capres didampingi Prabowo Subianto. Pemimpin PDIP itu lagi-lagi kalah saat bersaing dengan SBY-Budiono.

Hubungan antara SBY dan Megawati makin merenggang. Mereka tak pernah berkomunikasi atau bertemu. Pada 2013 saat Taufiq Keimas –suami Mega– wafat, SBY selaku presiden memimpin langsung upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada momen itu, SBY menggenggam erat tangan kanan Megawati dengan kedua tangannya.

“Mendiang Taufiq Kiemas, sahabat saya, juga berusaha untuk memulihkan silaturahmi kami berdua (dengan Megawati), jadi bukannya tidak ada kehendak dari banyak pihak tapi Allah belum menakdirkan,” kata SBY.

Pertemuan kembali terjadi, ketika presiden kelima ini menghadiri upacara pemakaman istri SBY, Ani Yudhoyono, di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta 2 Juni lalu.

Tidak ada kepentingan nasional yang terkoyak akibat rivalitas kedua tokoh politik itu. Dan tidak ada yang mengatakan menolak rujuk dengan SBY, maka Mega telah mengorbankan kepentingan nasional.

Mega beroposisi selama 10 tahun dan berbuka puasa pada 2014 lalu, ketika Jokowi –capres yang diusung PDIP- memenangkan pilpres. Pada pemilu tahun ini PDIP pun menjadi juara. Capres dan cawapres yang diusung pun memenangkan pilpres.

Melalui buku sejarah itu, Prabowo harusnya menyadari bahwa dirinya tidak sehebat yang ia bayangkan. Kepentingan nasional? Ah, yang benar saja.

Loading...

Baca Juga