oleh

Hilda Basalamah: Panitia Ijtima Ulama IV Keterlaluan, Punya Hak Apa?

SUARAMERDEKA.ID – Aktivis Hilda Basalamah menyesalkan sikap oknum panitia acara Ijtima Ulama IV yang berlangsung di Lorin Hotel Sentul pada 5 Agustus 2019 lalu. Ia menilai beberapa oknum panitia acara bersikap overacting dan memperlakukan dirinya layaknya seorang teroris. Hilda khawatir sikap tersebut justru mencoreng citra ijtima ulama dimata umat Islam.

Ditemui di kawasan Pisangan Jakarta Timur, Selasa (13/8/2019), Hilda Basalamah menyampaikan kekecewaannya atas sikap beberapa oknum panitia Ijtima Ulama IV kepada dirinya. Ia merasa perlu untuk membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya ini sebagai pembelajaran. Agar image Ijtima Ulama tidak tercoreng hanya karena sikap beberapa oknum panitia pelaksananya

“Saya menceritakan ini semua agar panitia Ijtima Ulama IV mengintrospeksi diri. Jangan kelewatan dan overacting gitu. Saya sama sekali tidak berniat jelek. Tapi kelakuan panitia Ijtima Ulama waktu itu sudah keterlaluan  Saya tidak ingin citra Ijtima Ulama menjadi rusak karena mereka,” kata Hilda Basalamah.

Ia kemudian menuturkan bahwa kedatangannya ke acara Ijtima Ulama IV karena dihubungi oleh salah satu tokoh Ijtima Ulama. Karena tidak mendapat undangan, akhirnya diputuskan untuk bertemu di tempat registrasi. Hilda kemudian merekomendasikan 5 orang temannya untuk ikut di acara tersebut, dan rekomendasinya dikabulkan.

Sesampainya di lokasi, ia bersama tiga temannya mengisi daftar hadir di meja registrasi. Hilda Basalamah tidak menyadari bahwa dirinya mengisi daftar hadir di daftar wartawan, sedangkan tiga temannya di daftar peserta.

Karena menunggu 2 temannya lagi yang masih dalam perjalanan, Hilda meminta 3 temannya untuk masuk ke ruang pertemuan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat menunggu dan 2 temannya tidak datang juga, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke ruang pertemuan.

“Disana saya bertemu dengan beberapa Gus (kyai-red), karena memang saya sudah janjian, mau bicara soal ekonomi kerakyatan. Saya datang kesana itu mau sillaturrahmi, reuni juga dan mau melihat proses Ijtima Ulama. Sempat ngobrol juga dengan Ustad Haikal dan Neno Warisman,” tutur Hilda Basalamah.

Usai berbincang dengan Neno Warisman, Hilda kemudian duduk di kursi peserta. Tiba-tiba Ketua Laskar Khadijah ini didekati oleh salah satu panitia perempuan. Ia meminta Hilda untuk keluar dari ruangan tersebut, karena tanda pengenal yang dipakainya tercantum sebagai wartawan. Setelah dijelaskan, akhirnya Hilda diminta untuk mendaftar ulang di bagian registrasi.

Baca Juga :  Dishub Akan Ganti Alat Traffic Light Tanpa Solar Cell
Namun entah mengapa, setelah mengganti tanda pengenalnya sebagai peserta, Hilda tetap tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan pertemuan oleh panitia perempuan tersebut. Ia mempertanyakan alasan mengapa masih tidak diperbolehkan masuk. Padahal mengganti tanda pengenal wartawan ke peserta adalah permintaan panitia sendiri.  

Hilda pun akhirnya sempat terlibat dalam perdebatan dengan panitia perempuan tadi. Teman-teman Hilda yang ada di ruang pertemuan juga meyakinkan panitia tersebut bahwa Hilda bukan orang yang tidak dikenal. Namun panitia tersebut berkeras bahwa Hilda tidak punya hak untuk masuk ke ruang pertemuan.

Panitia perempuan ini justru memanggil beberapa satgas yang berbaju hitam-hitam untuk membawa Hilda kembali ke bagian registrasi. HP dan KTP Hilda pun diminta oleh satgas tersebut.

“Kalau saya bukan orang baik-baik, ngapain saya nyerahin HP dan KTP dengan sukarela. Ngapain sih.  Kok kayaknya saya ini orang yang mau meledakkan bom di acara itu. Kok kayaknya saya seperti teroris yang mau menghancurkan acara itu. Kok kelihatannya berlebihan gitu,” kata Hilda Basalamah.

Saat tiba di bagian registrasi, Ketua Laskar Khadijah Forum Syuhada Indonesia (FSI) ini merasa tersinggung saat satgas tersebut membuka dan melihat isi HPnya. Hilda menyebut mereka juga membuka seluruh rekaman video, foto yang ada di galeri HPnya. Semuanya dilihat satu per satu.

“Saya lama-lama juga naik darah. Emangnya situ siapa sih. Kok segitu amat sih, ribet. Boleh tanya siapa saya. Fotoin saya. Akhirnya saya digerombolin sama orang-orang. Ada juga beberapa yang berbaju putih-putih LPI (Laskar Pembela Islam-red). Ribut saya. Tapi karena saya takut bikin gaduh, akhirnya kami keluar ke lobby,” ujar Hilda.

Emak-emak militan yang juga anggota Pemuda Pancasila ini mengaku kecewa dengan perlakuan oknum panitia yang terkesan arogan. Terutama oknum yang berbaju putih yang dengan paksa melihat semua isi Hpnya.

“Yang berbaju putih itu. Dia punya hak apa? Saya sudah ngomong berkali-kali. Saya tidak bersedia HP saya isinya dilihat sama dia. Dia bukan Polisi. Polisi saja minta ijin dulu kalau mau meriksa isi HP. Kurang ajar banget deh,” kata Hilda Basalamah.
Hilda Basalamah: Panitia Ijtima Ulama IV Keterlaluan, Punya Hak Apa?
Oknum yang berbaju putih yang diaku oleh Hilda Basalamah dengan paksa melihat semua isi Hpnya. di Lorin Hotel Sentul pada 5 Agustus 2019

Karena tidak ingin membuat keributan, ia pun memutuskan untuk pulang. Hilda mengaku marah karena kedatangannya ke acara tersebut dengan tujuan bersilaturahmi justru mendapatkan perlakuan yang tidak pantas. Padahal para ulama yang sempat dia temui menyambutnya dengan baik.

Baca Juga :  Peserta Reuni 212 Membludak, ke Toilet Pun Antri

“Inikah Islam yang selama ini? Yang mengatasnamakan Ijtima Ulama. Kayaknya kejadian ini bukan sekali dua kali deh, dan bukan saya saja diperlakukan seperti ini. Di Monas (reuni 212 tahun 2018-red) seperti itu. Di Ijtima yang kedua juga,” kata Hilda Basalamah.

Ia sangat menyayangkan perlakuan sejumlah oknum panita terhadap dirinya. Menurutnya, seharusnya jika orang datang tanpa membawa undangan, ditanya dengan baik. Jangan membuat kesan seakan-akan kalau jadi panitia Ijtima Ulama seketika menjadi orang yang paling hebat.

“Maunya dihormati tapi tidak mau menghormati orang. Mau disayang tapi dia tidak sayang orang. Baru jadi panitia sudah begitu sikapnya. Kalau begitu caranya, bisa hancur itu nama besar Ijtima Ulama,” tegas Hilda.

Ia menilai yang dilakukan beberapa oknum panitia tersebut sudah keterlaluan. Ia bahkan mengatakan perlakuan mereka melebihi perlakuan petugas kepolisian saat menangkap seseorang.

“Ini kelewatan. Polisi saja masih ada sopan santunnya kok. Mohon maaf ya, kami mau memeriksa HP ibu. Yang ini lebih dari polisi. Diambil HP saya, terus sampai di bawah diperiksa-periksa video. Diperiksa itu galerinya,” tegas Hilda Basalamah.

Ia kembali menegaskan bahwa tujuannya membeberkan masalah ini tidak ada niat jahat. Ia hanya ingin agar masalah ini diketahui oleh para tokoh Ijtima Ulama. Ia khawatir nama baik Ijtima Ulama hancur bukan karena ulamanya, namun karena oknum panitianya. Hilda ingin oknum-oknum aroran tersebut segera dibersihkan dan tidak diberi kepercayaan lagi dalam kegiatan-kegiatan yang akan datang.

“Janganlah orang-orang seperti itu dijadikan panitia. Sama sekali tidak mencerminkan sikap yang Islami. Bisa hancur loh nama besar Ijtima Ulama,” tutup Hilda Basalamah. (OSY)

Loading...

Baca Juga