oleh

Republik Indonesia Bab Dua/Pasca Jokowi (16): Dalang Segala Bencana (1)

Republik Indonesia Bab Dua/Pasca Jokowi (16): Dalang Segala Bencana (1). Oleh: Sri-Bigntang Pamungkas, Aktivis.

Ketika Nuku Soleiman menyebarkan sticker persegi empat bertuliskan “Soeharto Dalang Segala Bencana (SDSB)” di halaman MPR/DPR, dia bertindak sendiri. Pada waktu itu, di jaman Soeharto, pintu masuk gedung MPR/DPR masih terbuka untuk umum… praktis tidak ada penjaga yang bertugas mencegah tamu, siapa pun, datang berkunjung ke Rumah Rakyat, apalagi melarangnya. Baru di jaman SBY (2007) dibuat Pintu Gerbang dengan pagar setinggi 6 (enam) meteran…

Tapi Nuku ditangkap, lalu diadili, dan dijatuhi hukuman 6 tahun, dengan tuduhan “menghina Soeharto”. Nuku masih mencoba perasaan keadilan para Hakim Tinggi dan Hakim Agung… Tetapi para Hakim Agung menghadiahinya dengan hukuman lebih tinggi, 8 (delapan) tahun penjara… Dia pun masuk ke Lapas Cipinang (1996).

Pada hari yang sama, siang harinya, juga datang di halaman MPR/DPR, 21 Aktivis, termasuk Yenny Rosa Damayanti, menuntut pembubaran Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), suatu lembaga kenegaraan super kejam yang dibuat Soeharto, yang inkonstitusional. Soeharto melarang Rakyat buka mulut, karena Kedaulatan Rakyat sudah dijalankan sepenuhnya oleh MPR (Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 Asli). Mereka pun ditangkap, diadili dan masuk penjara dengan lama hukuman rata-rata setahun lebih. Hendropriono, Pangdam Jaya, menyebut mereka “kucing kurap”.

Hendro adalah jongos Soeharto, yang juga membunuh banyak warganegara Indonesia yang Islam dan Pribumi, seperti di Talangsari, Lampung. Sekarang Hendro mengabdi kepada Megawati dan menjadi Jongos Jokowi. Masih ada beberapa Jongos Jokowi yang lain. Jokowi kebih gawat daripada Soeharto… Tidak cuma Dalang, tetapi Sumber segala Bencana.

Konon menurut Psychiater, Jokowi mengidap penyakit jiwa… alias “tidak waras”. Maklum, dia terlahir dari perempuan yang masih sangat belia… belum sampai 15 tahun… bahkan ada yang bilang baru 10 tahun! Bapaknya pun meninggalkannya dan menitipkan ibu dan bayinya kepada seorang lelaki dari keluarga si Ibu belia. Masyarakat mengenalinya sebagai preman-preman komunis… Maka bisa dibayangkan, bagaimana hidup si Orok… Dia menderita lahir dan batin menjalani kehidupan masa balitanya…

Baca Juga :  Agnez Mo Ngevlog Bareng Jokowi di Istana

Ketika mulai bersekolah, sepertinya dia tumbuh seperti anak-anak lazimnya dengan.panggilan Joko Oey… Mungkin Oey nama keluarga Bapaknya yang minggat. Sulit mengucapkannya, guru-gurunya pun menyebutnya Jokowi. Di Sekolah Dasar baru namanya diperbaiki menjadi Joko Widodo.

Dalam kesulitan mencerna kehidupan dalam suasana Salah Asuhan masa kecilnya, rupanya amarah dan dendam kesumat mewarnai jiwanya. Tanpa disadari banyak orang, Joko menjadi jahat, kejam, suka berbohong, suka ingkar janji dan suka mengkhayal yang bukan-bukan. Joko berkhayal menjadi orang terkenal dan dikenal lewat segala perbuatan yang tidak rasional. Dia suka mencuri pikiran orang demi kepentingannya sendiri.

Dalam beberapa hal, Joko berhasil. Sekalipun orang ragu, apakah dia benar lulus sarjana dari UGM. Sejauh ini pihak UGM tutup mulut…

Jokowi muda mulai suka menyendiri dan melamun… Itu terjadi ketika dia mulai merasa pusing kepala yang amat sangat… dan sering terngiang suara-suara aneh yang mengganggu di dalam benaknya. Dia mulai suka mengembara, tidur berhari-hari di puncak gunung… Orang melihatnya seperti sedang bertapa… di Gunung Merapi, Merbabu, Semeru dan lain-lain.

Baca Juga :  Postingan Saya di Instagram Jadi Viral, Sebuah Opini Natalius Pigai
Masyarakat Solo mulai melihat Jokowi sebagai sosok yang berpotensi. Demikian pula, khususnya para Pengusaha Cina, yang mulai mengendus asal-usulnya, juga ikut memperhatikan… bahkan mendukungnya. Ketika Joko mulai dikuasai nafsu “megalomania”-nya dan bermimpi menjadi Walikota, para tokoh Batik Keris, Sritex, Sun Motor dan lain-lain ikut mendukungnya… dengan keuangan dan lain-lain. Joko berhasil menjadi Walikota Solo. Para Konglomerat Solo pun mulai nemperhatikan Joko untuk langkah-langkah lebih lanjut….

Megalomania sebetulnya bukan penyakit, apabila dia bisa dikendalikan. Setiap orang punya nafsu untuk nenjadi besar dan hebat. Bung Karno dan Pak Harto, juga Megawati punya sifat kejiwaan itu. Tapi mereka punya kemampuan untuk mengendalikan. Sedang Joko tidak! Melihat riwayat hidupnya sejak kecil, para Ahli Jiwa sepakat, Jokowi tidak mampu mengendalikan diri… Pengalaman hidupnya yang penuh derita, pahit dan getir tidak memberinya kesempatan…

Joko sebenarnya tidak kenal siapa dirinya… Dia amat labil dan perilakunya yang aneh bisa membikin orang celaka… Bahkan Joko bisa menjadi liar, sekalipun tidak biasa melakukan kekerasan… melainkan pikiran-pikirannya yang selalu menciptakan konflik!

Joko selalu melihat konflik di lingkungan masa kecilnya… dengan ibunya, dengan bapak angkatnya, dengan saudara-saudara tirinya, dengan preman-preman atheis di sekelilingnya… Joko sebenarnya menderira penyakit kejiwaan amat berat yang disebut Schizophrenia…
(bersambung)

Loading...

Baca Juga