oleh

Belajar Dari Amerika. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Belajar Dari Amerika. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso.

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Melihat CNN membahas Riot di Capitol Hill tempo hari membuat saya merasa cemas juga dengan situasi sosial kita. Play book-nya sepertinya plek, sama. Apakah itu? Yakni, saling melakukan demonisasi. Menebar berita hoax, propaganda demonologi dan konspirasi teori dengan sentimen kebencian; “Sebarkanlah kebohongan, maka lambat laun kebohongan itu akan diyakini sebagai kebenaran.”

Esensi demonologi ialah menutupi kegagalan melalui pengalihan isu hulu yang hakikatnya merupakan pokok permasalahan bangsa, karena tidak mampu diselesaikan dan diatasi oleh rezim, kemudian diubahlah menjadi isu-isu hilir yang remeh-temeh untuk menutupi kegagalan dan memancing kegaduhan. Padahal isu hilir itu sendiri hanyalah sebuah residu (imbas terjauh) dari permasalahan (isu) hulu tadi.

Demonisasi yang terjadi di Amerika menurut amatan tukang kopi adalah sama seperti yang terjadi di Indonesia, bedanya cuma pada basis pembentukan kelompok yang bertikai. Kelompok konservatifnya Amerika adalah WASP (White Anglo Saxon Protestan). Sementara di Indonesia Islam pribumi. Di Amerika yang dilawan adalah sosialist atau lefties. Sedang di Indonesia, yang dilawan kaum nasionalis (yang sebenarnya konservatif juga).

Kaum progresif di Indonesia terlalu kecil untuk bisa punya kelompok sendiri. Akhirnya terpecah berdasarkan isu atau kepentingan-kepentingan jangka pendek. Lucunya, seringkali merekalah yang saling bertengkar di sosmed karena biasanya memang punya otak dan argumen.

Amerika telah merasakan buah kebohongan yang terus ditiupkan oleh presidennya. Kebohongan yang dipercaya oleh pendukungnya secara membabi buta yang meledak juga akhirnya. Sedang kondisi kita sebenarnya tidak jauh beda. Fanatisme buta, meski telah dibohongi habis-habisan. Tapi di sini bahkan lebih parah karena ada UU ITE yang bisa digunakan untuk membungkam suara yang berbeda yang biasanya dari kelompok yang berseberangan.

Kalau mau mencari perbedaannya, kebohongan presiden kita lebih pada janji-janji kampanyenya. Yang semuanya mengandung PHP alias prank. Sementara racun kebencian terhadap lawan politik (istimewanya di Amerika dilakukan sendiri oleh Donald Trump), sedang di sini dilakukan bukan saja oleh presiden sendiri, tapi oleh rombongan pendukungnya, menteri-menteri kabinetnya, juga para BuzzeRpnya, berikut media-media mainstreamnya. Dan ditopang oleh aparat penegak hukum negara. Makanya sekalipun menyebar kebohongan ya tidak akan dipermasalahkan wong aparat penegak hukum ada di pihak penguasa.

Setelah pecahnya riot di Capitol Hill, pendukung presiden Trump beramai-ramai mengambil jarak. Pertanyaannya, di mana mereka saat presiden memulai kebohongan-kebohongan itu? Tidakkah mereka bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kebohongan itu dibiarkan meracuni pendukung-pendukung presiden?

Kalau anda dengar pendukung Trump, anda akan mendengar ketakutan dan kebencian mereka pada “Socialist America”. Ini sebenarnya tidak beda-beda amat dengan ketakutan akan Khilafah yang disematkan pada ormas HTI maupun eFPeI. Kenapa? Karena Socialist America itu yang selalu dijadikan musuh oleh Trump dan Republikan, sama seperti di sini kelompok Islam yang didemonologikan sebagai Islam garis keras dan radikal yang harus dianggap musuh bersama dan dibinasakan.

Saya tidak tahu apakah itu terlalu lambat. Tapi rasanya belum terlambat buat kita untuk menghikmahi peristiwa Riot di Capitol Hill Amerika. Jangan lagi racuni rakyat kita dengan ketakutan hanya untuk perolehan suara pemilu atau pilkada. Perbedaan pandangan atau pilihan politik seharusnya bukan menjadi alasan untuk melakukan demonisasi.

Dan tanggung jawab media dengan polarisasi bangsa selama ini sangatlah besar. Demi beritanya diklik, mereka dengan senang hati membuat headline bombastis untuk dipakai sebagai amunisi dua kubu yang saling berlawanan berantem. Hoax menjadi industri favorit dengan berbagai fabrikasi, seperti komoditi fitnah, meme negatif, hasutan terstruktur, dan seterusnya. Yang dalam opini pojok warung kopi dua tahun lalu dikatakan; banyak orang makan “bangkai”, dan minumnya darah. Tanpa rasa empati, bernyanyi di atas luka-luka korban-korbannya. Sudah dan tengah berlangsung kini. Belum lagi sering mengutip pendapat orang-orang yang cuma punya kebencian sebagai nara sumber. Kapan gitu kapoknya? Nunggu pertumpahan darah?

Hingga hari ini, saya belum melihat tanda-tanda polarisasi ini akan memudar. Apa lagi di sosmed. Terlalu banyak orang yang pikirannya sudah dikunci dengan rasa benci. Baperan pulak. Yang begini kapan ya matinya… ehhhh!

Amerika mengadakan Pemilu 4(empat) tahunan. Indonesia 5(lima) tahunan. Tetapi Amerika pasti akan move on dalam 2(dua) tahun. Indonesia? Mungkin bisa sampai perang sodara.

Mbok sudah, berhenti untuk melakukan demonisasi terhadap sesama warga. Memotret Islam sebagai kekerasan, Arab dipeyoratifkan sebagai kadrun, intoleran, sebagai kebodohan, sumbu pendek yang ngamukan saat simbol-simbol agamanya disinggung, umat Islam dianggap satu-satunya potensi radikalisme, apa-apaan ini?! Bukankah semua ideologi itu berpotensi radikal? Tidak terkecuali agama-agama selain Islam, bahkan orang-orang berpaham liberal sekalipun. Radikalisme bisa menjangkiti orang-orang liberal yang keras kepala dengan alur berfikirnya, yang biasanya berkembang menjadi atheis setengah mateng karena siang malam nyinyirin agama dan Tuhan. Karena jika atheisnya mateng, dia akan sibuk memaki dirinya sendiri, dan berhenti membicarakan agama dan Tuhan.

Ada pihak yang mengobarkan sentimen agama, dilawan pakai kebinekaan, Pancasila, intoleransi, cap radikal, dijuluki kadal gurun ya runyam. Karena kalian memindahkan pertempuran politik ke pertempuran sentimen. Sudah tahu agama cuma jadi alat politik, ya harusnya mbokya pinter nyari strategi untuk menihilkan efektifitas dari alat tersebut. Sementara yang kalian kerjakan justru membuat alat itu semakin kuat; penembakan 6 (enam) orang warga sipil di toll, penangkapan tokoh dan pembubaran eFPeI.

Musuh kita itu harusnya sama. Ketidakadilan sosial yang bersumber pada oligarki politik. Oligarki itu juga yang menguasai lahan, pangan, energi, obat obatan, transportasi (informasi dan hukum), bahkan para jendral dan presiden juga mereka kuasai. Musuh bersama itulah yang membuat kemiskinan tak bertepi di negeri kaya raya. Musuh bersama itu yang membuat rakyat kehilangan kedaulatannya di tanahnya sendiri.

Loading...

Baca Juga