oleh

Kejari SBB Restorative Justice Kejadian RL Memukul Oknum Polisi

SUARAMERDEKA.ID – Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat, Sugih Carvallo, SH, MH menyelenggarakan Restorative Justice permasalahan pemukulan terhadap oknum polisi di Ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kantor Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat.

Hadir dalam Restorative Justice Kajari Sugih Carvallo, SH, MH. Kasi Intel Haris Prangganata, SH. MH. Kasi Pidsus Junita Sahetapy, SH. Kasubsi Pra Penuntutan Garuda Cakti Viratama, SH. Jaksa Fungsional Farids Ditra Rastra Musa, SH. MH. Staf Intelijen Kevin Riana, SH. Pejabat desa murnaten, Kapolsek taniwel, Korban Pemukulan, RL, dan Ayah RL.

“RL diduga melakukan tindak kekerasan terhadap salah satu oknum anggota Polisi yang bertugas di Polsek Kairatu. Pada saat ia hendak mengikuti acara Baptis di Desa Murnaten, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat,” kata Sugih Carvallo, Kamis (25/3/2021).

Ia menuturkan, peristiwa  terjadi pada hari Minggu 7 Februari 2021 lalu sekitar pukul 20.00 WIT. Bermula saat Abraham Wemai seorang Polisi aktif hendak berjalan menuju rumah salah satu warga setempat untuk buang air kecil. Saat Abraham dalam perjalanan ke tempat yang ia maksud, tiba-tiba ia cegat oleh RL. Saat itu RL bersama dengan dua orang pemuda setempat.

“Korban sempat meminta permisi kepada pelaku dan rekan-rekannya. Mereka juga pada saat itu menanyakan alamat dan asal usul korban. Namun tak lama kemudian pelaku melakukan pemukulan terhadap korban sebanyak Tiga (3) kali di bagian area wajah korban. Pelaku pemukulan juga pada saat itu sedang dirasuki minuman keras hingga ia tidak sadar jika yang ia pukul merupakan Polisi,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil Visum et Repertum No RM : 22-01-01 tanggal 08 Februari 2021 yang dikeluarkan oleh Puskesmas Perawatan Taniwel dan tertanda tangani oleh dr. Riostamenia Pesahlia. Akibat perbuatan RL, Abraham Wemay mengalami luka lecet pada bibir bawah bagian dalam, selaput pipi bagian kiri.

RL diancam dengan pasal 351 Ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda maks. Rp. 4.500.

Namun berdasarkan hasil pantauan terakhir, peristiwa demikian di selesaikan secara kekeluargaan antara dua belah pihak. Peristiwa ini diselesaikan di Kejari SBB, dengan syarat pelaku pemukulan terhadap korban menandatangani Akta perdamaian.

Diketahui, Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 itu memberikan hak kepada jaksa penuntut umum (JPU) untuk menghentikan penuntutan terhadap terdakwa dalam kasus-kasus tertentu. Apabila pihak-pihak yang terlibat sudah sepakat berdamai (Restorative Justice).

“Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restorative, Kejari Seram Bagian Barat harap ini menjadi acuan bagi kita sekalian untuk mengedepankan asas kekeluargaan. Jadikan ini sebagai kesempatan untuk membuktikan kepada publik bahwa kejaksaan dekat dengan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat,” tutup Carvallo. (SMS)

Loading...

Baca Juga