oleh

Kenapa Harus Poligami? Opini Azzam Al Fatih

Kenapa Harus Poligami? Oleh: Azzam Al Fatih, Pemerhati Umat dan Aktivis Dakwah.

Entahlah, yang pasti tema tersebut memang kerap dirembug dalam banyak forum. Baik itu di tempat kajian, di kantor, atau yang paling banter saat ini adalah di medsos.

Sayangnya, menurut kaca mata saya yang ‘plus-minus’ ini, obrolan seputar poligami kebanyakan hanya dijadikan sebatas kelakar belaka. Sekedar main seru-seruan, layaknya anak kecil yang beradu layangan. Saling senggol. Terlalu asyik.

Ya, mereka.. kaum Bapak tersebut tidak memang berasa asyik kalau sudah membincangkan urusan ‘mendua’. Meskipun mereka beraninya main keroyokan, rame-rame. Itupun di dunia maya.

Semoga mereka nggak lupa, bahwa apa yang mereka jadikan bahan berkelakar tersebut adalah salah satu perkara sunnah yang mulia.

Aneh. Gemar berkelakar di dunia maya, namun takut akan dunia nyata.

Intinya ketika kaum Bapak tersebut sedang berada di rumah, maka dengan serta merta ‘keep silent’ atas urusan yang mengasyikkan tadi. Ya, mereka ternyata takut membincangkan dengan istri dan keluarga di rumah.

Lucunya, dari sekian banyak orang yang getol menyuarakan poligami tersebut, tidak satupun di antara mereka ada yang berani ‘action’. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya keberanian untuk ber-istri dua.

Apa yang mereka takutkan?
Belum siap. Takut menghadapi banyak masalah. Takut nggak mampu adil, dll, dst..
Yang pasti, mereka memang banyak yang ‘tidak sanggup’, itu aja. Tapi sok pasang niat. Hmm!!

Itu sebabnya, kenapa saya jadi setengah protes, atau tiga perempat protes.

Ya, karena saya merasa prihatin. Prihatin pada mereka yang demen jadi kompor, provokator, tapi tak mau jadi pelopor.

Baca Juga :  Pemkab Banyuwangi Gelontorkan Rp.717 Juta Untuk Santunan 2.900 Anak Yatim

Ini pun saya tidak bermaksud ngojok-ojokin supaya kaum Bapak tersebut pada nikah lagi. Bukan, sumpah!

Tapi lebih menekankan, agar jangan sampai syariat poligami hanya dijadikan sebagai bahan guyonan, atau sekedar buat saling manas-manasin di antara mereka. Sebab Rosul kita melaksanakan syariat tersebut secara sungguh-sungguh dan dalam rangka ibadah kepada Alloh SWT semata.

Maka seyogyanya bagi yang mengaku sebagai ummatnya, jangan sampai terkesan atau cenderung melecehkan salah satu sunnahnya. Seolah-olah poligami itu mereka jadikan suatu target. Padahal mereka sadar, bahwa target tersebut tidak mungkin akan dilaksanakan di kemudian hari. Pahala niat tidak akan didapat dengan cara seperti ini. Sebab niat itu adanya dihati. Bukan diumumkan setiap saat.

Poligami. Memang ia bisa tampak indah dari satu sisi, namun bisa jadi menakutkan dari kacamata yang lain.
Dan satu-satunya barometer yang layak menilai hanya syari’at. Dimana semua itu telah diatur oleh hukum secara jelas. Sangat jelas.

Ironisnya, banyak di antara mereka tidak berfikir secara Islami. Layaknya kaum filsafat. Pola fikir yang sia-sia. Menguras hati juga tenaga. Membikin diri terlalu larut dalam teori-teori. Sampai-sampai diperlukan banyak bilangan hari hanya untuk sekadar omong kosong.

Mereka sok intelek, sok faham tentang perasaan wanita, yaitu ‘rasa cemburu’

Dilema memang.

Namun apa hendak dikata? Soalnya banyak di temui kasus-kasus keterpurukan poligami, yang umumnya mereka ngaku-ngaku sebagai pengusung Islam. Yakni orang yang suka ambil enaknya saja dari syari’at. Demen poligami, bahkan menjadi ujung tombak dalam kampanye poligami. Tapi minus terhadap perjuangan Islam yang lain.

Hampir bisa dipastikan, bagi pelaku poligami yang tidak bisa memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, hal itu hanya akan menjadi duri yang setiap saat mengoyak dan melukai hati pasangan.

Baca Juga :  Sumbangan Untuk Sandi Adalah Bentuk Ketulusan Aspirasi Rakyat

Sehingga wajarlah jika kebencian sebagian kaum Emak menjadi kesumat. Ini semua akibat buruknya tata cara yang mereka jalankan dalam berpoligami, yaitu sesudah dan sebelum taadud.

Sampai-sampai banyak di antara kaum wanita yang menyatakan ‘lebih baik diracun ketimbang dimadu. Ngeri bukan?

Kesalahan dan keburukan sebelum berpoligami diantaranya yaitu;
Ada yang memulainya dengan selingkuh. Ada yang langsung nikah diam- diam. Ada pula yang sudah menikah dulu, baru memberitahu ke pihak ketiga/istri. Pun ada yang ketika istri pertama tidak mengijinkan, dengan teganya si suami malah langsung menceraikan. Sadis!
Berkedok poligami, padahal sejatinya mau ganti istri. Yang demikian ini jangan sampai antum ngaku-ngaku sedang menjalankan sunnah ya?!

Please, jangan merusak tatanan. Jangan menciptakan image bahwa poligami itu buruk dan mengerikan. Poligami itu indah. Sangat indah. Bagi yang mampu menjalani.

Yah..meski seorang suami dibolehkan menikah lagi tanpa harus ijin sang istri. Namun thayyib-kah cara itu (menikah diam-diam)
Bukankah segala kebaikan itu hrs di awali dengan kebaikan pula?

Maka, jika antum tidak punya cukup cinta untuk membuat bahagia, setidaknya nggak usah cari masalah dengan menambah derita.

Ingat, ‘mempertahankan itu lebih baik, ketimbang memulai yang baru.

Semoga antum tidak menjadi orang hanya bisa menawarkan janji-janji keindahan syari’at, yang sejatinya tidak pernah antum jalankan.

Pahamilah hakekat kecemburuan. Dan pandailah menjaga perasaan.

Orang yang berpoligami, bukan berati dia tidak setia.
Orang yang setia, pun tidak dibenarkan menolak .

Wallahu’Alam Bhishowwab.

Loading...