oleh

Lilis Iyan Nuryanti : Islam Solusi Tuntas Mengatasi Kemiskinan

Islam Solusi Tuntas Mengatasi Kemiskinan

Oleh : Lilis Iyan Nuryanti, S.Pd
(Komunitas Pena Islam)

Sungguh ironis seorang ibu yang seharusnya melindungi, ini malah menganiaya anak kandung sendiri. Seperti dilansir dari detik.news.com (21/03/2022), seorang Ibu yang berinisial KU (35) di Brebes, Jawa Tengah (Jateng), diduga menggorok tiga anaknya sendiri. Satu anaknya tewas dengan luka sayat di leher, sementara dua lainnya dilarikan ke rumah sakit (RS).

“Saat pintu dibuka, anak yang bernama ARK (7) sudah dalam kondisi meninggal dunia. Ada luka sayat di leher,” kata Kapolsek Tonjong AKP M Yusuf, seperti dikutip dari detikJateng, Senin (21/3/2022).

Yusuf mengatakan kedua korban lainnya yang berinisial KSZ (10) dan E (5) mengalami luka parah. Tubuh mereka penuh luka sayat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tubuh ARK mendapat luka sayat di leher kiri sepanjang 12 cm, dengan kedalaman 5 cm.

Kasus ini bukan yang pertama kali terjadi, kasus dengan motif serupa yang terjadi satu tahun lalu di Dusun II Desa Banua Sibohou Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara. Dimana tiga orang balita menjadi korban pembunuhan ibunya sendiri MT (30), korban yang berinisial YL (5), SL (4), DL (2) ditemukan tewas dengan leher nyaris putus. Peristiwa pembunuhan terjadi ketika penghuni rumah lainnya tengah pergi ke TPS untuk mencoblos pilkada.

Dan masih banyak kasus-kasus serupa yang diangkat maupun tidak diangkat oleh media. Kasus filisida (filicide) atau pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak kandungnya sendiri, nyaris terjadi setiap tahunnya di Indonesia.

Kebanyakan hal itu terjadi karena desakan ekonomi. Anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang justru menjadi pelampiasan kekerasan orangtuanya.

Fitrahnya Ibu sebagai pelindung bagi anak-anaknya jadi hilang, dikarenakan tekanan fisik maupun mental yang tidak mampu menopang kuatnya kasih sayang seorang ibu. Begitu rapuhnya hingga tidak dapat berpikir jernih ketika didera masalah hidup.

Mereka berpikir terhadap sesuatu dengan kacamata Kapitalis-sekularis. Dengan cara pandang inilah, banyak orang menganggap bahwa kebahagiaan hanya didapatkan ketika materi diraih sebanyak-banyaknya. Tuntunan Agama dikesampingkan, bukannya bertawakkal dan ikhlas, tapi malah menjadi stress dan mencoba untuk membunuh anak-anaknya dengan dalih supaya mereka tidak ikut bersedih seperti dirinya karena tidak kuat menahan pahitnya kehidupan.

Baca Juga :  Kemenkumham Seram Bagian Barat Deklarasi Janji Kinerja

Sistem ekonomi kapitalisme neoliberal yang diadopsi negeri ini, menjadikan hanya pemilik modal saja yang diuntungkan dalam menguasai harta rakyat. Pemilik modal boleh menguasai kekayaan negeri yang seharusnya hal tersebut menjadi milik umat untuk menjamin segala kebutuhan masyarakat. Membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin, sehingga kesenjangan ekonomi semakin menganga.

Dengan kata lain, meskipun sumber daya alam melimpah ruah, tetap saja masih banyak keluarga yang tidak mempunyai penghasilan. Laki-laki sulit mendapatkan pekerjaan. Hal ini menjadi salah satu sebab dari banyaknya angka pengangguran yang menyebabkan banyak rumah tangga jadi depresi akan ekonominya karena kesulitan memenuhi kebutuhan.

Kewarasan seorang Ibu jadi terusik karena pusing memikirkan bagaimana caranya menutupi kebutuhan hidup. Maka jelas bahwa sistem Kapitalisme sekulerlah yang menjadi biang masalahnya. Oleh karena itu, agar kasus di atas tidak terulang kembali, solusinya juga harus bersifat sistemik. Tidak cukup hanya dengan perbaikan kejiwaan individu pelakunya. Akan tetapi harus membuang sistem yang merusak ini dengan sistem yang shahih (benar) yang mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Ibu merupakan jantung sebuah rumah, jika keadaannya tak baik (stress) maka keadaan rumah pun akan kacau. Banyak rumah tangga yang hancur karena masalah ekonomi, bahkan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab perceraian tertinggi. Kemiskinan juga menjadi faktor dari berbagai aksi kriminal, mulai dari pembunuhan, pencurian dan lain sebagainya. Kemiskinan menjadi problem panjang yang tidak kunjung mendapat solusi tuntas.

Maka sudah seharusnya sistem kapitalisme ini dihentikan lalu ganti dengan sistem Islam yang mempunyai solusi tuntas, bukan hanya masalah ini namun semua problematika kehidupan.

Islam memandang bahwa buruknya distribusi kekayaan menjadi penyebab utama terjadinya kesenjangan. Sedangkan peran pemerintah sangat penting dalam pendistribusian kekayaan. Oleh karena itu, salah satu kunci terselesaikannya permasalahan ini adalah peran sentral pemerintah. Pemerintahlah yang memiliki kewajiban menjamin kebutuhan umat.

Baca Juga :  Republik Indonesia Bab Dua (10): Politik Pintu Terbuka: Invitation to Invide

Berbeda dengan pemerintahan Islam yang memiliki aturan menyejahterakan setiap rakyatnya. Sistem ekonomi mandiri milik Islam membuat kebijakannya selalu memprioritaskan kepentingan rakyat, bukan lagi mendahulukan kepentingan para korporat seperti yang terjadi di negeri ini saat ini.

Harta tidak boleh hanya beredar antara orang kaya saja, artinya pendistribusian kekayaan harus merata. Adapun anggaran yang digunakan oleh negara untuk membantu rakyat yang tidak mampu diambil dari pos zakat, sesuai dengan surah At-Taubah: 60.

Apabila pos zakat tidak mencukupi maka negara wajib mencarinya dari pos lain di Baitulmal, jika pos lain pun kosong maka kaum muslim berkewajiban menafkahi orang miskin secara kolektif. Secara teknis bisa dilakukan dengan dua acara: Pertama, kaum muslim secara individu membantu orang-orang miskin secara langsung.

“Tidaklah beriman kepada-Ku, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya kelaparan, sementara dia mengetahuinya.” (HR Ath-Thabrani)

Kedua, dengan skema dharibah (pungutan insidental) dimana orang laki-laki muslim kaya akan diminta pungutan hingga kebutuhan umat terpenuhi. Jika sudah terpenuhi, maka pungutan ini pun tidak diperlukan lagi dan negara akan menghentikan skema ini.

“Dan pada harta benda mereka, ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (TQS Az-Zariyat: 19)

Dengan demikian kemiskinan dapat diatasi sehingga kesenjangan pun tidak akan terjadi karena kekayaan terdistribusi dengan baik dan merata. Kelebihan harta orang kaya tersalurkan kepada masyarakat miskin, bukan pada bursa saham atau lainnya. Kesuksesan sistem Islam dalam mengelola perekonomian umat bisa dilihat dari sejarah pada saat Khilafah ditegakkan, salah satunya pada era Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ditemukan satupun orang miskin, semua rakyatnya hidup berkecukupan. Dengan sistem ekonomi yang dimiliki Islam, kaum ibu tak akan kehilangan fitrah keibuan mereka, kewarasan mereka akan tetap terjaga. Terlebih tanah air kita ini memiliki kekayaan alam melimpah ruah, jika dikelola dengan baik maka akan bisa menyelamatkan hidup banyak orang terutama masyarakat miskin.

Wallahu A’lam bish shawab.

Loading...