oleh

Merasa 2 Rumahnya Dirobohkan dan Dibalik Nama, Muhammad Lapor ke Polresta Banyuwangi

SUARAMERDEKA.ID – Muhammad (57)  mendatangi Polresta Banyuwangi untuk melaporkan pembongkaran secara paksa dua rumahnya yang diduga dilakukan oleh seorang pengusaha pengolahan plastik di Rogojampi yang bernama Cungket alias Sujio. Ia juga melaporkan dugaan pemalsuan data terkait proses pembuatan akta jual beli hingga bisa beralih nama menjadi Cungket.

Kedatangan warga Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi yang kesehariannya menjadi tukang rongsokan ke Polresta Banyuwangi, Rabu (19/8/2020) ini didampingi sejumlah LSM, aktivis dan pengacara.

Yunus atau yang dikenal dengan julukan Harimau Balambangan yang ikut mendampingi Muhammad mengatakan, dirinya beserta rekan rekan LSM lainnya dan pengacara yang ada di Banyuwangi merasa terpanggil atas apa yang menimpa wong cilik. Ia menyebut Muhammad ini adalah sosok yang terzolimi. Dengan kekuatan ekonominya, orang berduit tersebut menghalalkan segala cara untuk dapat mengambil harta milik orang lemah dan tak berdaya.

“Dalam kasus ini, saya menduga ada indikasi pemalsuan, penggelapan dan penipuan. Saya mewakili beberapa LSM dan Pengacara saat mengantarkan Mohammad beserta istrinya melaporkan kasus tersebut ke Polresta Banyuwangi,” katanya di Mapolresta Banyuwangi.

Ia pun menyatakan berterima kasih kepada pihak kepolisian, karena telah menerima laporan Muhammad. Yunus optimis, pelaporan ini akan segera ditindaklanjuti untuk mendapatkan sebuah keadilan.

“Saya mengapresiasi pihak Kepolisian Resort Kota Banyuwangi. Karena masih peduli dengan nasib orang lemah seperti Mohammad ini untuk mencari sebuah keadilan,” ujarnya lagi

Sementara itu, menurut pengakuan Mohammad, dan istrinya Ismiyati, saat keluar dari pintu ruang Unit Pidsus, Polresta Banyuwangi, dirinya mengatakan kalau dua rumah miliknya tersebut tidak pernah menjual kepada siapapun. Apa lagi ke Cungket. Bahkan ia mengaku tidak pernah hadir mendatangi notaris dalam urusan jual beli rumahnya dengan Cungket.

“Demi Allah, saya tidak pernah menjual dua rumah saya ke Cungket. Apalagi saya datang ke Notaris untuk mengurus akta jual belinya. Kalau saya bohong, saya berani ditembak,” kata Ismiyati, istri Mohammad

Lanjutnya, pada tahun 2010, dirinya dihubungi Cungket menawarkan membantu melunasi hutangnya di bank sebesar Rp. 110 juta atas sertifikat dua rumah itu. Setelah dua sertifikat rumah itu keluar, Muhammad dan istrinya menyerahkan kedua sertifikat tersebut kepada Cungket sebagai jaminan setelah diberikan pinjaman uang tersebut, tanpa adanya perjanjian apapun.

“Saya hanya berpesan kepada Cungket. Saya titip dua sertifikat ini agar disimpan dengan baik. Saya masih cari uang di Bali. Bukan berarti saya menjualnya kepada Cungket,” Muhammad.

Ia menjelaskan, pertamakali Cungket melakukan pengosongan dua rumah secara paksa terjadi pada tahun 2012. Kemudian disusul dengan pembongkaran rumah pada tahun 2018 dan terakhir bulan Juli 2020 ini.

Sedangkan dari pengakuan Cungket sendiri saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, mengaku telah membeli dua rumah milik Muhammad tersebut. Karenanya, ia pun tak ragu untuk merobohkan dua rumah yang dulunya pernah menjadi tempat tinggal Muhammad beserta keluarganya tersebut, hingga rata dengan tanah.

“Itu milik saya, sudah jual beli komplet dan bersertifikat atas nama saya,” kata Cungket saat di konfirmasi di pabrik pengolahan plastik miliknya, di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Kamis (13/8) lalu.

Kendati demikian, ia tidak bersedia untuk menunjukkan bukti kepemilikan rumah yang dimaksud.

” Tidak bisa kalau saya tunjukkan ke sampeyan. Laporkan dulu ke Polisi. Ya maaf, prosedurnya kan seperti itu. Yang berhak melihat itu Polisi,” terang Cungket. (BUT)

Loading...

Baca Juga