oleh

Mulyanto: Pemerintah Jangan Pasang Target Lifting Blok Rokan Terlalu Bombastis, Nanti Malu

SUARAMERDEKA.ID – Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto meminta pemerintah realistis serta objektif dalam menentukan target lifting Blok Rokan berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Selain mempengaruhi asumsi angka pendapatan negara, memasang target yang terlalu tinggi akan membuat malu jika tak tercapai.

Pernyataan ini disampaikan Mulyanto menanggapi pihak PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), RP Yudantoro, yang memasang target 300 ribu barel per hari (bph) jika sudah mengelola Blok Rokan. Rencananya, serah terima pengelolaan Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina pada 9 Agustus 2021.

“Pertamina jangan sesumbar memasang target besar, yakni 300 ribu bph yang hampir dua kali lipat dari kinerja lifting yang ada sekarang, tanpa perhitungan yang akurat. Sebab kesalahan hitung target lifting dapat berpengaruh terhadap angka-angka asumsi makro pendapatan negara,” kata Mulyanto di Jakarta, Kamis (31/12/2020).

Wakil Ketua Fraksi PKS ini mengingatkan PHR untuk fokus menjaga kinerja lifting Blok Rokan agar tidak turun dari realisasi lifting sebelumnya.

“Yang terakhir ini lebih realistis dari pengelolaan sumur-sumur tua pasca alih kelola. Apalagi pandemi Covid-19 di kita belum lagi usai. Mobilisasi orang dan alat masih terkendala. Jangan memasang target yang terlalu bombastis. Nanti malu kalau tidak tercapai,” ujar Mulyanto.

Mulyanto menambahkan di masa transisi alih-kelola Blok Rokan ini Pertamina tidak berhasil bernegosiasi untuk dimungkinkan melakukan pengeboran sumur baru. Padahal tidak mungkin Chevron mengerjakan tugas ini. Karena sudah menyatakan mengakhiri kontrak kerja mereka di blok ini.

“Target lifting minyak kita sendiri dari tahun ke tahun semakin turun, begitu pula realisasinya. Sementara, baru saja Pemerintah mencanangkan target lifting 1 juta bph di tahun 2030, terjadi pandemi Covid-19 sejak Maret tahun ini. Memang kondisinya tidak terlalu kondusif,” imbuh Mulyanto

Lanjutnya, Pertamina perlu berkonsolidasi lebih baik lagi untuk sektor hulu migas yang ditanganinya. Karena bila tidak ada aral melintang, secara resmi Blok Rokan, dengan lifting minyak nomor dua setelah Blok Cepu yang dikelola Exxon Mobil, akan diambil alih pada tanggal 9 Agustus 2021.

“Ini akan menjadi sejarah baru bagi pegelolaan hulu migas Indonesia. Karena Pertamina menjadi dominan menguasai hampir sebesar 63 persen dari total produksi minyak nasional,” tuturnya.

Mulyanto menekankan, ia tidak bermaksud mengecilkan kemampuan Pertamina mengeksplorasi kilang minyak di Blok Rokan. Politisi senior PKS ini mengaku senang jika Pertamina benar-benar dapat merealisasikan target lifting yang sudah dihitung secara cermat.

Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya, kata Mulyanto, target lifting terus menurun. Begitu pula realisasi capaiannya. Apalagi untuk alih kelola sumur-sumur tua. Sementara saat ini masih dalam kondisi pandemi COVID 19 sehingga menimbulkan masalah dalam mobilisasi tenaga kerja dan alat kerja.

“Jadi tolong dihitung yang benar. Jangan asal-asalan atau sekedar mencari sensasi,” pungkas Mulyanto. (OSY)

Loading...

Baca Juga