oleh

Pendidikan Normal Baru. Opini Rizqiyyah Qutrum Nada

Pendidikan Normal Baru. Oleh: Rizqiyyah Qutrum Nada, Mahasiswa IAIN Pekalongan Jurusan PAI.

Coronavirus Disease-19 merupakan virus terbaru yang bermula di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu. Virus ini sangat cepat menyebar antar manusia melalui lendir batuk, bersin atau percikan kecil ludah seorang yang berbicara (pasien positif Covid-19) ke orang lain (manusia negatif Covid-19). Sudah hampir seluruh dunia terpapar virus terbaru ini.

Di Indonesia sendiri, kasus Covid-19 ini pertama kali muncul pada pertengahan bulan Maret 2020 kemudian data perkembangan Covid-19 per tanggal 18 Juni 2020 mencapai 42.762 orang terpapar. Harus selalu berhati-hati dan pastikan kesehatan pribadi dan keluarga agar tak terpapar karena virus ini belum ditemukan penawarnya.

Banyak sub sektor yang dirugikan karena virus ini, mulai sektor pariwisata, transportasi, perdagangan, dan tidak ketinggalan pula dalam pendidikan. Pemerintah pusat khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan untuk belajar dari rumah dari tanggal 15 Maret 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi melonjaknya pasien Covid-19.

Sektor pendidikan di tanah air merasakan dampak covid -19 ini mulai dari ditiadakan Ujian Nasional untuk seluruh tingkat satuan pendidikan (SD/SMP/SMA), Kuliah Kerja Lapangan maupun Kuliah Kerja Nyata ditiadakan hingga diharuskan untuk semua peserta didik di semua kalangan dan tingkat belajar dari rumah. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi melonjaknya pasien Covid-19 di Indonesia. Saat ini terdapat 7,5 Juta mahasiswa dan hamper 45 juta pelajar di Indonesia yang harus belajar dari rumah sesuai arahan Nadiem Makarim

Sekarang pemerintah mengeluarkan kebijakan Normal Baru. Normal baru ialah aktivitas masyarakat dapat tetap melakukan aktivitas kesehariannya namun dengan memperhatikan protokol kesehatan yang sudah di tetapkan. Namun dalam hal pendidikan, pemerintah belum membuka sekolah di berbagai tingkat dan masih terus mengkaji bagaimana strategi yang tepat guna pendidikan tetap berjalan walau di tengah pandemi ini.

Baca Juga :  Jokowi Paparkan Alasan Pilih Nadiem Makarim Jadi Mendikbud

Pembelajaran non tatap muka atau belajar dari rumah banyak yang menganggap hal tersebut ialah hari libur nasional. Anak-anak tidak belajar dan hanya bermain saja walaupun telah diupayakan oleh Kemendikbud dengan adanya tayangan “Belajar dari Rumah” di TVRI. Lalu bagaimana sih strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah jika nanti pembelajaran tatap muka dilaksanakan?

Sekolah dalam Normal Baru dapat dilakukan dengan :

1. Pembatasan siswa dalam kelas
Pada awalnya satu kelas terdiri dari 36 siswa sekarang bisa untuk menurunkan jumlahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara dalam satu meja hanya ada satu siswa atau per kelas bisa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama hari senin-rabu ia berangkat belajar tatap muka di sekolah dan kelompok kedua belajar dari rumah, kemudian pada hari kamis-sabtu kelompok kedua berangkat belajarke sekolah sedangkan kelompok pertama belajar dari rumah sehingga tetap adanya physical distancing antar siswa dan kelas tidak penuh seperti sebelum pandemicovid-19 ini.

2. Adanya pengecekan suhu tubuh sebelum masuk sekolah
Gelaja covid-19 ini salah satunya ialah demam tinggi dengan suhu diatas 37 °C. Penggunaan thermometer sebelum masuk sekolah dapat digunakan guna mengecek suhu tubuh siswa. Apabila suhu tubuh siswa melebihi 37 °C siswa tidak diperkenankan masuk kesekolah.

Baca Juga :  Bagaimana Pondok Pesantren Bisa Menjadi Institusi Islam Yang Berkaliber?

3. Penggunaan masker
Memakai masker dapat mengurangi tingkat risiko penyebaran covid-19. Karena mulut dan hidung sebagai indera yang rentan masuknya virus ke dalam tubuh terlindungi dengan baik.

4. Tersedianya tempat cuci tangan

Pada awalnya sebelum covid-19 ini menyebar, cuci tangan hanya dilakukan minimalnya sebelum dan sesudah makan, sekarang masuk atau keluar kelas juga harus dibiasakan cuci tangan memakai sabun selama 20 detik guna memaksimalkan membunuh virus yang ada di tangan.

5. Membawa bekal
Mengurangi jumlah pedagang di sekolah dan siswa diwajibkan membawa bekal sendiri dari rumah dapat mengurangi kerumunan siswa ketika jajan dan bekal sendiri lebih higienis.

6. Pengurangan jam pelajaran
Untuk membatasi siswa belajar di kelas, pengurangan jam pelajaran dapat menjadi salah satu cara. Misalnya, pada awalnya per mata pelajaran 40 menit sekarang dapat diganti hanya 20 menit per mata pelajaran sehingga kelas lebih cepat selesai.

Skema tersebut dapat dilakukan guna meminimalisir penyebaran covid-19 di sekolah. Jika strategi New Normal ini diterapkan di tingkat SMA/SMK dan perguruan tinggi mereka sudah bisa memahami dan menjalankan skema tersebut. Lain halnya untuk tingkat pendidikan PAUD, TK, SD, SMP, skema tersebut susah dijalankan. Anak seusia ini masih intens interaksi sosialnya di sekolah dan tidak dapat dihindari dan dipantau semuanya oleh guru.

Kesiapan protokol kesehatan dilingkungan sekolah masih jauh dari kata aman dan tidak semua pelajar di berbagai tingkat mengerti dan menjalankan new normal jika diterapkan di sekolah. Lantas apakah semua sekolah di Indonesia ini sudah siap menerapkan protocol kesehatan?

Loading...