Pesantren Kilat Ramadhan Sebagai Bekal Generasi Calon Pemimpin
Oleh: Desi Wulan Sari (Revowriter Bogor)
Salah satu momen yang dirindukan di bulan ramadhan adalah sanlat. Sanlat adalah program pesantren kilat biasanya marak digelar selama bulan ramadhan, utamanya di Indonesia. Pesantren kilat atau yang biasa disingkat sanlat ini merupakan kegiatan pesantren yang diadakan dalam kurun waktu yang singkat.
Terlebih sanlat ini sangat di rindukan oleh anak-anak muda. Berbagai macam agenda program di tawarkan. Karena sistemnya yang fun learning membuat puasa yang mereka jalani jadi lebih menyenangkan.
Bagi generasi muda milenial sanlat ramadhan selalu menjadi program penting buat mereka. Perasaan senang seperti ini diharapkan bukan hanya euforia sesaat, justru memiliki “feeling” ingin maju dan haus menuntut ilmu yang menjadi modal dasar cara berpikir para pemuda cemerlang.
Menciptakan generasi calon pemimpin umat tidaklah instant, perlu usaha kuat dan bersungguh-sungguh dalam membentuk karakter islami dalam dirinya. Justru mereka dibina, dilatih mental dan spiritual dalam proses pembelajarannya. Jika di sekolah umum sudah mendapatkan ilmu akademik, maka di luar waktu belajar formal perlu diberikan pendidikan tambahan dalam hal karakter, skill dan ilmu agama yang lebih luas. Dan sanlat ramadhan adalah salah satu wadahnya.
Saatnya orang tua memberikan fasilitas terbaik bagi sang generasi penerus rabbani, dengan mengikutsertakan sanlat ramadhan merupakan bukti keseriusan dalam mengokohkan amanah di pundaknya dalam menjalankan tugas sebagai seorang muslim yang senantiasa mau belajar dengan ilmu yang di syariatkan. Karena dirinya sebagai penjaga agama, orang tua serta negara di masa depan kelak.
Rutinitas agenda sanlat penuh dengan jadwal harian. Dimulai pukul 03.00 dini hari untuk sholat tahajud, tadarus, dilanjutkan dengan aktifitas olah raga kecil, permainan, tadarus lagi, sholat berjamaah, bersosialisasi dengan teman baru dan kegiatan diakhiri pukul 21.00 malam. Kegiatan kedisiplinan terus dilakukan selama masa program.
Tempaan melatih kesabaran, keistiqomahan, keterampilan dan kekuatan mental akan semakin meningkatkan ketakwaan sehingga membuat milenial muda semakin terasah tsaqofah Islam dalam dirinya.
Belajar agama dengan menyenangkan akan menyingkirkan beban perasaan yang ada. Mereka akan menjalani semua proses itu dengan enjoy. Tak ada keluhan ataupun rengekan untuk minta segera pulang saat sanlat berlangsung.
Itulah pesantren kilat ramadhan yang dirindukan. Betapa Islam memberikan kenyamanan dan kekuatan terhadap agama dan aturan syariat yang ada. Bahkan bagi anak-anak milenial sekalipun. Ketika mereka mendapatkan ilmu agama yang benar, yang dirasakan adalah ilmu sebagai cahaya hati bahkan menjadi satu kebutuhan bagi mereka.
Dalam hadistpun dijelaskan tentang keutamaan menuntut ilmu. Terutama ilmu-ilmu yang membuat kita semakin ingat dan syukur kepada Allah. Seperti dalam sabda Rasulullah SAW berikut,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ . رَوَاهُ مُسْلِم
“Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Pesan penting untuk pemuda-pemudaku milenial calon pemimpin bahwa seorang pemuda muslim dambaan umat haruslah cerdas, cemerlang bagaikan pemuda Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.
Mereka memiliki karakteristik pemuda yang didambakan yaitu,
Pertama, pemuda yang selalu menyeru kepada yang haq (kebenaran).
Kedua, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.
Ketiga, mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama.
Keempat, mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah berfirman, ”(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Ra’d [13]: 20).
Kelima, mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban dengan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat [49]: 15).
Keenam, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.
Namun yang disayangkan ketika sistem kufur kapitalis, sekuleris dan liberalis yang kita jalani saat ini, membuat ilmu agama bukanlah suatu hal yang penting. Agama harus dipisahkan dari kehidupan, maka kebutuhan akan pengokohan kepribadian Islam harus dicari oleh umat muslim itu sendiri.
Padahal Islam di masa Daulah, para khalifahnya menyediakan fasilitas pendidikan baik formal, informal, umum ataupun khusus (agama) bagi seluruh umat. Tidak ada kategori pemisahan pendidikan di dalamnya. Sejatinya kebutuhan pendidikan adalah tanggung jawab negara seutuhnya.
Hal tersebut pernah terwujud ketika khilafah mengarur segala kebutuhan rakyat dengan aturan syariatnya. pendidikan Islam pada masa Kejayaannya, dimulai pada masa Khalifah Abbul Abbas Al Syoffah, yang pemerintahannya berlangsung selama lima abad yakni antara tahun 750-1258 M. Pada masa itu sistem pendidikan sangat maju. Karena para pemuda sangat bersemangat dalam menuntut ilmu.
Melihat konsep ideal pendidikan yang pernah ada, maka jelas bahwa saat ini negaralah yang harus memberikan fasilitas pendidikan secara menyeluruh. Baik pendidikan yang bersifat umum maupun khusus (agama) tanpa embel-embel apapun apalagi dibarengi dengan biaya yang super mahal dalam penyelenggaraan pendidikan.
Nantinya sanlat ramadhan tidak akan dirindukan lagi, tapi justru sudah menjadi acuan tetap pendidikan bagi generasi muda rabbani pencetak pemimpin-pemimpin umat masa depan. Sejatinya ilmu agama adalah bekal hidup di dunia dan akhirat kelak. Karena kepribadian yang kuat adalah kegemilangan Islam di masa yang akan datang.
Hari ini saatnya generasi muda menyiapkan diri dan melayakkan diri menuju proses kecemerlangan. Tanggung jawab agama dan kemaslahatan umat sudah ada di pundak-pundak kalian. Dan sambutlah ramadhan dengan hati dan wajah yang penuh cahaya kebahagiaan. Wallahu a’lam bishawab.






