oleh

Hakikat Qurban di Hari Idul Adha, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Hakikat Qurban di Hari Idul Adha. Catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh:  Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Dalam sejarah agama-agama samawi, tentang qurban ada beda-beda versi. Ada yang menyebut Ismail yang hendak dikorbankan, dan ada yang menyebut Ishaq. Beda versi itu wajar… tetapi intinya, keduanya tidak jadi dikorbankan, baru wacana doang mah… Dan kemudian ribut!

Betapa dalam kisah dibalik Idul Qurban itu (mungkin) Tuhan sedang becanda, cuman menguji keimanan orangtua dengan anaknya. Jadi peristiwa penyembelihan anak oleh Bapak itu tidak ada.

Al-kisah, “Siti Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra.”

“Siti Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.”

Baca Juga :  Selamat Ber-Halal Bi Halal Indonesia, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

“Siti Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”

“Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Siti Hajar membuat semua terkesiap.”

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”.

“Siti Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin. “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.” Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Siti Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.”

“Itulah ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk.”
(Dari berbagai sumber).

Baca Juga :  Aksi Bela Rakyat Gorontalo Utara Jilid III: PT Toba Bara Tak Bisa Tunjukkan Bukti Pembayaran
Esensi filosofis dibalik Idul Qurban (festival pengorbanan) adalah bahwa kita harus mengorbankan kepemilikan materi yang kita sayangi, memindahkan dan membagi cahaya dalam hidup, memurnikan jiwa untuk menjadi lebih dekat dengan yang maha kuasa.

Iya, Qurban adalah salah satu metode untuk mendapatkan kedekatan denganNya. Berasal dari kata sifat taqarrub, yang artinya dekat. Orang yang mendekatkan diri disebut qarib, dan kalau lebih dekat disebut akrab atau aqrob. Teman dekat bisa disebut teman karib, atau teman akrab.

Jadi, Qurban adalah metodologi sosial untuk memperoleh sesuatu yang semula belum dekat menjadi lebih dekat, semula belum akrab menjadi karib. Dengan memberi, kita menjadi dekat dengan sesama, andum rejeki marang liyan iku apik anane. Ora ana critane wong mlarat amerga Qurban. Tidak ada ceritanya, orang menjadi miskin dengan memberi, atau menjadi kaya dengan mempertahankan apa yang dia punya. Maka, keikhlasan memberi dan berbagi itulah yang kemudian sampai kepadaNya, sehingga menjadikan kita lebih dekat denganNya.

Loading...

Baca Juga