SUARAMERDEKA.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut musuh terbesar pers terutama yang menggunakan sarana online adalah buzzer. Pers harus mewaspadai para pendengung media sosial ini karena berpotensi mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal ini dikatakan Haedar Nashir saat mengucapkan selamat Hari Pers Nasional Ke-75 melalui pernyataan resminya, Selasa (9/2/2021). Dalam dinamika politik kebangsaan saat ini penting bagi pers menjalankan fungsi checks and balances sebagaimana menjadi DNA media massa sepanjang sejarah di negeri mana pun.
“Dalam usaha mencerdaskan bangsa, fungsi pers, yaitu media cetak, televisi, radio, dan kini media online, niscaya menjadi pranata sosial yang mengedukasi elite dan warga bangsa agar menjadi insan yang berpikir jernih, objektif, moderat, cerdas, beretika, dan berdaya kritis,” Kata Ketua umum PP Muhammadiyah.
Ia menambahkan, pers bertanggung jawab atas pesan dan informasi yang disuarakan ke ruang publik secara objektif dan profesional. Pers diharapkan tidak masuk dalam pusaran politik partisan maupun kepentingan lainnya yang dapat meluruhkan fungsi utama pers.
Ia berpesan agar pers menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat memecah persatuan, dan konflik antarkomponen bangsa. Menurutnya, pers Indonesia bersama komponen bangsa perlu menegakkan kebenaran, keadilan, kedamaian, persatuan, dan kemajuan bagi bangsa dan negara.
“Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online, melalui jalur media sosial ialah para pendengung media sosial alias buzzer yang nirtanggung jawab kebangsaan yang cerdas dan berkeadaban mulia. Pers harus mewaspadai buzzer yang berpotensi mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak terbawa suasana yang kontroversial sehingga menjurus ke konflik sosial,” tegasnya.
Ia pun meminta agar para insan pers Indonesia tidak membiarkan kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia timpang tanpa fungsi kritis pers yang konstruktif. Demi masa depan Indonesia yang demokratis dan berkemajuan. (ARB)






