SUARAMERDEKA.ID – Puluhan kader Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam ( PW GPI) Jakarta Raya menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Kebon Jeruk, Senin (11/05/2026).
Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Maemun selaku Koordinator Lapangan (Korlap) sebagai bentuk kemarahan dan perlawanan atas dugaan raibnya dana nasabah senilai Rp500.050.000 milik Muhammad Rafi.
Dalam aksi yang berlangsung panas dan penuh tekanan moral itu, massa GPI Jakarta Raya membawa spanduk serta meneriakkan tuntutan agar BTN Cabang Kebon Jeruk segera diaudit secara menyeluruh.
Massa menilai terdapat dugaan kelalaian fatal dalam sistem keamanan perbankan yang menyebabkan uang nasabah diduga terkuras secara misterius melalui fasilitas M-Banking yang disebut sebut tidak pernah dibuat ataupun disetujui oleh korban.
Daimato dalam orasinya menyebut kasus ini sebagai alarm merah kehancuran kepercayaan publik terhadap dunia perbankan.
Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar kesalahan administrasi biasa, melainkan dugaan skandal serius yang mencederai rasa aman masyarakat sebagai nasabah bank.
“Bagaimana mungkin uang ratusan juta rupiah bisa lenyap tanpa persetujuan pemilik rekening? Ini bukan persoalan sepele. Ini adalah bentuk dugaan perampokan sistematis terhadap hak-hak nasabah. Jika bank sebesar BTN saja tidak mampu menjamin keamanan dana masyarakat, lalu kepada siapa rakyat harus percaya” Tegas Daimato yang juga ketua GPI Jakarta Timur.
Menurut GPI Jakarta Raya, sikap pihak BTN KC Kebon Jeruk yang diduga mempersulit korban untuk memperoleh rekening koran semakin memperkuat kecurigaan adanya persoalan serius yang sengaja ditutup-tutupi.
Massa aksi menilai transparansi bank terhadap nasabah justru terlihat lumpuh dan terkesan anti kritik.
“Bank seharusnya menjadi benteng kepercayaan masyarakat, bukan malah menjadi tempat hilangnya rasa aman rakyat kecil. Jangan sampai publik menilai ada pembiaran, ada permainan, atau bahkan ada mafia yang bersembunyi di balik sistem perbankan,” lanjutnya dengan nada keras.
Dalam tuntutannya, PW GPI Jakarta Raya mendesak agar dilakukan audit total terhadap sistem pelayanan dan keamanan digital BTN KC Kebon Jeruk. Mereka juga meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta aparat penegak hukum turun tangan mengusut dugaan penggelapan dana nasabah tersebut secara terbuka dan tanpa pandang bulu.
GPI Jakarta Raya menegaskan bahwa apabila tidak ada langkah konkret dan itikad baik dari pihak BTN, maka gelombang aksi yang lebih besar akan terus dilakukan.
Mereka mengancam akan membawa persoalan ini ke ranah hukum pidana, perdata, hingga menggalang aksi massa lanjutan sebagai bentuk tekanan publik terhadap dugaan ketidakadilan yang dialami korban.
Aksi puluhan kader GPI Jakarta Raya itu menjadi sorotan masyarakat sekitar karena berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Massa aksi secara bergantian menyampaikan orasi lantang yang menuntut keadilan dan pengembalian hak nasabah.
“Jangan biarkan uang rakyat hilang tanpa kejelasan. Jangan biarkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga perbankan runtuh karena dugaan kelalaian dan sikap tertutup. Kami akan terus melawan sampai kebenaran dibuka seterang terangnya,” Tutup Borut salah satu massa aksi. (RED)






