SUARAMERDEKA.ID – Upaya menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan daerah kembali mengemuka dalam diskusi bertajuk “Hallyu Banyuwangi: dari Festival ke Industri, dari Identitas Lokal ke Pengaruh Global” yang digelar di aula lantai 3 Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Selasa (12/05/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Bappeda Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan strategis yang dapat menjadi fondasi pembangunan daerah di masa depan.
Diskusi menghadirkan Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Prof. Agus Trihartono, sebagai narasumber utama. Sementara jalannya diskusi dipandu Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi, sebagai moderator.
Hadir dalam forum tersebut Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, bersama sejumlah anggota dan pegiat budaya seperti Syafaat, Jhon Rahmatullah, serta Elvin Hendrata.
Selain itu, diskusi juga diikuti kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Banyuwangi, di antaranya Muttafaqurrohmah, Dr. Emi Hidayati, Ahmadi, serta Wiwin Indiarti, bersama peserta lainnya dari lembaga dan instansi terkait.

Dalam pemaparannya, Prof. Agus Trihartono menjelaskan bagaimana Korea Selatan berhasil menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi dan pengaruh global. Melalui industri musik K-Pop, film, drama, hingga seni pertunjukan, Korea Selatan mampu membangun citra negara sekaligus memperkuat sektor ekonomi kreatifnya.
Menurutnya, Banyuwangi memiliki modal budaya yang tidak kalah besar. Kekayaan tradisi, seni tari, musik daerah, hingga identitas budaya Osing merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan lebih jauh, bukan hanya sebagai agenda festival tahunan, tetapi menjadi industri budaya yang berkelanjutan.
“Banyuwangi memiliki kekayaan budaya luar biasa. Tidak semua daerah punya identitas seni dan budaya sekuat ini. Ini harus disyukuri dan dikelola menjadi kekuatan pembangunan.” ungkapnya dalam diskusi.
Forum tersebut juga membahas pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, media, komunitas seni, dan pelaku industri kreatif untuk membangun ekosistem budaya yang mampu memberi dampak ekonomi sekaligus memperluas pengaruh Banyuwangi di tingkat nasional maupun global.
Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pandangan tentang masa depan budaya Banyuwangi. Para peserta sepakat bahwa budaya tidak cukup hanya dipertontonkan dalam festival, tetapi perlu ditransformasikan menjadi kekuatan industri kreatif yang mampu menghidupi masyarakat sekaligus menjaga identitas daerah di tengah arus globalisasi.
Beberapa usulan dan tanggapan peserta telah dirangkum oleh Kepala Bapeda sebagai bahan usulan pembangunan di Kabupaten Banyuwangi.(BUT).






