oleh

Kembali ke Sekolah Ditengah Wabah. Opini Aprilina

Kembali ke Sekolah di Tengah Wabah. Oleh: Aprilina, SE. I , Aktivis Muslimah Peduli Ummat (AMPU)

Wacana
Pengumuman akan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah pada daerah zona hijau dengan tatap muka menuai kontroversi. Masalahnya, hari ini penyebutan zona hijau untuk wilayah yang bebas Covid-19 tidak bisa menjamin bahwa di wilayah ini benar-benar aman dari wabah. Kekhawatiran menghantui setiap penduduk. Sebab tidak ada pengawasan yang ketat terhadap perjalanan kegiatan rutinitas warga. Ini terbukti dengan perubahan status wilayah zona hijau pada bulan lalu sekarang menjadi zona kuning bahkan merah.

Masalah
Dilema. Bagaikan makan buah simalakama. Namun apa hendak dikata. Inilah kenyataan yang dihadapi. Sejak Corona hadir di negeri ini, Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak bisa menentramkan. Alih-alih mau menghentikan penyebaran wabah, justru yang terjadi sebaliknya. Angka penyebaran semakin bertambah. Kurvapun semakin naik dengan cepat. Masalah demi masalah bermunculan. Mulai dari PHK, dibebaskannya para napi yang semakin meningkatkan angka kriminalitas. Belajar online yang meminta korban. Sekolah diliburkan tanpa jaminan bantuan keuangan bagi para guru honor yang mengandalkan jam pertemuan.

Banyak wali murid yang tidak mampu secara ekonomi. Jangankan untuk membeli HP Android, apalagi mengisi paket data, untuk makan sehari-hari saja tak ada kepastian. Pagi hari keluar rumah dengan perut berisi air putih, siang atau bahkan sampai sore hari belum tentu bisa bawa uang maupun makanan untuk keluarga di rumah. Begitulah. Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, ibadah di rumah dan sebagainya serba di rumah. Tak ada jaminan apapun dari pembuat kebijakan. Sungguh menyedihkan. Ditambah lagi, harga barang-barang kebutuhan dapur mulai naik seperti kurva penderita Corona, PDP dan ODP. Bagaimana anak-anak mau belajar, ibu mau mengajarkan dan guru mau memberikan tugas, jika yang ada di kepala setiap hari kecemasan tidak bisa makan dan kekhawatiran menjadi korban covid-19. Tak ada lagi ketenangan yang didambakan.

Solusi Islam
Sungguh jauh berbeda jika kita lihat cara penanganan wabah pada masa Khilafah Islam dipimpin oleh Umar bin Khattab. Khalifah menerapkan kebijakan isolasi ataupun karantina wilayah. Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap warga. Beliau mengirimkan kebutuhan logistik ke wilayah yang terkena wabah. Menyuruh masyarakat tinggal secara berpencar sampai keadaan benar-benar aman. Menyerukan untuk muhasabah dan bertaubat. Semuanya dilakukan dengan keimanan.

Menyelamatkan nyawa masyarakat lebih utama di dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa haq”. (HR an-Nasa’i 3987, Tirmidzi 1455 dan dushahihkan al-Albani).

Manusia sebagai Khalifah di muka bumi wajib mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan aman berdasarkan tuntunan wahyu Sang Pencipta. Kepemimpinan dengan hawa nafsu yang tidak terkendali hanya menghasilkan krisis moral dan ekonomi. Alih-alih mengatasi pandemi, justru yang terjadi wabah merambah ke daerah-daerah tak terkendali.

Bagaimana mungkin para orangtua mau mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, jika tidak ada jaminan keamanan baik dari sisi penyebaran wabah maupun penjagaan di sekolah. Apapun akan mereka upayakan demi keselamatan generasi penerus. Sebab menyadari bahwa sebagai orangtua akan dimintai pertanggungjawaban terhadap amanah yang telah Allah berikan. Begitupula halnya sebagai seorang pemimpin. Islam memandang setiap diri adalah pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya” (HR. Bukhari 4789).

Demikianlah Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia untuk tercapainya keselamatan dan kesejahteraan. Sehingga persinggahan yang sementara ini tidak disibukkan dengan perdebatan yang menghasilkan ketidakharmonisan dan ketidaknyamanan.

Loading...