oleh

PMII UIA Berikan Edukasi Produktif Pada Komunitas Tasawuf Underground

SUARAMERDEKA.ID – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Komisariat Universitas Islam As-Syafi’iyah (PMII UIA). Sambangi sebuah perkumpulan yang menamakan diri sebagai komunitas Tasawuf Underground. Komunitas tersebut berada di sebuah ruko lantai tiga , di Jl. RE Martadinata, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Ketua PMII UIA Domisioner, Erlangga Abdul Kalan yang akrab disapa Rangga menjelaskan, bahwa kehadirannya ke ruko tersebut. Adalah untuk memberikan edukasi, kepada para pria bertato yang tergabung dalam komunitas Tasawuf Underground. Agar mereka dapat mandiri.

“Didalam ruko berlantai tiga tersebut banyak berkumpul pria-pria penuh tato ditubuhnya. Tetapi pria bertato tersebut bukanlah para kriminal, ataupun orang-orang yang jauh dari agama. Justru sebaliknya, Mereka semua adalah orang-orang yang tergabung dalam Komunitas bernama Tasawuf Underground,” tegas Rangga, saat ditemui di daerah Ciputat, Sabtu (24/4/2021).

Mantan Ketum PMII UIA menuturkan, Tasawuf Underground sendiri didirikan oleh Ustadz Halim Ambiya, berkat jerih payahnya, kini sudah banyak anak-anak jalanan yang konsisten kembali dijalan-Nya. Sedangkan Rangga hanya mengajarkan mereka soal kemandirian.

“Bicara kemandirian itu sangat penting, terlebih bagi yang mengaku anak punk. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ketika kita memilih menjadi anak punk, maka harus bisa mandiri atau bertanggung jawab atas pilihan yang kita pilih,” kata Rangga

PMII UIA Berikan Edukasi Produktif Pada Komunitas Tasawuf Underground
Ketua PMII UIA Domisioner, Erlangga Abdul Kalan saat memberikan pelatihan sablon kepada komunitas Tasawuf Underground, Sabtu (24/4/2021)

Ia melanjutkan, bahwa salah satu bentuk kemandirian yang diajarkannya adalah metode menyablon kaos, poster dengan media kayu. Teknik cukil kayu ini sebetulnya teknik kuno, tetapi tetap anti meastream. Tergantung sekreatif apa kita membuatnya. Rangga percaya bahwa anak punk sangat memiliki potensi kreatif.

“Salah satu keunggulannya ketika teman-teman jalanan ini nanti mahir menggunakan sablon dengan media kayu ini, maka tercukupilah kira-kira untuk biaya makan keluarga 1 minggu. Belum lagi kita disupport dengan pasar yang lumayan luas. Sayang kalau kemudian kita tidak bisa memanfaatkan,” imbuhnya.

“Selain untuk kemandirian, cukil kayu ini juga asik untuk menemani waktu ngabuburit kita dibulan ramadhan seperi ini. Selain mengisi kekosongan, sudah pasti bermanfaat. Bahkan hal ini juga menurut Rangga bisa meningkatkan produktifitas teman-teman Tasawuf Underground di bulan Ramadhan,” tambahnya.

Ia berharap dan mendo’akan, semoga kedepan semua teman-teman Tasawuf Underground mampu memahami prosesnya sekaligus merealisasikan kemandirian tersebut. Semua dilakukan atas dasar rasa kepeduliannya pada teman-teman jalanan dan menjadi bagian dari proses memberdayakan masyarakat.

“Beban berat bagi saya ketika tidak bisa memberikan kontribusi perubahan terhadap suatu keadaan. Karenanya saya belajar untuk memaksimalkan apa yang saya punya dan apa yang saya bisa. PMII sebagai tempat saya bernaung, yang selalu terngiang di dalam benak saya adalah lirik dalam mars nya. “Ilmu dan Bakti Kuberikan, Adil Makmur Kuperjuangkan”. Itu yang selalu saya tanamkan pada diri saya,” pungkas Rangga. (AMN).

Loading...