Sumber Daya Manusia, Udara dan Masa Depan Logistik Nasional
“You can import airplanes, but you cannot import skilled aviation professionals”
SUARAMERDEKA.ID – Pernyataan Presiden ICAO, Salvatore Sciacchitano, dalam simposium GISS ICAO 2023 di Doha, terasa relevan ketika Indonesia tengah menggencarkan agenda New Logistic Ecosystem (NLE). Proyek strategis nasional ini bertujuan memangkas biaya logistik nasional dari 23,5% menjadi di bawah 17% terhadap PDB (Bappenas, 2022). Sektor transportasi udara adalah pilar penting dalam mendukung ekosistem logistik, khususnya untuk pengiriman barang bernilai tinggi dan waktu sensitif.
Namun, di tengah semangat digitalisasi dan pembangunan sistem, muncul pertanyaan mendasar: apakah sumber daya manusia (SDM) perhubungan udara kita siap menopang ekosistem logistik masa depan?
Tantangan SDM dalam Skema NLE
Indonesia diproyeksikan kekurangan lebih dari 4.000 teknisi dan operator logistik udara hingga 2030. Sementara itu, hanya sekitar 23% SDM yang memahami sistem digital seperti e-freight dan e-manifest.
Tantangan utamanya bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas. Banyak lulusan pendidikan vokasi penerbangan belum dibekali kompetensi digital, automation, dan pemahaman supply chain internasional. Di lapangan, praktik manual masih dominan dalam penanganan kargo, menyebabkan inefisiensi dan rawan kesalahan. Ketidaksiapan ini berpotensi menghambat integrasi NLE secara menyeluruh. Tanpa transformasi mendalam dalam penyediaan dan pengembangan SDM, digitalisasi sistem logistik justru menciptakan titik lemah baru: bottleneck manusia dalam ekosistem teknologi tinggi.
Menurut laporan Logistics Performance Index (LPI) 2023 yang dirilis Bank Dunia, “Indonesia ranks 63rd out of 139 countries, with notable challenges in logistics competence and service quality.” Peringkat ini mengindikasikan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi besar sebagai hub logistik regional, masih terdapat pekerjaan rumah besar dalam meningkatkan kualitas SDM logistik dan keandalan sistem pelayanan. Aspek kompetensi profesional menjadi salah satu indikator dengan skor rendah, yang mencerminkan perlunya investasi serius dalam pengembangan tenaga kerja di sektor ini.
SDM: Urat Nadi, Bukan Pelengkap Indonesia bukan sekadar pengguna sistem logistik udara, tapi calon hub logistik regional. Menurut World Bank Logistics Performance Index (2023), tantangan utama Indonesia terletak bukan pada infrastruktur, melainkan kompetensi pelaku logistiknya. Laporan SPBE Kementerian PANRB (2022) juga menyebut bahwa investasi digital tanpa kesiapan SDM hanya akan menciptakan “bottleneck digital”.
Peran Strategis PTKL
Perguruan Tinggi Kementerian dan Lembaga (PTKL) di bawah Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, BPSDM Kementerian Perhubungan, memegang peran vital. Lembaga seperti PPI Curug, Poltekbang Surabaya, Makassar, Palembang, Medan, Jayapura, API Banyuwangi, dan BPPP Curug mengemban mandat penguatan SDM penerbangan nasional. Beberapa telah meraih sertifikasi Platinum TrainAir Plus dari ICAO, serta menjadi mitra pelatihan IATA dan ACI. Bahkan, STP (Standardized Training Package) mereka diadopsi sebagai rujukan di Asia Selatan dan Afrika.
Tiga Rekomendasi Strategis
Pertama, revitalisasi kurikulum vokasi harus berbasis kebutuhan industri terkini, termasuk modul smart cargo handling, aviation logistics, dan green supply chain, agar lulusan siap bersaing secara global. Kedua, pusat inovasi SDM logistik udara perlu dibangun di lingkungan PTKL sebagai ekosistem kolaboratif antara pendidikan, industri, dan organisasi internasional (seperti ICAO, IATA, dan ACI) untuk menghasilkan solusi nyata. Ketiga, penyusunan peta jalan SDM udara berbasis data proyeksi jangka panjang harus melibatkan lintas kementerian (Bappenas, BPS, Kemenhub), agar pembangunan SDM tidak bersifat sporadis, melainkan terencana dan berkelanjutan hingga 2045.
Penutup: Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Infrastruktur
Transformasi logistik nasional tak cukup hanya dengan pesawat dan sistem. Tanpa SDM yang cakap dan profesional, infrastruktur hanya menjadi rangka kosong. Pesawat bisa dibeli, sistem bisa dirancang, tapi manusia yang mengoperasikannya tidak bisa diimpor.
Kita tengah membangun masa depan logistik udara Indonesia. Kini saatnya menyiapkan juga manusianya.
BY. Afen Sena – Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan.
Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS). Email: afensena@mail.com. (BUT).










