SUARAMERDEKA.ID – Sesepuh Gerakan Pemuda Islam (GPI) Danan Dania meyakini, salah satu organisasi kepemudaan (OKP) Islam tertua di Indonesia ini akan menjadi besar dan kembali pada masa kejayaannya. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan kepemimpinan yang bijak dan pengetahuan akan keorganisasian yang baik.
Demikian dikatakan Dadan Dania saat Rapat Kerja Nasional dan Kaderisasi Nasional Gerakan Pemuda Islam yang digelar selama 3 hari (12-14 Februari 2021) di Hotel Pantai indah Resort Pandeglang Jawa Barat. Ia menuturkan, keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada kesadaran pimpinan dan seluruh komponennya akan managemen organisasi.
“Gerakan Pemuda Islam akan jadi besar jika setiap komponen yang ada mengetahui esensinya dalam berorganisasi. Esensi kepemimpinan adalah pengambilan keputusan, sedangkan esensi managemen adalah eksekusi. Keputusan sehebat apapun tidak akan berarti jika tak ada eksekusi. Tidak berarti program sehebat apapun kalau tidak terrealisasi,” kata Sesepuh GPI ini, Sabtu (13/2/2021).

Lanjutnya, secara sederhana, ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam berorganisasi. Ia mengistilahkannya dengan Managemen SORA. Supporting to Strenghten, Open Mind to Opportunity, Reasoning to Result dan Accessibility to Accelerate.
“Yang pertama adalah Supporting to Strenghten. Mendorong sehebat mungkin kekuatan yang dimiliki,” ujar Dadan Dania.
Menurutnya, dengan mendorong kekuatan, maka kelemahan akan tertinggal. Dengan keterbatasan SDM, waktu dan biaya, maka yang terbaik adalah melupakan kelemahan dan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan.
“Support terus kekuatan maka kekurangan akan tertinggal,” imbuhnya.
Ia melanjutkan, hal yang kedua adalah Open Mind to Opportunity, pikiran yang terbuka untuk menangkap peluang. Dadan menjelaskan, meski banyak peluang yang datang, jika pikirannya tidak terbuka, maka peluang yang ada tidak akan tertangkap. Ia pun memberikan beberapa contoh peluang lewat begitu saja karena pikiran yang tidak terbuka.
“Semakin terbuka pikiran semakin terbuka juga peluang untuk berkembang. Maka informasi akan kondisi yang ada menjadi sangat penting. Tugas pemimpin adalah menspesifikasi SDM. Agar SDM yang dimiliki mendapatkan kemungkinan lebih besar untuk berkembang,” tuturnya.
Komponen ketiga adalah Reasoning to Result, alasan untuk mencapai hasil.
“Jangan sampai obsesi 10 alasan 3, ini namanya berkhayal. Atau sebaliknya, obsesi 8 tapi kemungkinan pencapaian 15, ini manipulasi. Semua alasan harus jelas sehingga target yang akan dicapai menjadi jelas dan masuk akal. Jika target jauh melampaui kemampuan, itu namanya politik defisit,” tegasnya.

Adapun komponen yang terakhir adalah Accessibility to Accelerate, membuka akses seluas-luasnya agar bisa berakselerasi sebanyak-banyaknya. Dadan Dania menekankan, banyak akses akan membuat kesempatan lebih besar. Namun ia mengingatkan, akses banyak harus diimbangi dengan tahu cara memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Sesepuh Gerakan Pemuda Islam ini menambahkan, organisasi bisa berjalan dengan maksimal jika semua komponen bisa bekerja sesuai dengan tugasnya. Karenanya, seorang pemimpin harus bisa dan berani untuk mendelegasikan tugas dan tanggungjawabnya kepada masing-masing bidang.
“Tugas dari pemimpin sejatinya membuka setiap akses yang ada dan mendorong seluruh komponen organisasi untuk bergerak maju. Sehingga bisa mempimpin organisasi untuk bergerak dan berkembang mencapai kesuksesan sesuai dengan visi misi organisasi,” tutup Dadan Dania. (OSY)






