oleh

Dehumanisasi Palestina Terus Berlangsung, Sampai Kapan Dunia Diam?

Dehumanisasi Palestina Terus Berlangsung, Sampai Kapan Dunia Diam?

Oleh Rati Suharjo
Penulis Artikel Islami di Era Digital

Dehumanisasi adalah tindakan menghilangkan nilai kemanusiaan seseorang, seolah-olah nyawa manusia tidak lagi berharga. Gambaran inilah yang tampak dalam penjajahan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Serangan demi serangan terus dilancarkan tanpa henti. Bom dijatuhkan ke permukiman warga, rumah sakit, sekolah, hingga tenda-tenda pengungsian. Korban yang berjatuhan bukan hanya para pejuang, tetapi juga anak-anak yang belum memahami arti perang, perempuan yang berusaha melindungi keluarganya, serta para lanjut usia yang sudah tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan diri.

Yang lebih memilukan, penderitaan itu tidak berhenti meski seseorang telah meninggal dunia. Banyak jenazah warga Palestina tidak dapat dimakamkan secara layak karena akses menuju pemakaman diblokade dan sebagian wilayah pemakaman mengalami kerusakan akibat konflik. Padahal, tanah tersebut merupakan milik rakyat Palestina sendiri. Sebagian keluarga bahkan terpaksa menyimpan jasad anggota keluarganya selama berhari-hari di rumah sakit atau tempat pengungsian karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk proses pemakaman. Situasi ini bukan hanya menyangkut hak hidup, tetapi juga penghormatan terhadap martabat manusia.

Di sisi lain, wilayah yang dikuasai Israel terus mengalami perluasan dari waktu ke waktu. Penguasaan wilayah berlangsung melalui berbagai cara, mulai dari operasi militer, penghancuran rumah warga, hingga pengambilalihan tanah milik rakyat Palestina. Kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya menjadi jalan menghentikan pertumpahan darah pun kerap tidak mampu menghentikan kekerasan. Serangan tetap berlangsung meski berbagai seruan perdamaian terus disampaikan dunia internasional. Akibatnya, rakyat Palestina hidup dalam ketakutan, kehilangan rumah, tanah, bahkan masa depan mereka sedikit demi sedikit.

Di tengah situasi yang mencekam tersebut, para jurnalis yang bertugas menyampaikan fakta kepada dunia juga menghadapi risiko yang sangat besar. Masuk ke Gaza hari ini seperti memasuki wilayah yang dipenuhi ledakan, reruntuhan, dan ancaman kematian setiap saat. Wartawan yang seharusnya mendapatkan perlindungan justru turut menjadi korban. Sejak konflik besar yang kembali memanas pada tahun 2023, banyak jurnalis dilaporkan meninggal dunia saat meliput kondisi di Gaza. Mereka gugur ketika berusaha memperlihatkan kenyataan pahit yang dialami rakyat Palestina kepada dunia internasional. Sementara itu, jumlah korban sipil terus bertambah, terdiri atas anak-anak, perempuan, dan warga yang tidak terlibat dalam pertempuran.

Salah satu pengakuan yang mengundang perhatian datang dari seorang tentara Israel yang menyebut adanya perintah untuk menembak setiap laki-laki yang ditemui di Gaza selama agresi berlangsung sejak tahun 2023 tanpa memandang usia. Dalam kesaksiannya, siapa pun laki-laki yang dianggap sebagai ancaman harus segera ditembak tanpa pengecualian (Republika.com, 10 Mei 2026).

Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan terus berulang selama akar persoalannya belum terselesaikan. Berulang kali gencatan senjata diumumkan, tetapi konflik dan kekerasan tetap berlangsung. Di tengah situasi tersebut, Israel juga terus memperoleh dukungan dari Amerika Serikat, baik dalam bidang politik, keuangan, maupun militer. Dukungan tersebut dinilai membuat posisi Israel semakin kuat dalam menjalankan kebijakan dan operasi militernya. Sementara itu, rakyat Palestina terus hidup dalam bayang-bayang konflik, kehilangan, dan penderitaan yang belum berakhir.

Di sisi lain, negara-negara Muslim yang jumlahnya mencapai puluhan negara juga dinilai belum mampu menghentikan konflik yang terus berlangsung di Palestina. Respons yang muncul umumnya berupa pernyataan kecaman, seruan perdamaian, doa, serta pengiriman bantuan kemanusiaan dan logistik. Bantuan tersebut tentu penting untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina. Namun, berbagai upaya itu dinilai belum mampu menghentikan kekerasan yang terus berulang sehingga korban jiwa terus bertambah.

Selain itu, perbedaan kepentingan politik dan lemahnya persatuan di antara negara-negara Muslim sering kali menjadi hambatan dalam membangun langkah bersama. Ada yang memandang konflik Palestina hanya sebagai persoalan wilayah tertentu. Ada pula yang merasa cukup dengan sikap mengecam tanpa tindakan yang lebih nyata. Sebagian lainnya menganggap bahwa semua yang terjadi merupakan takdir sehingga memilih diam dan tidak peduli. Padahal, persoalan kemanusiaan membutuhkan perhatian bersama, kepedulian, serta upaya yang lebih besar agar perdamaian dan keadilan dapat terwujud.

Menurut pandangan Islam, ketika semangat nasionalisme dan sekularisme lebih diutamakan hingga mengalahkan ikatan persaudaraan sesama Muslim, kepedulian terhadap penderitaan umat dapat melemah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa umat Islam ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian merasakan sakit, bagian lainnya ikut merasakan penderitaan tersebut. Nilai persatuan dan kepedulian inilah yang menjadi bagian penting dalam ajaran Islam agar kaum Muslim tidak bersikap acuh terhadap kesulitan yang menimpa saudaranya.

Karena itu, ketika ada penindasan, konflik, atau penderitaan yang dialami sebagian umat, semestinya tumbuh empati, kepedulian, serta dorongan untuk membantu sesuai kemampuan, bukan sekadar menganggapnya sebagai persoalan pihak lain.

Oleh sebab itu, untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia dibutuhkan persatuan yang kuat yang dibangun di atas ajaran Islam. Persatuan umat tidak cukup hanya melalui simpati, doa, atau bantuan kemanusiaan, tetapi juga memerlukan kepemimpinan yang mampu menjaga dan melindungi kaum Muslim di berbagai wilayah. Dengan persatuan yang kokoh, umat Islam diharapkan memiliki kekuatan untuk membela saudara-saudaranya yang tertindas serta menghentikan berbagai bentuk penjajahan dan kezaliman.

Sejarah Islam pernah mencatat sosok pemimpin besar, yaitu Salahuddin Al Ayyubi. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mempersatukan kekuatan kaum Muslim dan memimpin perjuangan menghadapi pasukan Perang Salib. Pada tahun 1187 M, Salahuddin berhasil merebut kembali Yerusalem setelah kemenangan dalam Pertempuran Hattin. Namanya dikenang bukan hanya karena keberanian, tetapi juga karena sikap adil, kebijaksanaan, dan nilai kemanusiaan yang ia tunjukkan, bahkan terhadap pihak lawan.

Dari sejarah tersebut, banyak umat Islam mengambil pelajaran bahwa persatuan, kepemimpinan, dan kekuatan politik memiliki peran penting dalam menjaga kehormatan umat. Karena itu, suldah saatnya umat Islam butuh kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan kaum Muslim agar dapat memberikan perlindungan kepada saudara-saudaranya yang mengalami penindasan dan penderitaan di berbagai belahan dunia.

Wallahu a’lam bishawab.

Loading...

Baca Juga