SUARAMERDEKA.ID – Gelombang kemarahan publik kembali mengguncang jantung ibu kota. Kali ini, massa dari Gerakan Pemuda Islam Jakarta Raya turun langsung menggelar aksi demonstrasi di depan Graha PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, Senin (11/05/2026).
Aksi tersebut berlangsung panas dan penuh tekanan moral terhadap tubuh perusahaan pelat merah yang selama ini disebut-sebut sebagai urat nadi energi bangsa.
Dengan membawa spanduk, poster, serta pengeras suara, massa menuding adanya dugaan praktik busuk yang mencederai kepercayaan rakyat di lingkungan Pertamina.
Dalam orasinya, massa aksi mengecam keras dugaan penyalahgunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat, namun justru diduga dijadikan bancakan oleh oknum tertentu demi memperkaya diri dan kelompoknya.
“Kami tidak datang untuk basa-basi. Kami datang membawa kemarahan rakyat! Pertamina jangan berubah menjadi sarang tikus berdasi yang menghisap uang rakyat melalui program-program fiktif berkedok CSR!” Teriak salah satu orator dari atas pagar pertamina.
PW GPI Jakarta Raya menilai dugaan permainan dana CSR merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanat rakyat.
Menurut mereka, dana sosial perusahaan semestinya menjadi alat pemberdayaan masyarakat, bukan dijadikan “ATM gelap” oleh oknum pejabat yang haus keuntungan pribadi.
Dalam aksi tersebut, GPI Jakarta Raya menyampaikan dua tuntutan utama, yakni:
1. Bersihkan Pertamina dari oknum-oknum pejabat penghisap uang rakyat.
2. Pecat dan adili Baskara Ikhlasulla Arif selaku Manager Non-Government Relations PT Pertamina (Persero) karena diduga kuat melakukan kong kalikong penggunaan dana CSR untuk kegiatan fiktif.
Massa juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan mengusut dugaan penyimpangan tersebut secara terbuka dan transparan.
Mereka menegaskan bahwa praktik-praktik kotor di tubuh BUMN tidak boleh lagi ditutupi dengan narasi pencitraan dan seremonial belaka.
“Jika benar dana CSR dimainkan untuk kegiatan siluman dan proyek fiktif, maka itu bukan lagi sekadar pelanggaran administratif. Itu adalah bentuk perampokan terselubung terhadap hak rakyat kecil!” Ujar salah satu peserta aksi.
Suasana demonstrasi sempat memanas ketika massa mencoba mendekat ke area pagar utama Graha Pertamina sambil membakar semangat perlawanan melalui yel-yel anti korupsi.
Aparat kepolisian yang berjaga terlihat membentuk barikade untuk mengantisipasi eskalasi massa.
PW GPI Jakarta Raya menegaskan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. Mereka mengaku akan terus mengawal dugaan kasus tersebut hingga ada tindakan konkret dari pihak Pertamina maupun aparat penegak hukum.
“Jangan pernah bermain-main dengan uang rakyat. Hari ini kami datang membawa suara perlawanan. Besok, gelombang yang lebih besar bisa datang menggulung seluruh kebusukan yang disembunyikan!” Tutup orator dengan nada lantang. (RED)






