oleh

Mulyanto: Pertamina Butuh Gagasan Besar Bukan Omong Besar

SUARAMERDEKA.ID – Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Industri dan Pembangunan DPR RI Mulyanto meminta agar pemerintah mengevaluasi kinerja Basuki Tjahya Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini dinilai hanya bisa omong besar tanpa disertai prestasi atau gagasan yang nyata.

Mulyanto menjelaskan, selaku Komisaris Utama Pertamina, Ahok harusnya mampu melakukan pengawasan agar perusahaan yang dipimpinnya lebih baik. Dengan kewenangan yang dimiliki dan dukungan politik memadai, sebenarnya Ahok punya kesempatan lebih besar membenahi Pertamina. Apalagi menjelang pengangkatan dirinya menjadi komisaris utama, Ahok sesumbar bisa memperbaiki Pertamina.

“Waktu itu Ahok bilang, merem saja Pertamina sudah untung. Asal diawasi. Nah kalau sekarang Pertamina rugi, artinya apa? Apa Ahok tidak mengawasi. Kok nyatanya Pertamina bisa rugi,” kata Mulyanto di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Ia melanjutkan, secara teori, di semester pertama tahun 2020 ini Pertamina harusnya untung. Saat harga minyak dunia anjlok ke angka yang paling rendah sepanjang sejarah, Pertamina tidak menurunkan harga BBM sedikitpun. Termasuk harga BBM non-subsidi yang harganya mengikuti harga minyak dunia.

“Secara perhitungan kasar, Pertamina harusnya untung besar,” ujar Mantan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian era Presiden SBY ini.

Mulyanto mengaku heran jika dalam laporan semester pertama tahun 2020 ini Pertamina malah rugi. Ia pun menduga ada faktor nonteknis yang menyebabkan Pertamina mengalami rugi yang begitu besar.

“Pemerintah jangan sungkan mengevaluasi kerja komisaris utama yang sekarang. Jika memang tidak mampu pecat saja. Ganti dengan figur profesional yang memahami kerja dunia perminyakan. Pertamina butuh gagasan besar. Bukan omong besar,” tegas Mulyanto.

Selama Ahok menjabat sebagai komisaris utama, Mulyanto menilai, Pertamina nyaris tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan. Justru sebaliknya banyak keanehan dan kejanggalan yang begitu jelas dilihat masyarakat.

“Pekan lalu kita dengar kabar Pertemina tidak masuk daftar Fortune Global 500. Sekarang yang terbaru Pertamina rugi Rp 11,13 triliun di semester pertama tahun 2020,” kata Mulyanto.

Ia pun mengingatkan pemerintah akan kondisi Pertamina saat ini. Menurutnya, pemerintah jangan terus berdiam diri dan menunggu Pertamina mengalami kondisi yang lebih parah.

“Mau sampai kapan membiarkan Pertamina babak belur seperti ini?” pungkas Mulyanto. (OSY)

Loading...

Baca Juga