oleh

Orangtua Resah, Anak Harus Masuk Sekolah Ditengah Wabah

Orangtua Resah, Anak Harus Masuk Sekolah Ditengah Wabah. Oleh: Wijiati Lestari, Owner Taqiyya Hijab Syar’i.

Setiap orangtua terutama ibu adalah orang yang paling merasa resah ketika anaknya sakit, bahkan banyak yang meminta supaya sakit anaknya pindah ke tubuh ibunya. Bahkan tak jarang pula seorang ibu menjanjikan hal- hal yang yang menyenangkan anak, jika anaknya sembuh sebagai motivasi plus menuruti segala keinginan anak selagi bisa dan tidak membahayakan kesehatannya. Setelah sembuh maka orangtua akan berusaha secara maksimal supaya penyakit tidak menyerang anak kembali.

Tetapi dengan pengumuman yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahwa tahun ajaran baru akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020 (Kumparan.com 1/06/2020), orangtua menjadi resah. Hal ini juga ditegaskan sebelumnya oleh Plt Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Menengah (Plt Dirjen PAUD Dasmen) Hamid Muhammad bahwa pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari (Oke.news 27/05/2020).

Namun Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyanti meminta Kemendikbud dan Kemenag untuk terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Karena ternyata ada 831 anak usia 0-14 tahun yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Penularan terjadi melalui kontak dengan orangtua dan keluarga terdekat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga meneliti secara mandiri tentang anak yang terinfeksi Covid-19. Dan IDAI menemukan 129 anak meninggal dunia dengan status PDP, 14 anak meninggal dunia dengan status positif Covid-19. Di laman Jakarta.Go.Id juga memberitakan bahwa 91 balita positif Covid 19. Balita ODP 682 kasus. Begitu pula yang terjadi di Surabaya ada 127 anak positif Covid-19 (Kumparan.com 1/06/2020).

Seharusnya negara ini juga bisa berkaca dari negara Korea Selatan yang penanganan dan fasilitas kesehatan jauh lebih baik dari negara kita. Seperti dilansir dari Kompas.com (27/05/2020) sehari setelah sekolah dibuka ada 79 kasus Covid-19 baru dilaporkan. Ini merupakan angka tertinggi di negeri ginseng tersebut setelah dua bulan terakhir. Kemudian sekolah ditutup kembali.

Walaupun anak yang masuk sekolah dibekali oleh pemerintah dengan protokol kesehatan, tetapi tidak ada yang menjamin anak-anak akan bisa menaatinya. Memakai masker sepanjang waktu dan mengganti setiap 4 jam atau setiap basah adalah hal yang belum tentu setiap anak menaatinya. Apalagi tidak berkerumun adalah hal mustahil bagi anak, karena ketika mereka bertemu pasti mereka ingin main, bertukar cerita dan pasti itu dilakukan dengan berkerumun.

Memasukkan anak sekolah di tengah wabah Corona yang penyebarannya belum juga melandai adalah sama saja membiarkan anak kita menjadi mangsa wabah tersebut. Karena seperti diketahui virus Corona ini mudah menyebar di kerumunan. Bahkan bisa menjerumuskan anak-anak ke jurang kematian. Karena wabah yang penyebarannya belum ada tanda-tanda penurunan di hampir seluruh negara di dunia. Jika hal ini tetap dilaksanakan maka ini adalah bukti betapa nyawa anak-anak Indonesia tidaklah dihargai.

Padahal dalam Islam nyawa seorang muslim lebih berharga daripada dunia seisinya. Sebagaimana hadis Nabi”Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah di bandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”(H.R Nasa’i 3987, Turmudzi 1455 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Berdasarkan hadits ini seorang penguasa di negeri Islam akan membuat kebijakan-kebijakan yang tidak akan membahayakan nyawa rakyatnya tidak perduli berapapun umurnya. Walau bayi sekalipun.

Seperti Khalifah Umar bin Khattab Ra yang menerapkan memberi gaji kepada ibu yang telah selesai menyusui bayinya. Tetapi kemudian di lain hari seorang ibu berhenti menyusui bayinya karena ingin segera mendapat upah dari negara. Kemudian Umar pun merevisi peraturan dengan membayar upah menyusui saat melahirkan. Hal ini Umar bin Khattab Ra lakukan karena beliau takut diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak walaupun atas seorang bayi.

Jika dengan seorang bayi saja Umar bin Khattab Ra bersedia mengubah kebijakannya demi keberlangsungan hidupnya. Pasti hal yang lebih dilakukan Umar bin Khattab Ra dan pemimpin negeri Muslim di generasi berikutnya untuk melindungi nyawa rakyatnya terlebih di masa wabah yang penyebarannya kian parah. Terbukti dalam sejarah atas usulan Amr bin Ash ketika terjadi wabah thoun Amwas di Mesir dan Syam, beliau langsung melakukan penguncian wilayah (lockdown). Supaya wabah tidak menyebar kemana-mana.

Dengan kebijakan penguasa yang mengutamakan nyawa rakyatnya, maka keresahan orangtua tak perlu ada. Karena mereka yakin bahwa penguasanya selalu membuat kebijakan berdasarkan syariat Islam, syariat yang datangnya dari Pencipta manusia. Yang pasti mengetahui hal-hal apa saja yang baik dan buruk untuk makhluk-Nya. Dan yang terpenting dan menggembirakan sebagai rakyat adalah penguasa di negeri Muslim akan segera merevisi kebijakannya ketika kebijakan tersebut mendzolimi apalagi membahayakan nyawa rakyatnya.

Loading...