oleh

Saksi Pembunuhan Anggota Brimob di Teluk Bintuni Akui Tak Melihat Pelaku

SUARAMERDEKA.ID – Persidangan lanjutan perkara dugaan pembunuhan anggota Brimob di Base Camp PT. Wana Galang Utama (WGU), Kampung Barma, Distrik Moskona Selatan Kabupaten Teluk Bintuni, pada hari Kamis (1/10/2020) dilanjutkan di Pengadilan Negeri Kelas IB Manokwari.

Sidang lanjutan tersebut dipimpin hakim ketua Sonny Alvian Blegoer Laoemoery menghadirkan Frans Aisnak dan Pontius Wakom selaku terdakwa. Agenda sidang untuk mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Piter Louw. Kedua saksi adalah Haris Haurisa selaku operator chainsaw PT WGU dan Ir. Freddy Serang yang menjadi karyawan PT WGU. Kedua saksi ini diperiksa melalui Video Zoom (Virtual) dari ruangan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintunu.

Kedua terdakwa Frans Aisnak dan Pontius Aisnak dipersilahkan hakim untuk duduk disamping Penasihat Hukumnya dari LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy.

Saksi Ir. Freddy Serang dalam keterangannya menjelaskan, ia mengenal terdakwa Frans Aisnak sebagai pemilik ulayat yang tanahnya menjadi areal konsesi perusahaan di Barma. Freddy sempat mendengar bunyi suara seperti orang keserupan dari kamar sebelahnya di Base Campa PT. Wana Galang Utama (WGU) pada tanggal 15 April 2020 malam sekitar jam 02:00 WIT.

“Saya sempat membuka pintu kamar dan melihat keluar, serta terlihat ada teman saya (Paiman-Red) di sebelah kamar juga melihat keluar, kemudian saya melihat pintu kamar anggota Brimob agak terbuka, lalu saya keluar dan menengok kedalam kamarnya, anggota Brimob tersebut sedang tidur tengkurap, terus saya nyalakan lampu kamarnya sambil melihat dibagian leher korban berlumuran darah, sehingga saya keluar sambil berteriak memanggil karyawan Base Camp lainnnya,” jelas Freddy.

Ia mengaku sama sekali tidak melihat ada orang lain di lokasi tersebut dan tidak melihat ada benda atau alat tajam di sekitar lokasi korban berada. Freddy menjelaskan, jarak antara posisi kamarnya dengan kamar korban berjarak sekitar 30 meter.

Freddy menambahkan, ia tidak pernah melihat Frans Aisnak sebagai pemilik ulayat di Barma bermasalah dengan perusahaan atau korban sebelum kejadian malam itu. Ia mengetahui Frans Aisnak tinggal di Base Camp PT. WGU dan tidak pernah ribut dengan perusahaan mengenai hak ulayat.

“Saya juga sama sekali tidak melihat dan tidak mengenal terdakwa Pontius Wakom saat kejadian penemuan jenasah korban. Dan sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan terdakwa Pontius Wakom,” ujar Freddy.

Freddy menambahkan, ia juga baru mengetahui korban bertugas sekitar 4 hari di Base Camp PT. WGU.

Sementara itu, Haris Haurissa mengaku mengenal Frans Aisnak juga sebagai pemilik hak Ulayat di lokasi kerja perusahaan PT. WGU. Ia kenal Frans Aisnak tidak pernah ribut dengan perusahaan mengenai hak ulayatnya.

Ia mengaku pada saat malam tanggal 14 April 2020, dirinya bersama terdakwa Frans Aisnak sempat nonton bersama dan saat itu juga ia melihat terdakwa Frans Aisnak pulang ke kamar tidurnya serta ia tidak mengetahui insiden apapun pada saat korban anggota Brimob wafat.

Keesokan paginya ia mendengar anggota Brimob di Base Camp meninggal dunia tetapi ia sama sekali tidak pernah melihat jasad korban hingga dievakuasi dari Base Camp ke Bintuni, kata Haris.

Ia menerangkan bahwa jarak antara barak terdakwa Frans Aisnak kurang lebih 30 meter ke barak dimana anggota Brimob tersebut ditemukan meninggal dunia. Dan ia juga sama sekali tidak pernah melihat terdakwa Pontius Wakom ada di lokasi Base Camp PT. WGU, baik saat kejadian ditemukannya jasad korban maupun sebelumnya serta ia juga tidak mengenal terdakwa Pontius Wakom.

“Saya bekerja sebagai Operator Chainsaw pernah melihat ada orang lain yang datang ke Base Camp PT. WGU pada tanggal 14 April 2020, tetapi saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di Camp. Kemudian saya sempat mendengar ada suara 3 orang berbicara di dalam kamar tidur terdakwa Frans Aisnak. Tetapi saya tidak mengenalinya,” ucap Haris.

Keterangan Freddy Serang sempat dibantah oleh Frans Aisnak. Ia menjelaskan, drinya tinggal di Camp atas seijin pimpinan PT. WGU untuk menunggu rencana ganti rugi hak ulayatnya yang digunakan sebagai Hak Pengusahaan Hutan (HPH).

Aisnak menambahkan bahwa Jakobus Aisnak datang ke Camp PT. WGU selaku pemilik hak ulayat, yang lokasi tanah dan hutannya juga menjadi sasaran daerah konsesi PT. WGU.

Usai pemberian keterangan saksi, selanjutnya sidang ditunda pada Kamis (8/10/2020) mendatang. JPU mengaku akan mengajukan 2 orang saksi lagi, yaitu penyidik polisi dari Polres Teluk Bintuni yang memeriksa kedua terdakwa.

Usai sidang, Warinussy menerangkan, kedua saksi yang akan dihadirkan JPU adalah 2 orang yang memeriksa kliennya.

“Didalam berkas perkara kami Tim Penasihat Hukum ada melihat terdapat 2 anggota Sat Reskrim Polres Teluk Bintuni. Yakni Brigpol Imanuel Arwam yang memeriksa terdakwa Pontius Wakom di Polres Teluk Bintuni pada tanggal 24 Aprl 2020 lalu. Dan juga Bripka Deni Simanjuntak yang telah memeriksa terdakwa Frans Aisnak di Polres Bintuni tanggal 23 April 2020,” tutup Warinussy. (OSB)

Loading...

Baca Juga