oleh

Pembunuhan Oleh ABG, Kasuistik Atau Kerusakan Sistemik?

Pembunuhan Oleh ABG, Kasuistik Atau Kerusakan Sistemik? Oleh: Djumriah Lina Johan, Praktisi Pendidikan, Pemerhati Sosial Ekonomi Islam.

Publik digemparkan oleh pembunuhan bocah usia 6 tahun yang dilakukan ABG berusia 15 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Kamis (5/3). Parahnya, pembunuhan tersebut akibat dari tontonan tak layak sejenis film horror yakni Chucky dan Slenderman. Sebagaimana pernyataan pelaku, ia tidak memiliki dendam pada korban. Hanya ada keinginan untuk membunuh ketika melihat bocah tersebut. Dan ia tidak menyesal telah melakukan pembunuhan.

Mengerikan! Itulah kata yang tepat menggambarkan ulasan demi ulasan berita pembunuhan di atas. Entah apa yang merasuki remaja tersebut? Hingga ia tega menghilangkan nyawa seorang anak tak berdosa.

Melihat upnormalnya berita pembunuhan tersebut. Tak wajar rasanya jika hanya dianggap kasuistik. Sebab, perilaku tersebut bukan dilandasi amarah, dendam, dan hal-hal berbau perasaan lainnya. Sebagaimana motif pembunuhan kasus-kasus lain.

Sejatinya pembunuhan tersebut malah mempertontonkan kerusakan sistemik yang melanda negeri ini. Keretakan keluarga, tontonan tak layak yang menuntun pada kemaksiatan, pendidikan yang salah arah, kemiskinan, kegersangan spiritual, hingga sanksi yang tak memberikan efek jera menjadi faktor penyebab perilaku tak normal. Sehingga dibutuhkan solusi sistemik untuk melindungi generasi agar tidak ada lagi kasus-kasus serupa bahkan yang lebih kejam dari itu.

Islam memiliki jawaban tuntas atas semua polemik yang dihadapi negeri maupun dunia ini. Pertama, penanaman akidah. Penanaman akidah dilakukan sejak kecil oleh kedua orang tua. Di mana orang tua memahamkan kepada anak akan jati dirinya sebagai seorang muslim yang mengenal Tuhannya, malaikat, rasul, kitab, hari kiamat, serta qadha dan qadar. Sehingga tertanam dalam benak anak rasa cinta dan takut karena Allah SWT.

Kedua, menjaga keharmonisan keluarga. Setiap individu utamanya calon orang tua harus mengetahui bahwa tujuan berumah tangga adalah dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Itulah kenapa calon pasangan yang baik agamanya lebih utama. Setelah sebuah keluarga itu terbentuk, maka ridha Allah menjadi tujuannya. Setiap anggota keluarga haruslah taat pada seluruh aturan Allah dan menjauhi laranganNya. Karena kebahagiaan yang dituju bukan hanya di dunia, tapi kehidupan yang abadi kelak yaitu di akhirat yang kekal. Maka dari sini, keharmonisan keluarga pun terjaga.

Keluarga yang bertakwa akan menghasilkan generasi yang berkualitas, bermanfaat untuk masyarakat dan berakhlak baik. Produktif dalam urusan duniawi maupun akhirat. Peran negara sebagai tempat keluarga bernaung juga haruslah adalah negara yang menjalankan aturan dari Sang Khaliq. Karena jika tidak, maka ketahanan keluarga yang dicita-citakan hanyalah sebuah mimpi.

Ketiga, arah pendidikan membentuk syakhsiyah Islam. Tujuan pendidikan Islam ialah membentuk kepribadian Islami (Syakhsiyah Islamiyah) dan membekalinya dengan ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kehidupan. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan anak-anak kaum Muslimin menjadi ulama-ulama yang ahli di bidangnya, baik ilmu keislaman (ijtihad, fiqih, dan lain-lain) maupun ilmu terapan (kedokteran, teknik, kimia, dan lain-lain). Sehingga tak akan didapati remaja muslim yang terperosok sebagaimana realitas saat ini.

Keempat, peran negara sebagai penanggung jawab urusan rakyat. Negara bertanggung jawab agar kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan terpenuhi. Sehingga tak ada alasan kemiskinan maupun himpitan ekonomi yang menyebabkan keretakan keluarga dan berimbas pada anak-anak.

Negara juga wajib mengontrol konten tayangan yang ada di sosial media, internet, buku, majalah, tabloid, koran, komik, novel, film, drama, sinetron, iklan, dan lain sebagainya dari tayangan-tayangan tak layak dan tak mendidik semisal horror maupun pornografi.

Terakhir, adanya sistem sanksi bagi pelaku pembunuhan berupa qisas.

Ketika semua hal tersebut di atas diterapkan mak tak akan ada lagi kasus semisal ini. Dan justru akan lahir pemuda-pemudi tangguh yang salih salihah dambaan umat. Namun, sekali lagi itu semua hanya bisa dilaksanakan secara menyeluruh apabila Islam dijadikan asas dalam kehidupan bernegara. Wallahu a’lam bish shawab.

Loading...