oleh

Lagi, Stok Bahan Baku dan Makanan Pokok Defisit! Opini Arifah Azkia

Lagi, Stok Bahan Baku & Makanan Pokok Defisit! Oleh: Arifah Azkia N.H, Aktivis, Mahasiswi Surabaya.

Menurut laporan yang data yang dipaparkan oleh Presiden Joko Widodo, sederet komoditas kebutuhan pokok masih terjadi defisit di beberapa provinsi. Seperti stok beras ternyata defisit di 7 provinsi. Lalu stok jagung terjadi defisit di 11 provinsi, stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi.

“Stok bawang merah diperkirakan juga defisit di satu provinsi dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi,” tambahnya.
Selain itu stok untuk gula pasir juga diperkirakan defisit di 30 provinsi. Lalu stok bawang putih juga diperkirakan defisit di 31 provinsi.

Mentan Syahrul Limpo, membenarkan apa yang disampaikan Presiden Jokowi bahwa ada sejumlah provinsi yang mengalami defisit stok disejumlah komoditas pangan domestik seperti beras, bawang hingga gula yang ternyata mengalami defisit stok di puluhan provinsi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Hal yang terjadi ini sangat mengancam jika hal tersebut tidak teratasi akan berdampak pada masalah ketahanan nasional. Diperkirakam dari jumlah warga RI ada sekitar 7 juta orang termasuk dalam ancaman daerah rentan rawan pangan.

Adapun yang menjadi indikator kerawanan pangan di antaranya, rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan pangan, persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65%.

Dibalik itu semua ada hal yang sangat menjadi sorotan, terkait masih berjalannya aktivitas impor bahan baku dan makanan pokok. Hal ini terlihat dari impor kebutuhan pokok indonesia lebih besar dibandingkan ekspor. Seperti bawang putih angkanya terus meningkat, karena kita untuk bawang putih masih andalkan impor sepenuhnya. Komoditas lainnya, gula, yang tercatat mengalami defisit perdagangan senilai 345,13 juta dollar AS. Disusul kedelai dengan defisit mencapai 292,81 juta dollar AS dan komoditas jagung defisit sebesar 248,33 juta dollar AS. Ini semua masih mengandalkan impor kedelai karena banyak petani yang enggan menanam kedelai karena kepastian harga yang belum menentu. Bahkan seringkali terjadi kerugian tersendiri bagi para petani dengan harga yang tidak stabil dan efeknya diluaran dijual dengan harga sangat mahal.

Begitupun pula dengam aktivitas impor beras, BPS menyebutkan Indonesia masih mengimpor beras sebanyak 7.912 ton senilai 3,1 juta dollar AS pada tahun-tahun sebelumnya. Dan mengalami nilai defisit neraca 29,19 juta dollar AS. (Dari suara.com)

Terjadinya defisit stok pangan di berbagai provinsi ini terus terjadi dan berulang dari tahun ke tahun. Yang menjadi dampak pula atas krisis pangan masyarakat dan melambungnya harga jual di pasaran.

Hal ini jika tidak segera di atasi dengan bijak akan semakin membuat carut marut perekonomian dan pasar indonesia. Sehingga berpengaruh pula terhadap banyaknya gizi buruk akibat pendistribusian yang tidak merata bahkan defisit bahan pokok yang semakin mengancam. Bahkan kelalaian dalam pengawasan distribusi telah menyebabkan tidak terkendalinya harga karena permainan spekulan/mafia dan bermainnya kartel pangan. Kelalaian ini dibayar dengan penderitaan rakyat akibat krisis pangan bahkan meninggal karena kelaparan. Dan sangat ini pula yang terjadi yaitu adanya defisit bahan baku dan makanan pokok. Yang kejadian ini jika tidak diperhatikan dengan serius dan kebijakan yg tepat, akan mengakibatkan masalah tambal sulam kembali.

Lantas bagaimana kebijakan aturan islam yang telah memelopori Ketahanan pamgan Belasan Abad yang Lalu dan pernah sukses menghadapi krisis. Maka salah satu solusinya adalah Indonesia harus bergiat untuk menanam beraneka ragam pangan lokal yang memang sangat mudah ditanam dan tidak sulit perawatannya di bumi Indonesia. Hal ini belasan abad yang lalu oleh Islam pun disiratkan dalam firman Allah ta’ala,

“Kami menjadikan (di atas muka bumi ini tempat yang sesuai untuk dibuat) ladang-ladang kurma dan anggur. Kami pancarkan banyak mata air (di situ). Tujuannya supaya mereka boleh mendapat rezeki dari hasil tanaman tersebut dan tanam-tanaman lain yang mereka usahakan. Adakah mereka merasa tidak perlu bersyukur?”
(QS: Yasin [36]:34-35)

Dan oleh hadits Rasulullah saw., ”Tidaklah seorang muslim menanam tanaman apa pun atau bertani dengan tumbuhan apa pun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan bernilai sedekah untuknya.” (HR Muslim)

Sebagai negeri dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia, menguatkan ketahanan pangan merupakan elemen penting bagi bagi pondasi negeri ini. Di masa kekhalifahan Islam pun kegiatan pertanian merupakan salah satu pekerjaan yang mulia dan amat digalakkan. Kepentingannya tidak dapat dinafikkan lagi apabila hasil industri ini dikelola dengan baik dan diutamakan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Wallahu a’lam bissowab

Loading...

Baca Juga