oleh

Wartawan Adalah Orang Bodoh Yang Selalu Bertanya

SUARAMERDEKA.ID – Redaktur Pelaksana suaramerdeka.id Amrozi menjelaskan bahwa wartawan ibarat orang bodoh yang selalu bertanya. Menurutnya, wartawan seharusnya selalu menanyakan kembali informasi yang sebenarnya ia sudah tahu (cek dan ricek), meskipun orang lain menganggap wartawan tersebut tidak mengetahui informasi tersebut.

Hal ini disampaikan pada kegiatan Bimbingan Teknik Penulisan Artikel Online yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Kelautan, Perikanan, Teknologi Informatikan dan Komunikasi (LPPPTK KPTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Makassar.

Lebih lanjut disampaikan, wartawan tidak boleh bersikap subjektif dalam melihat suatu peristiwa. Merasa sudah tahu persis sebuah peristiwa, tanpa memastikan kebenaran peristiwa tersebut kepada narasumber yang berkompeten. Mengedepankan cek dan ricek adalah unsur dasar kehati-hatian agar peristiwa yang diberitakan benar adanya. Pertanyaan sepele yang terlihat bodoh oleh orang lain pun harus berani diutarakan, demi objektifitas berita yang disajikan.

Baca Juga :  Universitas Nasional Gelar Diskusi Pemilu Serentak dan People Power
“Meski sudah tahu ada sebuah peristiwa, kita harus memastikan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi. Tidak seperti yang kita sangka, karena itu opini kita. Kosongkan kepala kita dari asumsi kita, seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Pastikan bahwa terjadinya peristiwa yang kita ketahui tersebut adalah benar seperti yang kita dengar dari orang. Makanya saya mengistilahkannya dengan wartawan adalah orang bodoh yang selalu bertanya. Kalau sudah bodoh kemudian tidak mau bertanya ya gimana coba,” kata Amrozi, Minggu (1/12/2019).
Wartawan Adalah Orang Bodoh Yang Selalu Bertanya
Peserta bimtek LPPPTK KPTK

Selain itu, ia mengingatkan, dalam membuat berita wartawan harus mengikuti kode etik jurnalistik. Hal ini untuk menjamin kemerdekaan pers yang bertanggungjawab dan memenuhi hak publik memperoleh informasi yang benar. Wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.

Baca Juga :  Bamus Betawi Hadirkan Pagelaran Lagu-Lagu Ismail Marzuki

Amrozi juga menegaskan bahwa setiap berita harus memenuhi unsur berita, yakni 5W 1H. Keenam unsur ini mutlak harus ada dalam sebuah berita. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka berita tersebut dapat dikategorikan sebagai berita yang berpotensi hoaks.

“Ketika membuat berita, pastikan 5W 1H (Who, What, Where, When, Why dan How-red) sudah dimasukkan. Agar berita yang disajikan tidak tergolong dalam berita hoaks,” tutur Amrozi. (Mila/Arlyta/Putri/Nadrah/RED)

Loading...

Baca Juga