oleh

Saatnya Lembaga Tahfizh Berinovasi Tidak Cukup Hanya Metode Menghafal

Saatnya Lembaga Tahfizh Berinovasi Tidak Cukup Hanya Metode Menghafal. Oleh: Teguh Turwanto, Pimpinan Pesantren Tahfizh Mutiara Darul Quran Kabupaten Bandung Barat.

Berjamurnya lembaga-lembaga, sekolah-sekolah, dan pesantren-pesantren tahfizh AlQuran (menghafal Quran) pada saat ini haruslah diapreasiasi.

Apalagi alhamdulillah pada saat ini di banyak lembaga, sekolah dan pesantren tersebut juga banyak bermunculan berbagai macam metode inovatif agar lebih mudah dan lebih cepat menghafal Quran, berbagai macam metode inovatif agar lebih mudah memutqinkannya supaya tidak mudah lupa, dan berbagai macam metode inovatif agar lebih mudah membacanya dengan tartil.

Tapi kemudian berhenti dalam inovasi-inovasi tersebut tidaklah cukup, perlu inovasi-inovasi selanjutnya yaitu bagaimana agar AlQuran lebih mudah dipahami tafsirnya dengan baik dan mutqin serta lebih mudah ditadabburi (dihayati). Karena masih banyak kaum muslimin yang kesulitan memahami dan menghayatinya dengan baik.

Padahal AlQuran tidak hanya sekedar dibaca dan dihafalkan, tapi juga dipahami dengan baik dan ditadabburi (dihayati) sehingga mudah diamalkan.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Quran, bacaan kamu dibandingkan bacaan mereka sungguh tidak ada apa-apanya, demikian shalat dan puasa kamu dibandingkan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Quran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud, Bukhari & Muslim).

Baca Juga :  Bagaimana Cara Menghadirkan Allah Dalam Mendidik Anak

Allah Ta’ala berfirman
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(QS Muhammad: 24).

Imam Ibnul-Qayim rahimahullah berkata: “(Al-Quran diturunkan) bukan untuk dibaca tanpa memahami dan menghayati (tadabbur) sebab Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shaad: 29)

…Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata: “Al-Quran turun (kedunia) untuk di-tadabburi (dihayati maknanya) dan diamalkan”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ

Baca Juga :  Andai Fungsi Polisi 100 Persen Kamtibmas. Opini Suta Widhya

“Akan keluar manusia dari arah Timur dan membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya” (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullan menjelaskan, maksud bacaan Al Qur’an tidak melewati kerongkogan adalah tidak diangkat kepada Allah, tidak ada nilainya di sisi Allah. Jika kerongkongan saja tidak terlewati, maka tentu ia tidak akan sampai ke hati.

Memahami AlQuran dengan baik dan mutqin tafsirnya 30 juz serta mentadabburi (menghayati)nya bukanlah hal yang mudah. Butuh latihan, butuh pembiasaan, dan butuh metode yang inovatif agar AlQuran lebih mudah dipahami, lebih mudah dimutqinkan tafsirnya dan lebih mudah ditadabburi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Wallahu a’lam bisshowab

Loading...

Baca Juga