SUARAMERDEKA.ID – Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Kukuh Priyono, menilai rekonsiliasi para petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai sebuah hikmah dan teladan penting dalam menjaga kerukunan jam’iyyah. Jakarta, Kamis, (25/12/2025).
Ia mengaku bersyukur atas tercapainya titik temu setelah beberapa bulan terakhir PBNU diwarnai dinamika dan kesalahpahaman yang sempat mencuat ke ruang publik.
Sebagai mahasiswa UNUSIA yang lahir dan tumbuh dari rahim organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Kukuh memandang peristiwa tersebut sebagai pelajaran berharga bahwa perbedaan pandangan merupakan keniscayaan. Namun demikian, persatuan dan kerukunan harus tetap menjadi tujuan utama seluruh warga NU.
Ia mengibaratkan warga NU, termasuk mahasiswa dan kader muda, sebagai “perahu-perahu kecil” yang ikut mengarungi bahtera besar NU. Oleh karena itu, menurutnya, seluruh elemen memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan dan keutuhan organisasi.
“Ketika para kiai sepuh duduk bersama, membuka ruang dialog, dan menyatukan kembali pandangan, di situlah kami sebagai generasi muda belajar tentang makna kebijaksanaan, keikhlasan, dan tanggung jawab jam’iyyah,” Ujar Kukuh, Saat dirinya mengkonfirmasi awakmedia via sambungan telepon.
Menurutnya, dinamika yang sempat memanas justru menghadirkan hikmah besar berupa momentum silaturahmi para ulama sepuh. Hal ini menjadi pengingat bahwa pelajaran berharga tidak hanya hadir melalui hari-hari besar keagamaan, tetapi juga melalui peristiwa pertemuan yang sarat makna dan mengajarkan pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan.
Kukuh berharap, tradisi dialog dan pertemuan seperti ini tidak hanya dilakukan ketika terjadi persoalan, melainkan terus dirawat sebagai budaya organisasi. Dengan demikian, ukhuwah dapat semakin diperkuat, potensi kesalahpahaman dapat dicegah, dan marwah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang besar tetap terjaga.
“Sebagai bagian kecil dari NU, kami sadar tidak berada di pucuk kepemimpinan. Namun dari posisi itulah kami merasa berkewajiban untuk ikut menjaga kerukunan, menahan diri dari memperkeruh suasana, serta meneladani sikap para kiai dalam menyikapi perbedaan dengan penuh kebijaksanaan,” Tambahnya.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar Nahdlatul Ulama senantiasa diberi kekuatan dan keberkahan dalam menjalankan peran keumatan dan kebangsaan, serta tetap menjadi penyangga utama Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. (RED)






