2020 Ramadhan tanpa Corona Bukan Utopia
Oleh: Rahmatin Munazir (Aktivis Dakwah Kampus)
Ramadhan tiba jadi kabar gembira, bulan mulia penuh cerita yang disambut ceria seluruh manusia Muslim di dunia, sebagai tamu istimewa yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Kita diminta untuk mempersiapkan pelayanan terbaik untuknya walau tak sesempurna seperti yang terkira, tetapi tuntutan Syari’ah dari Sang Pencipta buat kita sadar dan semangatkan usaha.
Saatnya penuhi seruan-Nya, sambut Ramadhan wahai perindunya, yang berharap rasakan saat-saat yang indah penuh cinta, yang teriba bilamana ditinggalkannya. Saat ini berubah cara penyambutannya yakni dibersamai dengan parahnya wabah virus Corona.
Sebabkan terhenti segala kebersamaan kita, dari yang dulu bisa berkumpul dengan keluarga, sanak saudara dan sahabat seluruhnya yang dicinta, menikmati ibadah yang memang beda dari biasanya, saat melakukan sahur bersama untuk puasa hingga lapar dahaga dibuka bersama, kini semua itu tinggal harapan yang dicita, sebab terhalang Corona yang merupakan makhluk Allah yang luar biasa, virus mematikan banyak manusia, bermula hadir dari Wuhan, China hingga mewabah mendunia akibat kesalahan manusia.
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda :
لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا
“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah 4019)
Penyebaran wabah virus ini menggelisahkan jiwa, hingga pemerintah larang kita bertatap muka dengan orang lain bahkan orang terdekat kita supaya putus rantainya. Dengan banyaknya perubahan kebijakan mereka yang belum pas penerapan nya, tak kunjung bisa menghapuskan wabah dimanapun negaranya. Begitu pun fatwa Ulama menyatakan larangan perkumpulan sementara waktu yang berkaitan dengan shalat berjamaah dan juga dakwah, hingga shalat tarawih berjamaah di bulan puasa tinggal cita-cita.
Meskipun demikian adanya, tak surut semangat kita menghidupkan Ramadhan dengan tetap jalankan perintah Allah yang sudah disyari’atkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah rasul-Nya. Kita tetap bisa melakukan shalat, zakat, puasa, dan beramal shaleh lainnya.
Hadirnya wabah bukanlah bencana. Setelah direnungi sekian lama, banyak sekali pesan Allah yang sadarkan kita pernah mengabaikan-Nya. Dan kini waktunya bersegera menuju ampunan-Nya, ganti habits atau kebiasaan kita, terapkan syari’ah secara kaffah. Panjatkan do’a pada Allah agar dunia ini bersih dari wabah hingga Covid-19 tinggal sejarah. Jadikan semua kisah penuh ibrah dan jalani Ramadhan seperti biasa yang penuh berkah dan pastinya akan terasa indah dalam kesatuan aqidah.
YAKINLAH SEMUA PENYAKIT ADA OBATNYA, IN SYAA ALLAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“Sesungguhnya tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya pula. Ada orang yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad no. 4236, shahih dalam Silsilah ash-Shahihah no. 518)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata :
مَا نَزَلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ.
“Tidaklah sebuah bencana menimpa kecuali disebabkan karena dosa. Dan bencana tersebut tidak akan dihilangkan kecuali dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, 87)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. Ay-Syura: 30)
Semoga Ramadhan tahun ini bebas wabah dan terus berdo’a agar utopia akan hilangnya Corona musnah. Sadar corona sadar syari’ah.










