Bunuh Diri pada Anak: Buah Pahit Pendidikan yang Menyingkirkan Tuhan
Oleh Rati Suharjo
Pemerhati Kebijakan Publik
Lonjakan kasus bunuh diri pada anak kini menjadi tragedi kemanusiaan yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua tertinggi pada kelompok usia 10–24 tahun. Di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, tekanan akademik, perundungan (bullying), hingga krisis eksistensial menjadi faktor utama yang mendorong anak untuk mengakhiri hidupnya.
Fenomena di Indonesia: Alarm Serius bagi Kita Semua
Fenomena serupa kini juga terjadi di Indonesia—negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Ironisnya, angka bunuh diri di kalangan anak dan remaja justru terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan dan UNICEF tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 50% anak di Indonesia mengalami stres berat, dan 20% di antaranya memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Hanya dalam sepekan terakhir, dua kasus dugaan bunuh diri anak terjadi di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Kasus pertama menimpa MAA (10 tahun), siswa kelas V SD di Cianjur, yang ditemukan meninggal pada Rabu (22/10/2025) (Kompas.com, 31/10/2025). Kasus lain menimpa seorang siswi SMP di Sukabumi berusia 14 tahun, yang diduga mengakhiri hidup akibat kekerasan verbal dari teman-temannya.
Tidak berhenti di situ, dua remaja SMP di Sawahlunto, Sumatera Barat, juga melakukan hal serupa. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Adi Leksono, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 25 anak di Indonesia meninggal akibat dugaan perundungan (Kumparan.com, 5/11/2025). Angka ini menjadi alarm keras bahwa ada yang salah dalam cara bangsa ini mendidik dan membentuk generasi mudanya.
Akar Masalah: Rapuhnya Akidah di Tengah Sistem Sekuler
Memang, faktor-faktor pemicu bunuh diri seperti kekerasan, tekanan akademik, dan perundungan tidak bisa diabaikan. Namun, akar paling dalam dari fenomena ini adalah rapuhnya akidah dan lemahnya fondasi keimanan anak-anak kita.
Sistem kehidupan yang memisahkan agama dari seluruh aspek kehidupan—termasuk pendidikan—telah menciptakan generasi yang kehilangan makna hidup. Mereka tidak lagi memahami untuk apa hidup dijalani, dari mana asalnya, dan ke mana akan kembali. Dalam pandangan sekuler, kematian sering dipahami sebagai “jalan keluar dari penderitaan”. Padahal dalam Islam, kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju alam barzakh.
Pemahaman yang keliru tentang hakikat hidup dan mati inilah yang membuat sebagian anak merasa tidak ada harapan, seolah hidup tidak berarti. Padahal, Allah Swt menegaskan dalam QS. Maryam [19]: 93–95 bahwa setiap manusia akan datang menghadap-Nya sendirian untuk mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya di dunia.
Krisis Pendidikan yang Menyingkirkan Tuhan
Sayangnya, sistem pendidikan nasional saat ini lebih menekankan prestasi akademik dan pencapaian material ketimbang pembentukan karakter berbasis iman. Pendidikan agama dianggap hanya urusan individu, bukan pondasi kehidupan berbangsa. Akibatnya, ilmu agama hanya diajarkan sebatas ritual, bukan sebagai ideologi kehidupan.
Kurikulum yang ada nyaris tidak menyentuh aspek keimanan secara komprehensif. Anak tidak diajarkan untuk memahami halal-haram dalam setiap tindakan, atau untuk memandang dunia sebagai ujian menuju kehidupan akhirat. Ketika agama diabaikan, anak-anak tumbuh dengan pemikiran yang rapuh—mudah stres, putus asa, dan kehilangan arah hidup.
Solusi: Kembalikan Tuhan ke Pusat Pendidikan
Maka, solusinya bukan sekadar menambah jam pelajaran agama atau memperbanyak layanan konseling. Solusi mendasar adalah membangun sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam secara utuh.
Dalam pendidikan Islam, setiap anak dididik dengan pemahaman bahwa:
Hidup berasal dari Allah Swt.dan dipahamkan bahwa hidup untuk beribadah kepada-Nya. Selain itu kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang kekal.
Dengan akidah yang kuat, anak akan memiliki daya tahan mental dan spiritual yang tinggi dalam menghadapi tekanan hidup—baik berupa masalah keluarga, tuntutan ekonomi, maupun perundungan sosial.
Sistem pendidikan Islam yang berlandaskan wahyu sebagaimana diterapkan dalam sistem khilafah pada masa kejayaan peradaban Islam tidak hanya melahirkan manusia berilmu, tetapi juga berkepribadian mulia, berpikir lurus, dan berjiwa tenang karena hidupnya diatur oleh hukum Allah SWT.
Tragedi bunuh diri pada anak adalah buah pahit dari sistem pendidikan yang menyingkirkan Tuhan dari kehidupan. Jika akar masalahnya adalah lemahnya iman, maka solusinya harus dimulai dari mengembalikan Allah SWT ke pusat kehidupan dan pendidikan.
Hanya dengan pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, kita dapat mencetak generasi yang kuat, berjiwa tangguh, dan memahami makna sejati kehidupan.
Wallahu a’lam bish-shawab.






