oleh

Jurus Pemecah Ombak Ala Nikita Mirzani

Jurus Pemecah Ombak Ala Nikita Mirzani. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso.

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Kedatangan kembali HRS ke tanah air tidak bisa dipungkiri telah menjadi berita besar di media, percakapan di media sosial, dan luar biasa besarnya sambutan publik di lapangan. Begitu antusias, dan euphorianya masyarakat hingga lupa akan aturan protokol kesehatan di tengah pandemi yang menerpa.

Ya boleh dibilang peristiwa ini akibat macetnya saluran-saluran aspirasi rakyat karena hukum dijadikan sebagai alat kekuasaan, maka saluran aspirasi yang macet itupun mereka tumpahkan disosok-sosok alternatif. Karena selama ini berlangsung komunikasi politik yang buruk antara pemerintah dan rakyat.

Arus masa sebanyak itu hadir dengan alasan emosional; kerinduan akan sosok pemimpin yang bisa dijadikan alternatif, karena pemimpin-pemimpin sebelumnya sangat mengecewakan mereka. Intinya, mereka tidak punya figur pemimpin selama ini. Jadi membludaknya massa disertai pengharapan besar akan hadirnya sosok pembaharu bangsa.

Membludaknya massa membuktikan sekali lagi bahwa massa Islam itu sangatlah besar. Jumlah yang konon mayoritas ini begitu ditakuti sekaligus diinginkan suaranya demi meraih kekuasaan. Ibarat ombak besar di lautan, apapun yang ada di depannya pasti diterjang dan diseret gelombang kecuali jika ia sebuah batu karang yang kokoh, dan sudah ada sebelum ombak itu tiba. Ini isyarat alam bagi yang mau berpikir.

Jika arus kebangkitan Islam dalam 212 dan sejumlah reuninya, serta dalam penyambutan HRS diibaratkan gelombang besar di samudera, maka fenomena tersebut sepertinya membuat galau serta mencemaskan terutama the ruling party, atau partai penguasa dan aliansinya.

Maka untuk melemahkan power kebangkitan massa Islam (jika boleh dikatakan kebangkitan), dilepaslah para pemecah gelombang baik personal maupun metode. Ini mengulang sejarah lama, mengikuti langkah Snouck Hurgronje yang terkenal dengan devide et impera nya. Snouck yang seorang orentalis Barat saat itu konon juga dianggap ulama pada jamannya.

Cara untuk memecah gelombang besar tersebut bukan dengan memunculkan tokoh politis yang sudah dikenal yang juga diharapkan menjadi figur pemimpin selanjutnya, justru pemikiran soal personal itu jatuh pada sosok artis fenomenal yang suka keributan yaitu Nikita Mirzani (NM).

Dan terbukti, cukup dengan komentar singkat NM soal “tukang obat”, fokus dan informasi yang mengalir menjadi pecah. Banyak pengikut HRS yang geram dan marah HRS dikatain mantan tukang obat. Hingga memicu perseteruan antara ustadz Maher (yang sama sekali bukan representasi umat Islam). Response besar justru dari cluster Pro HRS itu sendiri yang kebakaran jenggot dan malah membuat komentar NM jadi viral. Apa yang dilakukan oleh seorang Nikita Mirzani melalui komentarnya, ternyata telah berhasil “MEMECAH OMBAK” dari besarnya narasi tentang HRS. Lewat NM, kubu sakit hati, pembenci dan pendendam mendapatkan salurannya. Dan NM menuai banyak sekali dukungan sekaligus hujatan.

Rakyat terus diadudomba kayak sedang ada perang antara kebaikan dan kebatilan. Dulu dimasa kampanye dengan jargon “Orang Baik Pilih Orang Baik.” Lalu dengan jargon “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Lalu yang terjadi setelah kepulangan HRS, massa NU berusaha dibenturkan dengan massa Islam konservatif yang sering oleh kubu ngaNU dijuluki sebagai Kadrun (kadal gurun). Dan tidak cukup sampai di situ, yang terbaru dimunculkan adalah sosok Nikita Mirzani. Lalu serta merta muncul caci maki, dan borok-borok aib masa lalu diuar ke publik. Siapa yang senang dan yang menang? Yang menang dan senang sepertinya cuma yang batil diantara yang berkonflik; yakni media. Media yang pasti menangguk banyak keuntungan dari perseteruan ini.

Media online itu ya yang karena begitu rakusnya sama duit, hobby banget bikin orang bertengkar soal-soal ngga perlu. Apa kurang masalah-masalah besar yang lebih urgen yang dihadapi republik ini? Masih mau terus-terusan niat mengadudomba orang-orang yang berbeda pandangan?

Di tengah perseteruan itu tetiba menyeruak kabar, Panglima TNI nongol memberi peringatan keras ke publik. Kata Panglima TNI: “Siapa pun yang ganggu persatuan dan kesatuan NKRI berhadapan dengan TNI”. Peringatan itu secara tersirat bisa diartikan sebagai “ancaman.” Sebenarnya tak pantas panglima TNI melontarkan ucapan arogan seperti itu, jika memang ini negara demokrasi. Lagian rakyat juga tak ingin mendengar ucapan panglima, yang ingin didengar rakyat itu ucapan kepala negara.

Hal-hal remeh-temeh begitu disadari atau tidak membuat publik jadi terlalu sibuk gaduh dan energinya tersedot pada persoalan-persoalan hilir, tapi masalah utama bangsa terabaikan dan tidak tertangani dengan baik. Banyak ironi dan paradoksial di depan mata namun tidak ada kesadaran untuk mengurainya. Semakin kita gaduh, akan semakin mengaburkan isu-isu penting yang lebih besar lainnya; soal gagalnya pemerintah menghadapi pandemi (covid19) hingga muncul hestek #IndonesiaTerserah, soal Bansos, utang-utang luar negeri yang baru, bail out BPJS, Perppu penanggulangan COVID yang diselewengkan, Omnibus Law, isu pembakaran hutan Papua yang hendak dijadikan lahan perkebunan sawit yang baru; 100 ribu untuk 1 hektar lahan? Juga issue 11000 TKA yang kembali didatangkan ke Indonesia, dan masih banyak lagi.

Menutup opini pendek warung kopi tentang Jurus Memecah Ombak Ala NikMir, Gus Baha pernah bilang; “jika dua orang seagama berebut kebenaran tafsir dan bunuh-bunuhan. Maka si pembunuh masuk neraka. Dan yang terbunuh juga masuk neraka”. Hah? Bukannya dia korban? “Tidak. Dia bukan korban. Tetapi dia juga berniat membunuh walau akhirnya terbunuh”.

Loading...

Baca Juga