oleh

The Absentee of Lord. Opini Malika Dwi Ana

The Absentee of Lord. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Meski sektor pertanian adalah yang melesat saat yang lain drop, penggusuran paksa petani jalan terus. Ironis.

Menanam dan merawat itu ibarat menanam harapan, harapan bahwa kelak akan memanen apa yang telah ditanam. Seharusnya, biarkan petani memanennya terlebih dulu. Disitu bukan saja ada nilai uangnya tapi ada keringat yang menetes, air mata, darah, dan waktu yang dikorbankan untuk itu.

Fenomena-fenomena begini diistilahkan dengan The Absentee of Lord yang jelas terpampang nyata.

Tuan tanah yang tidak berpijak pada tanah airnya sendiri. Tanah Air, misalnya, tinggal airnya, tanahnya dikapling entah oleh siapa. Konon 74% tanah di Bumi Pertiwi dikuasai 2% penduduk non-pri. Bahkan, sebagian airnya pun telah dikemas oleh Danone, Perancis, kemudian dijual kepada pemilik negeri. What an ironically! Sampai air saja beli, iya beli airnya sendiri. Tanahnya sendiri disuruh sewa. Hasil tambang? Halah embuh jangan tanyakan…

Sesama anak bangsa ini dibuat gaduh pada masalah remeh-temeh, berebut remah-remah, berebut benar, seperti mainan politik identitas, sentimen SARA yang sepertinya sengaja dipanaskan terus-menerus, dan seterusnya, dan seterusnya sehingga terlalu sibuk dan energinya tergiring, tersedot pada persoalan-persoalan hilir, tapi masalah utama bangsa terabaikan alias tidak tertangani dengan baik.

Banyak ironi dan paradoksial di depan mata namun tidak ada kesadaran untuk mengurainya, jangankan sadar mengurai, sadar bahwa dirinya tidak berpijak pada tanah airnya saja tidak. Sudah kadung merasa nyaman dibuai angin sorga tentang ekonomi meroket, mungkin.

Faktanya, negeri agraris kok impor sembako? Petani lagi panen raya kok malah impor beras? Gula tebu melimpah di gudang tapi kok ya masih impor. Dan masih banyak lagi bila disebut satu persatu.

Saya benci pikiran saya; “Palingan jika para penguasa ngga main makelaran gitu gak iso sempakan paling…mbuh!”

Loading...

Baca Juga