Dibalik Kedatangan TKA China ke Indonesia. Oleh: Sri Ariyati, Pemerhati Umat.
Sebanyak 500 TKA China dikabarkan akan masuk di wilayah Sulawesi Tenggara, 5 April 2020. Kedatangan mereka menuai sorotan dari mayoritas anggota DPRD Sulawesi Tenggara dan anggota DPD RI.
Anggota DPD-RI Dapil Sultra, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan menegaskan, menolak kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA). Apalagi, kedatangan mereka rencananya mulai pekan ini secara bertahap.
“Saat ini, pemerintah kita harusnya fokus penanganan pandemi Covid-19, abaikan yang bisa menimbulkan polemik,” ujar Rabia, dikutip dari Liputan6.com, Minggu (3/5/2020).
Disaat rakyat di PHK perusahaan tempat bekerja. Penguasa undang TKA China untuk bekerja di Indonesia. Ada apa?. Karena ada politik balas jasa Indonesia kepada China. Serta bukti penguasa ogah mengurusi hajad hidup rakyatnya sendiri.
Bagai tersayat-sayat sembilu. Hati rakyat perih memar berdarah kembali. Usai merasakan kondisi pilu yang sedang terjadi. Bahwa musim pandemi bukan main-main karena berurusan dengan nyawa orang banyak.
Negara yang diharapkan menjadi pembela dan perjaga. Malah bermesra dengan asing china. Sementara nasib rakyat terlunta-lunta, usai di PHK. Negara melakukan PSBB karena pamdemi Covid-19 yang sedang melanda negeri.
Selain itu, rakyat juga menyayangkan sikap perusahaan yang tega mempekerjakan TKA China karena enggan memberikan bantuan kepada warga di Bupati Konewa. Wahai pengusa beri hamba makan. Agar kami tak mati pelan-pelan.
Beginilah seutuhnya wajah buruk sistem pemerintahan demokrasi. Tak ada istilahnya kawan sejati yang ada hanyalah kepentingan sejati. Atas nama kepentingan nyawa rakyat bukan lagi menjadi hal penting untuk menjadi pertimbangan.
Seharusnya negara memberikan bantuan baik dari segi fasilitas kesehatan dan bantuan kehidupan sehari-hari. Jika memang menseriusi mengurusi urusan rakyat ini.
Cara Islam dalam Menangangi Masa Kritis
Dalam Islam, kepemimpinan dinilai sebagai amanah berat yang berkonsekuensi surga dan neraka. Dia wajib menjadi pengurus dan penjaga umat.
Seorang pemimpin pun dipandang seperti penggembala. Layaknya gembala, dia akan memelihara dan melindungi seluruh rakyat yang menjadi gembalaannya. Memperhatikan kebutuhannya, menjaga dari semua hal yang membahayakannya, dan menjamin kesejahteraannya hingga bisa tumbuh dan berkembang biak sebagaimana yang diharapkan.
Inilah realitas sistem khilafah yang pernah mewujud belasan abad lamanya. Sistem yang tegak di atas landasan keimanan sangat berbeda jauh dengan sistem yang tegak di atas landasan kemanfaatan segelintir orang.
Sistem Islam, betul-betul menempatkan amanah kepemimpinan selaras dengan misi penciptaan manusia dan alam semesta. Yakni, mewujudkan rahmat bagi seluruh alam, tanpa batas imajiner bernama negara bangsa.
Dan misi ini terefleksi dalam semua aturan hidup yang diterapkan, termasuk sistem ekonomi yang kukuh dan menyejahterakan.
Sistem ekonomi Islam akan membuat negara punya otoritas terhadap berbagai sumber kekayaan untuk mengurus dan membahagiakan rakyatnya. Di antaranya menerapkan ketetapan Allah swt bahwa kekayaan alam yang melimpah adalah milik umat yang wajib dikelola oleh negara untuk dikembalikan manfaatnya kepada umat.
Bayangkan jika seluruh kekayaan alam yang ada di negeri ini dan negeri Islam lainnya diatur dengan syariat, maka umat Islam akan menjadi negara yang kuat, mandiri dan memiliki ketahanan secara politik dan ekonomi. Bukan seperti sekarang, negara malah memberikannya kepada asing.
Dengan demikian, negara akan dengan mudah mewujudkan layanan kebutuhan dasar baik yang bersifat individual dan publik bagi rakyatnya, secara swadaya tanpa bergantung sedikitpun pada negara lain. Bahkan negara lainlah yang bergantung kepada negara khilafah.
Sehingga saat negara dilanda wabah penyakit, sudah terbayang negara akan mampu mengatasinya dengan kebijakan tepat dan komprehensif. Lockdown akan mudah diterapkan sebagai bagian dari pelaksanaan syariat, tanpa khawatir penolakan, tanpa halangan egoisme kelokalan dan tanpa khawatir kekurangan banyak hal.
Rakyat pun akan taat karena paham kepentingan dan merasa tenteram karena semua kebutuhannya ada dalam jaminan negara. Sementara tenaga medis akan bekerja dengan tenang karena didukung segala fasilitas yang dibutuhkan dan insentif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan.
Bahkan riset pun memungkinkan dengan cepat dilakukan. Hingga ditemukan obat yang tepat dan wabah pun dalam waktu cepat bisa ditaklukkan.
Inilah yang pernah terjadi di masa saat sistem Khilafah ditegakkan. Beberapa wabah yang terjadi bisa diatasi karena adanya peran aktif dan serius dari negara, sekaligus didukung oleh rakyat yang mentaati semua arahan-arahannya.
Sehingga Khilafah yang kekuasaannya menganut prinsip sentralisasi menjadi sebuah otoritas yang terbukti kredibel sekaligus kapabel untuk menyelesaikan semua persoalan. Hingga umat Islam pun mampu keluar dari berbagai ujian yang menimpanya dengan penanganan yang cepat dan tepat.
Wajar jika saat itu Khilafah selalu menjadi tumpuan negara-negara lain. Sekaligus mampu tampil sebagai teladan dan menjadi pemimpin peradaban yang menebar kebaikan.
Termasuk ketika mereka menghadapi bencana seperti yang menimpa Irlandia. Saat itu, Khilafah memberi bantuan yang memberi kesan abadi pada rakyat Irlandia, hingga simbol Khilafah mereka sertakan dalam benderanya.
Dengan demikian, amat jauh berbeda antara sistem sekuler yang sekarang diterapkan dengan sistem Khilafah ajaran Islam. Wajar jika hari ini, makin banyak orang yang merindukannya.
Wallahu ‘alam bii showwab






