oleh

Maemun: Lebih Mulia Menanam Padi Dari Pada Menanam Masalah di Tubuh Polri

SUARAMERDEKA.ID – Kritik keras kembali disuarakan oleh Maemun, Founder Aktivist Conection, terhadap kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dinilai semakin jauh dari harapan publik.

Dengan bahasa yang lugas namun penuh makna, Maemun bahkan menyarankan agar Kapolri lebih baik menjadi petani ketimbang terus memimpin institusi Polri yang dinilainya kian kehilangan arah.

“Menjadi petani itu mulia. Menanam padi, menumbuhkan kehidupan, memberi makan rakyat. Tapi memimpin Polri hari ini justru seperti menanam badai, memanen kegaduhan, dan menuai kekecewaan,” Ujar Maemun dalam pernyataan tertulisnya, Jakarta, Senin. (26/01/2026).

Diketahui, Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjabat sebagai Kapolri sejak dilantik Presiden Joko Widodo pada 27 Januari 2021. Namun menurut Maemun, semakin panjang masa jabatan tersebut, semakin tebal pula jarak antara Polri dan rasa keadilan masyarakat.

“Institusi sebesar Polri seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan. Tapi yang terlihat hari ini, benteng itu seperti istana pasir di tepi pantai: tampak kokoh dari jauh, namun runtuh dihantam ombak kenyataan,” Kata Maemun dengan nada penuh sindiran.

Ia menilai, di bawah kepemimpinan saat ini, Polri justru lebih sering hadir dalam pusaran kontroversi ketimbang menjadi pelita penegakan hukum. Kasus demi kasus yang melibatkan oknum aparat dinilai tidak pernah benar-benar tuntas hingga ke akar, seolah hanya memotong ranting namun membiarkan batang busuk tetap berdiri.

“Kalau memimpin Polri hanya untuk mengatur upacara dan merapikan seragam, itu terlalu kecil untuk sebuah amanah besar. Negara ini butuh pemimpin yang menanam keadilan, bukan sekadar memanen pencitraan,” Tegasnya.

Selanjutnya, Maemun pun melontarkan pernyataan yang menyentak namun sarat makna.

“Lebih baik Pak Listyo turun ke sawah, mencangkul tanah, menanam padi. Karena dari sawah lahir kehidupan. Tapi dari kepemimpinan Polri hari ini, yang sering lahir justru kegelisahan.” Lanjutnya.

Menurutnya, kritik ini bukanlah bentuk kebencian, melainkan teriakan cinta yang putus asa terhadap sebuah institusi yang seharusnya menjadi kebanggaan rakyat.

“Jika memimpin Polri hanya membuat rakyat semakin jauh dari rasa aman, maka mungkin memang sudah waktunya tongkat komando diletakkan. Sejarah akan lebih memaafkan seorang jenderal yang memilih mundur, daripada seorang pemimpin yang memaksa bertahan di tengah runtuhnya kepercayaan,” Tutup Maemun. (RED).

Loading...