Prank: Bukti Kebobrokan Generasi Milenial. Oleh: Albayyinah Putri ST, Alumni Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta.
Di tengah situasi wabah Covid-19 yang masih belum usai dan masih sangat mengkhawatirkan ini, muncul lelucon-lelucon yang tidak layak dari generasi milenial. Lelucon ini dijadikan sebuah konten yang disebarkan dan ditonton oleh khalayak banyak. Sehingga menjadi viral dan menimbulkan kegaduhan di sekitar masyarakat. Lelucon ini adalah prank. Prank merupakan salah satu konten YouTube yang akhir-akhir ini sering digunakan oleh para YouTubers. Prank yang membuat kekisruhan di tengah masyarakat adalah prank sampah yang dibuat oleh salah satu YouTubers bernama Ferdian Paleka.
Dilansir cnnindonesia.com, Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, Ferdian membuat konten yang membuat warganet marah itu hanya untuk menambah pelanggan (subscriber) sehingga penghasilannya dari YouTube ikut bertambah.
Berawal dari pembagian bungkusan sembako yang dilakukan Ferdian dan kawan-kawannya kepada sejumlah warga di Bandung dan ternyata isi bungkusan tersebut merupakan sampah dan batu bata. Hal ini mengundang kecaman dari berbagai pihak sehingga Ferdian dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik dan terancam pelanggaran UU ITE.
Sebenarnya, konten-konten tidak mendidik yang bisa kita sebut dengan “konten sampah” memang mulai menjamur, terutama di Indonesia. Mirisnya, para pengikut content creator sampah tersebut sangat banyak. Mereka ikut menikmati konten-konten sampah tersebut walaupun mereka tahu bahwa konten tersebut tidak mendidik. Mereka beranggapan bahwa hal ini bagian dari hiburan semata. Bisa dikatakan generasi muda saat ini tidak bisa membedakan mana sebuah lelucon dan mana yang disebut sebagai penghinaan atau penistaan. Menjadikan hinaan dan penistaan sebagai bahan lelucon demi meraih popularitas dan meningkatkan jumlah followers merupakan kebiasaan baru yang terjadi di lingkungan generasi muda sekarang.
Tidak hanya prank sampah, sebelum itu banyak sekali aktivitas prank yang dilakukan para YouTubers atau content creator demi menjadikan kontennya sebuah trending di sosial media. Salah satunya ada prank ojol, prank banci, prank bunuh diri dan yang juga baru terjadi sebelum prank sampah yaitu prank uang 10 juta bagi orang yang mau membatalkan puasa. Sudah sangat jelas, prank merupakan bukti kebobrokan generasi milenial.
Luar biasa memang, demi eksistensi diri memuaskan nafsu belaka rela melakukan “hal-hal sampah” yang sesungguhnya sangat merugikan orang lain. Saat ini memang kita sudah terbiasa disuguhkan konten-konten yang tidak mendidik. Jika kita lihat konten-konten sampah seperti itu, membuat kita tidak berempati dan menganggap itu adalah lelucon biasa. Padahal hal itu jelas sangat merugikan orang lain dan juga menyakiti orang lain.
Konten-konten sampah yang menimbulkan kontroversi lahir akibat perkembangan sistem sekuler-liberal. Yang menganggap kebebasan berekspesi merupakan hak bagi setiap individu. Sehingga generasi muda saat ini hanya fokus terhadap hal-hal yang mereka sukai, bukan hal-hal yang benar sesuai dengan syari’at Islam atau tidak. Demokrasi saat ini menyebabkan tumbuh suburnya content creator sampah ini dan kejadian seperti ini akan terus terjadi dan berulang. Karena tidak adanya sanksi tegas yang membuat efek jera dan juga mencegah kejadian serupa.
Hal ini tidak akan terjadi, apabila sistem yang diterapkan merupakan sistem yang benar, yaitu sistem Islam. Sistem Islam memberikan perhatian khusus kepada setiap generasinya. Islam jelas memahami bahwa penerus generasi atau pembentuk peradaban ke depan merupakan generasi saat ini. Islam mendidik generasi agar berperilaku sesuai dengan syari’at sehingga memiliki kepribadian yang Islami, baik dalam pemikirannya maupun perilakunya.
Dalam Islam, keluarga, masyarakat dan negara memiliki peran penting dalam terwujudnya pembentukan kepribadian Islami dalam setiap generasi. Keluarga memiliki peran penting, karena keluarga merupakan pintu pertama dalam mengenalkan akidah. Sehingga tahu betul siapa Sang Pencipta dan siapa Sang Pengatur yang wajib kita patuhi dan mengetahui bahwa apa-apa yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
Dalam masyarakat pun, standar baik dan buruk adalah Islam. Sehingga generasi tersebut akan tumbuh dengan situasi yang baik dan bersih. Karena masyarakat menjaga dan mengontrol setiap perilaku dan perbuatan yang dilakukan di lingkungan tersebut. Begitu juga negara memiliki peran penting dalam menyediakan sistem pendidikan dan sistem pergaulan yang terkait dengan pertumbuhan generasi tersebut. Karena pendidikan Islam bertujuan untuk menghasilkan berkepribadian Islam. Semua dilakukan berlandaskan undang-undang syari’at bukan berlandaskan pandangan-pandangan Barat yang jelas bertolak belakang dengan Islam.
Fenomena ini membuktikan peran pengemban dakwah juga sangat diperhitungkan dalam membantu memperbaiki perkembangan generasi muda saat ini agar tidak semakin terjerumus pada pemahaman Barat yang berefek buruk pada perilaku masyarakat ke depannya. Sehingga kita harus semakin lantang menyuarakan betapa pentingnya penerapan Islam secara kaffah demi menyelamatkan generasi muda saat ini.






